Nafkah 3 Juta (POV Raka)
Raka selalu pulang saat langit mulai redup.
Bukan karena ia sengaja menunda pulang, tapi karena tubuhnya memang sudah terlalu berat untuk digerakkan lebih cepat. Pukul lima ia keluar dari pabrik, tapi langkahnya sering terasa lambat, seperti ada yang menggantung di bahunya. Debu halus menempel di lengan seragamnya, dan suara mesin masih berdengung di telinganya bahkan setelah ia melangkah keluar.
Di rumah, lampu biasanya sudah menyala.
Naila kadang sedang menggendong anak mereka, kadang sedang di dapur. Bau masakan menyambutnya. Itu hal kecil yang selalu ia tunggu, meski ia tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa ia menunggunya.
“Mas, sudah pulang?”
Raka biasanya hanya mengangguk. Meletakkan tas. Duduk.
“Sudah ada makan?” tanyanya, singkat.
Naila mengangguk.
Lalu semuanya berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang benar-benar salah. Tapi juga tidak ada yang benar-benar dibicarakan.
Raka tahu, dari mata Naila, ada sesuatu yang pelan-pelan berubah. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara menanyakannya. Dan mungkin, ia juga tidak berani.
Karena bagi Raka, selama ia masih pulang membawa penghasilan, selama ia masih bisa memenuhi kebutuhan dasar, semuanya seharusnya baik-baik saja.
Setidaknya, begitu yang ia pahami.
Daftar Isi
Alasan yang Tidak Dijelaskan
Tidak banyak orang tahu, bahkan Naila pun tidak, bahwa Raka pernah hampir kehilangan seseorang di tempat kerjanya.
Seorang perempuan. Hamil.
Ia masih ingat betul hari itu.
Perempuan itu pingsan di dekat mesin. Tubuhnya jatuh begitu saja. Orang-orang panik. Ada yang memanggil mandor. Ada yang berlari mencari air. Ada yang hanya berdiri, tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa minggu setelahnya, kabar itu datang pelan-pelan.
Keguguran.
Sejak saat itu, setiap melihat perempuan hamil di pabrik, Raka selalu merasa tidak nyaman.
Ia melihat bagaimana mereka tetap berdiri berjam-jam. Bagaimana mereka menahan lelah. Bagaimana mereka tetap bekerja karena tidak punya pilihan.
Dan ketika Naila, dengan suara pelan tapi penuh harap, berkata ingin bekerja saat hamil, sesuatu dalam diri Raka langsung menolak.
Refleks.
“Enggak usah. Kamu lagi hamil.”
Itu saja yang keluar dari mulutnya.
Ia tidak menceritakan apa yang pernah ia lihat. Ia tidak menjelaskan kenapa ia takut. Ia tidak mengatakan bahwa larangan itu bukan karena ia ingin mengatur, tapi karena ia ingin melindungi.
Yang ia katakan justru hal lain.
“Kan aku sudah kasih nafkah tiga juta.”
Kalimat yang, tanpa ia sadari, menjadi tembok.
Padahal di kepalanya, kalimat itu sederhana.
Ia hanya ingin bilang, “Kamu tidak perlu capek. Biar aku saja.”
Tapi yang sampai ke telinga Naila, bukan itu.
Mungkin begitulah cara laki-laki berkomunikasi.
Menjadi Pria yang Seharusnya
Raka bukan tipe orang yang banyak bercerita.
Sejak dulu, ia terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri.
Entah karena dia anak sulung atau memang lingkungannya yang menuntut konsep pria yang seharusnya.
Termasuk ketika ibunya masih meminta uang setelah ia menikah.
“Penghasilan kamu kan lumayan. Masa ibu enggak dikasih?” kata ibunya suatu hari.
Dulu, sebelum menikah, hampir semua penghasilannya ia berikan ke rumah. Itu sudah biasa. Tidak pernah ia pertanyakan.
Tapi sekarang berbeda.
“Aku sudah punya tanggungan, Bu,” jawab Raka pelan.
Ibunya menghela napas panjang. Tidak puas.
“Ya enggak banyak-banyak. Sejuta juga enggak apa-apa.”
Raka diam cukup lama sebelum menjawab.
“Enggak bisa, Bu.”
Itu pertama kalinya ia menolak.
Bukan karena ia tidak sayang. Tapi karena ia tahu, kalau ia mulai memberi, maka tidak akan ada habisnya. Dan di rumah, ada Naila. Ada kehidupan yang harus ia jaga.
Beberapa bulan setelah itu, adiknya datang.
Minta bantuan uang kuliah.
“Cuma buat nutup kurangnya aja, Kak.”
Raka menatap adiknya cukup lama.
“Bapak sama ibu masih mampu,” katanya akhirnya. “Itu tanggung jawab mereka.”
Kalimat itu terdengar dingin. Bahkan mungkin kejam.
Tapi bagi Raka, itu adalah bentuk tanggung jawab yang lain.
Ia sedang memilih.
Dan pilihannya adalah keluarganya yang sekarang.
Naila tidak pernah tahu semua ini.
