Nafkah 3 Juta

Nayla sedang duduk di teras rumah ketika ia menemukan utas itu.

Bukan sesuatu yang istimewa. Hanya satu kalimat di media sosial:

“Mencari istri yang siap dinafkahi tiga juta.”

Ia membacanya pelan. Sekali, lalu dua kali.

Tiga juta.

Bagi Nayla yang hanya menerima tiga ratus ribu sebagai guru honorer, angka itu terasa lumayan besar.

Ia tidak berpikir panjang. Tidak mencoba menafsirkan kalimat itu lebih dalam. Baginya, yang penting jelas: laki-laki itu punya penghasilan tetap.

Itu sudah membuatnya tenang.

Keputusan yang Tidak Ditanya Ulang

Percakapan mereka berjalan singkat. Tidak terlalu dalam, tapi terasa aman bagi Nayla untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Laki-laki itu jujur. Tidak banyak basa-basi.

“Gaji saya tiga juta,” katanya saat mereka bertemu pertama kali.

Nayla hanya mengangguk.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Tidak tentang bagaimana uang itu akan digunakan.
Tidak tentang seperti apa kehidupan setelah menikah.
Tidak juga tentang dirinya sendiri.

Semuanya terasa berjalan begitu saja.

Didorong oleh keadaan.

Pertanyaan orang-orang.
Keinginan ibunya melihatnya menikah.
Dan perasaan bahwa mungkin ini sudah waktunya.

Akhirnya, Nayla menikah.

Tanpa benar-benar memahami apa yang sedang ia masuki.

Hidup yang Perlahan Menyempit

Rumah itu kecil. Kontrakan sederhana di kota.

Dari tiga juta, delapan ratus ribu langsung habis untuk sewa. Ditambah listrik, kebutuhan lain, sisanya dipegang suaminya.

Setiap hari, Nayla diberi lima puluh ribu.

“Untuk belanja. Masak ya, biar hemat.”

Sejak saat itu, hidup Nayla berubah.

Pagi ke pasar.
Siang memasak.
Sore bersih-bersih.
Malam menunggu.

Tidak ada jeda.

Tidak ada pilihan.

Semua harus dilakukan, karena itu yang seringkali dianggap wajar.

Awalnya, Nayla tidak keberatan.

Ia berpikir, mungkin ini memang bagian dari menjadi istri.

Sampai akhirnya ia mulai merasa lelah.

Bukan hanya fisik.

Tapi juga… kosong.

Ia merasa kehilangan diri sendiri.

Dirinya yang dulu mengajar anak-anak SD.

Nayla yang bisa bercengkerama dengan sahabat dan kerabatnya di desa.

Bahkan kehidupannya yang lebih mudah.

Ada ibunya yang sudah menyiapkan sarapan di pagi hari sebelum ke sawah.

Mencuci piring pun bergantian dengan sang ibu.

Mencuci pakaian hanya seminggu sekali. Karena yang ia urus hanya dirinya sendiri.

Nafkah yang Dipertanyakan

Kehamilan datang di tahun pertama.

Tubuhnya melemah. Sering mual. Kadang tidak kuat berdiri lama.

Tapi rutinitas tidak berubah.

Ia tetap harus ke pasar. Tetap harus memasak.

Suatu malam, Nayla memberanikan diri bicara.

“Aku pengen kerja lagi…”

Suaminya menatap sebentar.

“Kamu hamil.”

Nayla diam.

“Aku sudah kasih nafkah tiga juta.”

Kalimat itu lagi.

Seolah itu cukup untuk menjawab semuanya.

Sejak saat itu, Nayla mulai berpikir.

Kalau ini disebut nafkah… kenapa rasanya aku tidak pernah benar-benar punya apa-apa?

Ia bisa makan, iya.
Bisa hidup, iya.

Tapi untuk dirinya sendiri?

Tidak ada.

Tiga Tahun yang Mengubah Segalanya

Setelah anaknya lahir, hidup Nayla semakin padat.

Waktu habis. Tenaga habis. Bahkan semakin tidak ada ruang untuk dirinya sendiri.

Kewajibannya mengurus rumah tangga pun tidak pernah berkurang.

Bahkan sekarang bertambah dengan anak.

Dan di tengah itu semua, ia mulai merasa satu hal:

Ia tidak ingin hidup seperti ini selamanya.

Di sisa waktu yang ada, biasanya saat anaknya tertidur, Nayla mulai belajar.

Bukan membaca buku biasa.

Tapi mempelajari soal-soal tes CPNS.

Pelan-pelan. Sambil menahan lelah.

Tahun pertama, ia mencoba.

Dan gagal.

Ia belum mampu.

Tahun kedua, ia sebenarnya sudah lebih siap.

Tapi tidak ada formasi yang dekat dari tempat tinggalnya.

Semua di luar kota.

Dan suaminya tidak mengizinkan.

Nayla tidak bisa memaksa.

Akhirnya, ia melewatkan kesempatan itu.

Tahun ketiga, kesempatan itu datang lagi.

Kali ini di kota yang sama.

Dekat dari rumah.

Nayla mencoba lagi.

Dan akhirnya… ia lolos.

Yang Ternyata Tidak Pernah Sesederhana Itu

Hari pertama mengajar, Nayla berdiri di depan kelas dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Ada gugup.

Tapi juga lega.

Seperti menemukan kembali sesuatu yang lama hilang.

Hidupnya berubah.

Ia punya penghasilan sendiri.
Punya aktivitas di luar rumah.
Punya ruang untuk dirinya sendiri.

Tapi ada satu hal yang ia sadari pelan-pelan.

Hidup mereka memang lebih baik sekarang.

Tapi bukan karena tiga juta itu.

Melainkan karena Nayla ikut bekerja.

Biaya bertambah.

Kebutuhan anak.
Pengeluaran lain.

Dan Nayla ikut menanggung.

Seolah itu memang bagian yang tidak perlu dibahas lagi.

Yang Akhirnya Dipahami

Suatu malam, Nayla teringat lagi utas itu.

“Mencari istri yang siap dinafkahi tiga juta.”

Dulu, ia mengira itu tentang diberi.

Sekarang, ia tahu itu tentang menerima.

Menerima keadaan.
Menerima keterbatasan.
Dan tanpa sadar… menerima kehilangan dirinya sendiri.

Nayla menatap cermin.

Perempuan di sana terlihat berbeda.

Lebih lelah, mungkin.

Tapi juga lebih hidup.

Dan sekarang ia benar-benar mengerti:

Yang membuat hidupnya layak…
bukan angka itu.

Bukan janji dari siapapun.

Tapi dirinya sendiri—

yang memilih untuk tidak berhenti,
meski sempat merasa terkurung begitu lama.

You May Also Like

Leave a Reply