Lima Porsi Nasi Goreng

Jam empat pagi, saat sebagian besar orang masih terlelap, Fitri sudah membuka mata.

Bukan karena ia ingin bangun lebih awal, tapi karena suara tangis anaknya yang pecah di tengah gelap. Tangis itu tidak pernah bisa ditunda. Tidak pernah bisa ditawar.

Dengan mata setengah terpejam, Fitri meraih tubuh kecil itu, memeluknya sambil duduk di tepi kasur. Punggungnya terasa pegal, lengannya kaku, tapi ia tetap mengayun perlahan. Sampai tangisan itu mereda.

Belum benar-benar sunyi, anak itu kembali merengek, minta digendong. Fitri berdiri. Menggendong sambil berjalan pelan. Seperti itu setiap hari.

Jam lima lewat sedikit, ia sudah berada di dapur. Anak itu masih menempel di bahunya.

Tangan kanannya mencuci piring kotor semalam. Tangan kirinya menahan tubuh anaknya agar tidak jatuh. Air mengalir, sabun berbuih, piring bersih satu per satu—sementara rambutnya mulai basah oleh keringat.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang menghitung.

Setelah piring, ia beralih ke ember cucian. Baju-baju kotor menumpuk. Ia jongkok di dekat sumur, mengucek satu per satu. Air dingin meresap ke kulit, membuat tangannya kaku.

Ia pernah membayangkan punya mesin cuci.

Tapi suaminya pernah berkata,
“Nyuci tangan lebih bersih. Ibu dulu juga begitu.”

Sejak itu, Fitri tidak pernah membicarakannya lagi.

Jam tujuh pagi, ia mulai memasak.

Sesekali berhenti karena anaknya menarik bajunya. Sesekali mengaduk sambil menggendong. Wajahnya pucat, napasnya pendek, tapi kompor tetap menyala.

Ketika masakan akhirnya matang, suaminya sudah duduk.

“Lama banget,” katanya singkat.

Fitri hanya diam.

Ia menyuapi anaknya lebih dulu. Baru kemudian, saat semuanya selesai, ia makan dengan sisa tenaga yang ada.

Pagi selalu seperti itu.

Dan tidak pernah benar-benar selesai.

Siang yang Tidak Pernah Dianggap

Suaminya, Arman, menjalankan usaha jualan online pakaian.

Kaos dan hoodie lokal.

Kadang sepi. Kadang tiba-tiba ramai.

Jika sedang ramai, rumah mereka berubah seperti gudang kecil. Kardus bertumpuk. Plastik berisik. Lakban berserakan. Empat karyawan datang silih berganti.

Ada yang melipat baju.
Ada yang mencetak resi.
Ada yang packing.
Ada yang mengantar ke ekspedisi.

Hari itu termasuk hari yang ramai.

Sejak pagi, ruang tamu sudah penuh aktivitas. Suara plastik kresek, kardus dibuka-tutup, obrolan ringan, sesekali tawa.

Fitri tetap di dapur.

Ia memasak lebih banyak dari biasanya. Nasi lebih banyak. Lauk lebih banyak.

Karena ia tahu, mereka akan makan.

Dan benar saja.

Menjelang siang, Arman memanggil,
“Fitri, makanannya siap?”

Fitri mengangguk, lalu mulai menyusun piring. Satu per satu.

Untuk suaminya dan empat karyawan.

Mereka makan bersama.

Fitri berdiri sebentar, memastikan semuanya cukup. Lalu kembali ke dapur. Menyendok nasi untuk dirinya sendiri.

Tidak ada yang memanggilnya untuk ikut duduk.

Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah makan.

Dan entah sejak kapan, Fitri tidak lagi menunggu.

Bukan mengemis perhatian.

Hanya saja, Fitri kadang mengharap orang lain juga punya inisiatif terhadap dirinya.

Hal-Hal Kecil yang Terus Menggerus

Fitri tidak pernah menganggap dirinya tidak bekerja.

Ia hanya tidak pernah menyebutnya sebagai pekerjaan.

Baginya, semua yang ia lakukan adalah kewajiban. Bentuk bakti. Cara mencintai.

Tapi perlahan, ada sesuatu yang berubah.

Ada hari ketika Arman berkata,
“Nanti kalau beli motor baru, atas namaku saja ya. Aku yang kerja, capek tiap hari.”

Fitri tersenyum kecil.
Mengangguk.

Bukan hanya sekali, seringkali membeli barang bernilai cukup besar selalu atas nama suaminya, tanpa ingin didebat.

