Perempuan Malam yang Pantas Dibenci

Kafe itu hidup di malam hari.

Lampunya redup, musiknya mengalun pelan, dan orang-orang datang bukan untuk mencari terang—melainkan untuk menyembunyikan sesuatu.

Di atas panggung kecil, Melati berdiri.

Gaunnya sederhana, tapi cukup untuk membuat orang menoleh. Gerakannya tidak berlebihan, tapi tetap menarik. Ia tahu ritme, tahu kapan harus tersenyum, kapan harus menatap.

Ia sudah terlalu lama di dunia ini untuk tidak mengerti cara dilihat.

Di sudut ruangan, seorang laki-laki muda duduk di depan laptop.

Serius. Diam. Tidak tergoda oleh hiruk-pikuk di sekitarnya.

Melati memperhatikannya beberapa kali.

Dan seperti kebiasaannya… ia mendekat.

“Mas… dari tadi serius banget. Kerja apa mikirin masa depan?”

Laki-laki itu kaget. Menoleh cepat, lalu menunduk.

“Kerja…” jawabnya pelan.

Melati tersenyum miring. “Namanya siapa?”

“…Arka.”

“Arka,” ulang Melati pelan. “Cocok. Mukanya juga kayak anak baik-baik.”

Arka tidak menjawab. Tapi telinganya memerah.

Melati tertawa kecil dan pergi.

Baginya, itu hanya sapaan biasa.

Tapi tidak untuk Arka.

Hari-hari berikutnya, Melati sering menyapanya.

Ia juga belakangan tahu bahwa Arka adalah karyawan cafe yang berperan sebagai admin media sosial.

“Mas Arka, aku hari ini jelek nggak nyanyinya?”

“Mas Arka, kamu kalau senyum lebih ganteng loh.”

“Mas Arka, jangan serius terus, nanti cepet tua.”

Ia mengatakan itu dengan ringan, dengan nada bercanda, dengan kebiasaan seorang perempuan panggung yang terbiasa membuat orang merasa dekat.

Ia tidak pernah bermaksud lebih.

Sampai Arka mulai membalas.

Awalnya hanya anggukan.
Lalu senyum kecil.
Lalu suatu malam, ia menyodorkan segelas minuman.

“Ini… buat Mbak Melati.”

Melati mengangkat alis. “Wah, mulai berani ya?”

Arka tersenyum tipis.

Dan sejak saat itu… semuanya tidak lagi sesederhana sebelumnya.

Perasaan yang Tidak Seharusnya Tumbuh

Mereka mulai berbicara.

Lebih lama.
Lebih dalam.
Lebih dari sekadar basa-basi antara penyanyi dan pekerja kafe.

Arka tidak seperti laki-laki lain.

Ia tidak menyentuh.
Tidak menggoda balik secara kasar.
Tidak melihat Melati seperti barang yang bisa dimiliki.

Ia hanya… ada.

Dan itu justru yang membuat Melati lengah.

Ia mulai menunggu Arka datang.

Mulai mencari sosok itu di antara keramaian.
Mulai merasa ada yang kurang jika malam berlalu tanpa obrolan singkat.

Suatu malam, saat kafe mulai sepi, Arka berkata:

“Aku suka kamu, Mbak.”

Sederhana.

Tanpa drama.

Tanpa rayuan.

Melati diam cukup lama.

Ia tahu ini akan datang.

Sejak awal, ia tahu.

Ia bisa saja menghentikan semuanya sejak dulu.

Berhenti menyapa.
Berhenti tersenyum.
Berhenti mendekat.

Tapi ia tidak melakukannya.

Dan malam itu… ia membayar semuanya.

“Kenapa?” tanya Melati pelan.

Arka mengangkat bahu. “Nggak tahu. Mbak Melati… beda.”

Melati tersenyum kecil.

Dalam hati, ia hampir tertawa.

Kalau Arka tahu semuanya… mungkin kata itu tidak akan pernah keluar.

Tapi…

Melati memilih untuk egois.

“Iya,” katanya lirih.
“Aku juga suka kamu.”

Dan sejak saat itu…
hubungan itu benar-benar dimulai.

 Cinta yang Tidak Berada di Kedalaman yang Sama

Hari-hari terasa lebih ringan.

Arka mulai lebih sering menunggu Melati selesai tampil.
Mereka duduk berdua lebih lama.
Berbagi cerita—tentang hidup, tentang hal-hal kecil yang terasa hangat.

Melati mulai melihat dunia dari mata Arka.

Sederhana.
Bersih.
Masih penuh harapan.

“Menurut kamu, perempuan yang baik itu kayak apa?” tanya Melati suatu malam.

Arka berpikir sejenak.

