Kami Netral Saja

Pagi di rumah Bu Fatimah selalu dimulai dengan suara minyak panas yang mendesis pelan. Di atasnya, adonan bakwan—campuran tepung, bumbu halus, irisan kubis, wortel, dan daun bawang—jatuh satu per satu, lalu mengembang keemasan.

Aromanya gurih. Hangat. Mengundang.

“Budi, sini dulu. Kopinya sudah Ibu buatkan,” panggil Bu Fatimah.

Budi keluar kamar, duduk, lalu menyesap kopi hitamnya perlahan. Di depannya, sepiring bakwan baru saja diangkat dari penggorengan.

Di ruang tengah, Rina duduk di lantai, membujuk anak bungsunya yang rewel. Tangannya masih lembap dan beraroma deterjen, rambutnya diikat seadanya.

“Ibu dulu, waktu kamu kecil, tetap sempat masak begini tiap pagi,” ujar Bu Fatimah, seolah berbicara pada siapa saja. “Ngurus anak itu ya sambil jalan saja.”

Rina tidak menoleh.

Ia hanya mengusap kepala anaknya pelan.

“Di rumahmu, kamu selalu sempat bikin sarapan buat Budi, kan?” Pertanyaan itu ditujukan begitu saja ke Rina.

“Kadang-kadang, Bu,” Budi yang menjawab.

“Kadang-kadang itu berarti tidak setiap hari,” sahut Bu Fatimah cepat. “Laki-laki itu harus dilayani. Kalau tidak, ya nanti cari yang mau melayani.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Tapi Rina menyimpannya.

Seperti banyak hal lain yang tidak pernah ia balas.

Yang Terlihat dari Luar

Rina dan Budi tinggal di kota kecil, sekitar satu jam dari rumah orang tua.

Mereka hanya pulang sesekali. Tapi setiap pulang, selalu ada yang dinilai.

“Suamimu sudah punya usaha,” kata Bu Fatimah suatu siang. “Harusnya kamu bantu. Biar cepat besar.”

Budi memang punya usaha.

Toko online busana muslim yang cukup berkembang. Pekerjaan yang—di mata siapa pun—bisa dibantu oleh seorang istri dari rumah.

“Tapi malah bikin usaha sendiri,” lanjut Bu Fatimah. “Perempuan sekarang banyak tingkah.”

Rina tersenyum kecil.

Seolah-olah itu bukan tentang dirinya.

Yang Tidak Pernah Dilihat

Tidak ada yang tahu bagaimana hari-hari Rina berjalan.

Pagi dimulai dari anak yang bangun menangis. Piring kotor. Cucian baju yang menumpuk. Tubuh yang lelah bahkan sebelum siang.

Budi sibuk dengan usahanya.

Dan uang—sejak dulu selalu menjadi sesuatu yang harus diminta, bukan diberi oleh sang suami.

Sejak awal pernikahan, Rina sudah belajar memahami batas-batas yang tidak pernah dijelaskan.

Tentang uang yang bukan miliknya.
Tentang izin untuk keluar rumah.
Tentang bagaimana ia harus menyesuaikan diri tanpa pernah benar-benar diajak bicara.

Ia pernah mencoba bertanya.

Tapi jawaban yang datang sering kali membuatnya memilih diam.

Jauh sebelum semuanya berubah, Rina sebenarnya sudah punya keinginan sendiri.

Ia lulusan tata boga.

Ia tahu cara membuat kue. Pernah bermimpi punya usaha sendiri. Tapi mimpi itu ia simpan rapi sejak menikah.

Rina juga pernah sebulan bekerja sebagai karyawan toko roti. Namun harus berhenti karena permintaan suami dan komentar mertuanya.

Delapan tahun pertama, ia mencoba menjadi istri yang baik.

Mengikuti. Menyesuaikan. Mengalah.

Sampai akhirnya ia menyadari—

ia mulai kehilangan dirinya sendiri.

Setahun yang lalu, semuanya benar-benar berubah.

Bukan karena kelelahan.

Bukan karena komentar.

Tapi karena sebuah kenyataan yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Budi telah menikah lagi.

Dan itu sudah berlangsung satu tahun tanpa sepengetahuannya.

Sejak hari itu, Rina tidak lagi melihat hidupnya dengan cara yang sama.

Ia tidak berteriak.

Tidak membuat keributan.

Tapi diam-diam, ia mulai bergerak.

Cara Rina Bertahan

Ia kembali ke dapur.

Kali ini bukan untuk memasak kewajiban.

Tapi untuk membangun sesuatu.

Dari resep-resep lama yang pernah ia pelajari. Dari ingatan masa sekolah. Dari video dan catatan yang ia ulang berkali-kali.

Lalu ia mengambil satu langkah yang dulu selalu ia tunda:

mendaftar kursus.

Bukan untuk gaya hidup.

Tapi untuk memastikan bahwa kali ini, ia tidak setengah-setengah.

“Katanya sekarang sering keluar rumah?” tanya Bu Fatimah suatu hari.

“Belajar,” jawab Budi.