Alasannya sama, “Kan aku yang kerja.” Begitu kata Arman.

Padahal ia ingin bertanya—
Kalau begitu, yang selama ini kulakukan, itu apa?

Ada hari ketika ia ingin membeli es buah seharga sepuluh ribu.

Ia batal.

Karena teringat suara Arman,
“Jajan terus. Boros.”

Ada hari ketika ia mengantar anaknya keluar rumah dalam keadaan perut kosong.

Melihat orang lain makan di warung makan atau di kedai mie ayam.

Ia hanya menelan ludah.

Bukan karena tidak mampu.

Tapi karena merasa tidak berhak.

Fitri mulai mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun:

Bahwa ada pekerjaan yang tidak pernah dianggap kerja.

Dan orang yang mengerjakannya, lama-lama juga ikut tidak dianggap.

Malam yang Menghapus Segalanya

Hari itu pesanan membludak.

Sejak pagi hingga sore, mereka bekerja tanpa henti. Tumpukan hoodie berkurang, digantikan tumpukan kardus siap kirim.

Menjelang magrib, Fitri masih di dapur.

Masakan pagi sudah habis sejak siang.

Ia belum sempat memasak lagi.

Anaknya rewel sejak sore. Ia menenangkannya sambil membereskan rumah. Piring kotor menumpuk lagi. Lantai kembali berantakan.

Tubuhnya lelah. Perutnya kosong.

Ia berpikir akan memasak nanti, setelah semua sedikit tenang.

Tapi sebelum itu terjadi, suara Arman terdengar dari ruang depan.

“Laper nggak?”

Beberapa suara menjawab, “Laper, Mas.”

“Yaudah, pesen nasi goreng aja. Lima porsi.”

Fitri diam di dapur.

Tangannya berhenti di atas wastafel.

Lima porsi.

Ia menghitung dalam hati.

Arman.
Empat karyawan.

Cukup.

Cukup untuk mereka.

Tidak termasuk dirinya.

Tak lama, nasi goreng itu datang.

Aroma bawang dan kecap menyebar ke seluruh rumah. Hangat. Menggoda. Menusuk perutnya yang sejak siang kosong.

Mereka makan di ruang depan.

Tertawa kecil. Mengobrol ringan.

Fitri berdiri di ambang dapur.

“Mas,” panggilnya pelan.

Arman menoleh sekilas.

“Untukku mana?”

Arman mengernyit, seperti baru menyadari sesuatu yang tidak penting.

“Kan kamu bisa masak sendiri,” jawabnya datar.
“Di dapur ada mie instan, kan?”

Sunyi.

Suara sendok beradu piring terdengar jelas.

Fitri tidak menjawab.

Ia hanya berdiri.

Beberapa detik.

Atau mungkin lebih lama.

Lalu berbalik.

Masuk ke dapur.

Yang Tidak Pernah Dihitung

Fitri membuka lemari kecil di sudut dapur.

Benar.

Masih ada mie instan.

Ia mengambil satu bungkus. Menatapnya sebentar.

Tangannya gemetar, entah karena lelah atau karena sesuatu yang lain.

Di luar, suara tawa masih terdengar.

Wadah-wadah nasi goreng itu kosong satu per satu.

Lima porsi.

Habis.

Tanpa sisa.

Tanpa nama dirinya di dalamnya.

Fitri menyalakan kompor.

Air mulai dipanaskan.

Ia berdiri diam di depan panci kecil itu.

Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama—

ia tidak merasa sedang menjalankan kewajiban.

Ia merasa… hilang.

Semua yang ia lakukan sejak pagi—

menggendong anak, mencuci, memasak, membersihkan, menyiapkan, melayani—

tiba-tiba terasa seperti tidak pernah ada.

Seperti tidak pernah terjadi.

Seperti tidak pernah berarti.

Air mendidih.

Fitri tidak bergerak.

Matanya kosong.

Di kepalanya, hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang—

Kalau semua ini bukan kerja…

Lalu semua yang ku lakukan ini apa?

Di ruang depan, Arman tertawa.

“Besok lanjut lagi ya. Orderan masih banyak.”

Fitri menatap uap panas yang naik dari panci.

Hangat.

Tapi tidak mengenyangkan.

Seperti hidupnya.

Ia mematikan kompor.

Mie itu tidak jadi dimasak.

Malam itu, Fitri tidak makan.

Dan tidak ada satu pun yang menyadarinya.

You May Also Like

Leave a Reply