“Yang nggak ribet. Nggak punya masa lalu aneh-aneh. Yang serius kalau sayang.”

Melati mengangguk.

Tersenyum.

Tapi di dalam hatinya… ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Melati tahu dirinya bukan perempuan itu.

Ia tahu betul.

Ia sudah terlalu banyak melewati malam.

Terlalu banyak mengenal jenis-jenis cinta.

Cinta karena butuh.
Cinta karena sepi.
Cinta karena tertipu.

Dan yang paling menakutkan…

cinta yang tulus.

Karena sekarang… ia merasakannya.

Melati tahu, jika Arka berubah—jika suatu hari wajah tampan itu hilang, jika tubuh itu tidak lagi menarik—ia sangat yakin akan masih bisa mencintainya.

Karena yang ia lihat bukan itu.

Tapi apakah Arka bisa melakukan hal yang sama?

Pertanyaan itu tidak pernah ia ucapkan.

Tapi selalu ada.

Diam-diam.

Menggerogoti.

Hal yang Tidak Boleh Diketahui

Malam itu, semua berubah.

Seorang pria datang ke kafe.

Langkahnya tenang, tapi sorot matanya membuat udara terasa berbeda.

Ia langsung menuju panggung.

Menunggu.

Saat Melati turun, pria itu berdiri terlalu dekat.

“Lama nggak ketemu, Mel.”

Melati membeku.

Hanya sesaat.
Tapi cukup untuk membuat Arka melihatnya.

“Masih nyanyi di sini ternyata,” lanjut pria itu, tangannya menyentuh lengan Melati seolah itu haknya.

Melati menarik tangannya pelan.

“Jangan di sini,” bisiknya.

Pria itu tersenyum. “Kamu lupa siapa yang dulu bantu kamu?”

Arka memperhatikan dari jauh.

Wajahnya berubah.

Pria itu menoleh ke arah Arka.

Menatap dari ujung kepala sampai kaki.

“Pacar baru?” tanyanya santai.

Melati langsung menjawab, cepat. “Bukan siapa-siapa.”

Jawaban itu… terlalu cepat.

Terlalu tegas.

Dan langsung menghantam Arka.

Pria itu tertawa kecil.

“Mending jaga diri ya, Mas,” katanya ke Arka.
“Dunia dia… nggak sesederhana yang kamu kira.”

Setelah pria itu pergi, Melati tidak menjelaskan apa-apa.

Ia tidak bisa.

Karena jika ia mulai bicara…

semua akan terbuka.

Tentang bagaimana pria itu dulu membiayai hidupnya saat ia terjatuh.
Tentang bagaimana bantuan itu berubah jadi tuntutan.
Tentang bagaimana ia hampir tidak bisa keluar dari lingkaran itu.

Dan yang paling penting…

tentang bagaimana pria itu tidak pernah benar-benar melepaskannya.

Malam itu, Melati pulang dengan satu kesadaran:

Arka tidak hanya melihatnya lagi.

Arka mulai masuk ke dunianya.

Dan itu… tidak boleh terjadi.

Keesokan harinya, Melati berubah.

Ia kembali menjadi Melati yang ringan.
Yang tertawa dengan siapa saja.
Yang terlihat tidak serius.

Bahkan Melati mencandai laki-laki lainnya seperti yang dia lakukan kepada Arka dulu.

Arka melihat semuanya.

Dan merasa… dipermainkan.

“Aku ini apa buat kamu, Mbak?” tanya Arka, suaranya bergetar.

Melati diam.

“Dulu, kamu loh yang mulai semuanya!”
“Sekarang sikapmu kayak… nggak pernah terjadi apa-apa!”

Melati menatapnya.

Ia ingin jujur.

Tapi ia tidak bisa.

“Ya udah,” katanya dingin.
“Anggap aja aku emang kayak gitu.”

Kalimat itu… seperti bensin di api.

“Aku belum pernah lihat perempuan…” suara Arka berubah tajam,
“…semurahan kamu.”

Sunyi.

“Red flag banget. Jijik, tahu nggak?” lanjutnya.

Dan di dalam hati Melati…

ia berkata pelan:

Iya… memang harusnya begitu.

Tangannya terangkat.

Plak.

Bukan karena marah.

Tapi karena itu satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya tanpa menjelaskan apa pun.

Melati berbalik.

Pergi.

Tanpa melihat ke belakang.

Dan malam itu…

Arka benar-benar membencinya.

Sementara Melati…

akhirnya berhasil melindungi satu-satunya orang
yang tidak boleh ia hancurkan.

Dengan cara menjadi…

perempuan malam yang memang pantas dibenci.

You May Also Like

Leave a Reply