“Belajar apa lagi? Suamimu sudah punya usaha.”

Tidak ada yang tahu bahwa Rina sedang menyiapkan hidupnya sendiri.

Roti jeruk Mandarin.

Roti jeruk itu lahir dari percobaan yang berkali-kali gagal.

Aromanya segar, rasanya unik.

Orang-orang mulai memesan.

Lalu brownies.

Lumer, hangat, dan selalu habis.

Pesanan datang pelan.

Lalu bertambah.

Lalu tidak berhenti.

“Ngapain sih repot begitu?” komentar itu tetap datang. “Capek sendiri. Bantu suami kan jelas.”

Rina tidak menjawab.

Karena kini ia tahu:

Ia tidak sedang mencari persetujuan.

Ia sedang menyiapkan jalan keluar.

Kami Netral Saja

Sore itu, suasana rumah Bu Fatimah terasa berbeda.

“Ibu, saya mau ngomong sesuatu,” kata Budi.

“Apa?”

“Aku… sudah menikah lagi.”

Sunyi.

“Jangan begitu, Di,” kata Bu Fatimah. “Di keluarga kita tidak ada yang seperti itu. Malu. Apa kata orang nanti.”

Budi diam.

“Ibu tidak mau ikut campur,” lanjut Bu Fatimah setelah beberapa lama hening. “Ini urusan rumah tangga kalian.”

“Begini. Kami netral saja.” Lanjutnya.

Rina menatapnya.

“Ibu,” suaranya tenang.

“Sudah dua tahun.”

Semua orang membeku.

“Budi sudah menikah dua tahun,” lanjut Rina. “Saya baru tahu setahun yang lalu.”

Tidak ada yang bergerak.

Budi menunduk.

Pak Samsul hanya diam, wajahnya menegang.

“Ibu sejak dulu selalu menyuruh saya jadi istri yang baik.” kata Rina pelan. “Saya sudah mencoba.”

Ia menarik napas sebentar.

“Namun yang Ibu tidak tahu, sejak dulu saya sudah belajar bertahan sendiri.”

Rina menatap Bu Fatimah.

“Selama ini Ibu punya banyak harapan tentang saya,” ucapnya. “Tapi sudah setahun ini saya paham satu hal: Hidup saya… bukan tanggung jawab Ibu.”

Sunyi.

“Dan saya juga tidak akan menyerahkan hidup saya pada orang yang tidak menganggap saya bagian dari hidupnya.”

Kalimat itu tidak keras.

Tapi cukup jelas.

Rina berdiri.

Anak-anaknya mendekat tanpa disuruh.

Seolah tahu.

“Saya tidak pergi karena marah,” lanjutnya. “Saya pergi karena saya sudah siap.”

Ia menatap Budi sekilas.

Bukan dengan benci.

Tapi dengan sesuatu yang sudah selesai.

Tidak ada yang menahan.

Tidak ada yang menyuruhnya berhenti.

Karena semua akhirnya mengerti—

ini bukan keputusan yang lahir hari ini.

Rina melangkah keluar.

Dengan langkah yang ringan, tapi pasti.

Di luar, hidupnya sudah menunggu.

Dan kali ini—

ia tidak datang sebagai seseorang yang harus selalu meminta izin.

You May Also Like

5 Comments

  1. Ella April 18, 2026 at 10:07 am

    Nggak bisa bayangin jadi Rina, kuat banget menghadapi semuanya. Ceritanya nyentuh dan bikin ikut merasakan, Mbak 🙁

  2. Icha Marina Elliza April 18, 2026 at 9:11 pm

    Smart Rina. Gak perlu ada teriakan, gak ada video viral, yang penting jalan keluar unruk dirinya biar lebih selamat mentalnya.

    1. Iim Rohimah April 21, 2026 at 11:25 am

      Yups, mentaliti Rina ini ada kok dalam kehidupan nyata. Perempuan yang tak banyak drama, tenang, dan bisa menggunakan logika saat terjadi ketidakadilan.

  3. Dian Restu Agustina April 20, 2026 at 2:39 pm

    Keren, salut dan bangga pada Rina.
    Kakaku sendiri bernasib lebih kurang sama. Di KDRT suami baik secara fisik dan mental, padahal dia tulang punggung keluarga, masih dijulidin melulu sama mertua dan sekitarnya. Akhirnya dia menyiapkan semua, diam-diam dalam sunyi. Saat hari itu tiba dia pergi bawa dua anaknya, pulang ke rumah orangtua yang sudah tahu dan menunggu, berbekal pekerjaan baru. Suami dan keluarganya enggak menyangka sama sekali, perempuan yang dikira lemah selama ini bisa siap pergi dan melangkah ke kehidupannya yang baru.

    1. Iim Rohimah April 21, 2026 at 11:20 am

      Wih keren banget mbak. Kadang orang bisa bangkit lebih kuat dari rasa sakit. Dan memang ada di dunia ini, orang yang setoxic itu bisa menyusahkan hidup anak orang lain. Duh.

Leave a Reply