Yang Naila lihat, hanya suaminya yang pulang, makan, lalu istirahat.
Keputusan yang Terasa Sepihak
Raka tidak pernah benar-benar mengerti kenapa Naila terlihat semakin sering diam.
Ia tahu istrinya lelah. Ia tahu rutinitas di rumah tidak ringan. Tapi dalam pikirannya, semua itu masih dalam batas yang wajar.
Bukankah memang begitu kehidupan setelah menikah?
Ketika Naila kembali bicara soal kerja, kali ini setelah anak mereka lahir, Raka kembali menghadapi sesuatu yang tidak ia siapkan.
“Aku pengen kerja lagi,” kata Naila suatu malam.
Raka menghela napas.
“Kamu mau kerja apa?”
Nada suaranya datar. Bukan merendahkan, tapi juga tidak memberi ruang.
“Ngajar lagi. Kayak dulu.”
Raka menggeleng pelan.
“Gajinya berapa?”
Naila diam.
Raka melanjutkan, “Tiga ratus ribu?”
Bukan karena ia meremehkan. Tapi karena ia menghitung.
Kalau Naila bekerja, berarti:
- rumah tidak sepenuhnya terurus
- anak harus diasuh orang lain
- ia juga harus ikut membantu pekerjaan rumah
Sementara ia sendiri pulang dalam keadaan lelah.
Baginya, itu tidak seimbang.
“Enggak masuk akal,” katanya akhirnya. “Capeknya lebih besar dari hasilnya.”
Ia tidak pernah bilang bahwa ia juga takut.
Takut tidak bisa jadi suami yang cukup.
Takut kehilangan kendali.
Dan yang paling ia takutkan, meski ia sendiri tidak sadar—takut gagal menjaga rumah tangganya tetap utuh.
Tentang Nafkah Tiga Juta
Jauh sebelum semua ini, Raka pernah membuat sebuah keputusan yang sederhana, tapi ternyata membawa banyak hal.
Ia menulis di media sosial.
Mencari istri yang siap dinafkahi tiga juta.
Tidak ada maksud lain.
Ia hanya jujur.
Di usianya yang sudah 27 tahun, Raka mulai merasa tertinggal. Teman-temannya sudah menikah. Lingkungan mulai bertanya. Ibunya terus mendesak.
Ia bukan tipe yang pandai mendekati perempuan. Lingkar pergaulannya sempit. Hidupnya hanya antara tempat kerja dan rumah.
Beberapa kali ia mencoba mengenal perempuan.
Ada yang cocok. Tapi ketika bicara soal penghasilan, semuanya berubah.
Raka tidak marah. Ia mengerti.
Ia hanya merasa… mungkin ia memang harus lebih jelas sejak awal.
Maka ia menulis itu.
Sederhana.
Apa adanya.
Dan dari situlah ia bertemu Naila.
Perempuan yang, dalam pandangannya, sederhana. Tidak banyak menuntut. Terlihat cukup dengan yang ada.
Ia pikir, itu cukup.
Ia pikir, ia bisa membahagiakan perempuan seperti itu.
Hal yang Baru Ia Sadari
Butuh waktu lama bagi Raka untuk benar-benar memahami sesuatu.
Bukan dari perdebatan. Tapi dari perubahan kecil.
Ia mulai melihat Naila berbeda.
Lebih diam. Lebih sering terlihat lelah. Tapi bukan lelah yang sama seperti biasanya.
Ada sesuatu yang kosong.
Dan Raka tidak tahu cara mengisinya.
Sampai akhirnya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Semangat.
Hari itu, Naila bercerita tentang tes yang ia ikuti.
Tentang soal-soal yang ia pelajari diam-diam di malam hari saat Raka tidur lelap.
Tentang kegagalan di tahun pertama.
Tentang kesempatan yang tidak bisa diambil di tahun kedua.
Dan tentang harapan di tahun ketiga.
Raka mendengarkan.
Diam.
Seperti biasa.
Tapi kali ini, ia tidak memotong.
Tidak melarang.
Tidak langsung menjawab.
Ia membiarkan Naila menyelesaikan kalimatnya.
Saat itu pula ia melihat sesuatu yang selama ini tidak ia sadari—
Istrinya tidak hanya butuh cukup.
Istrinya butuh hidup.
Bukan Angkanya yang Kurang
Ketika Naila akhirnya bekerja, Raka melihat semuanya berubah.
Rumah memang tidak selalu serapi dulu.
Masakan tidak selalu ada tepat waktu.
Kadang mereka membeli makanan di luar.
Pengeluaran bertambah.
Ada daycare. Ada kebutuhan baru.
Secara hitungan, tidak selalu lebih hemat.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dihitung.
Naila terlihat lebih hidup.
Lebih ringan.
Seperti benar-benar menemukan dirinya sendiri.
Dan itu membuat Raka diam cukup lama suatu malam.
Mungkin selama ini, ia terlalu fokus pada satu hal—
cukup.
Cukup makan. Cukup hidup. Cukup bertahan.
Tapi ia lupa, hidup bukan hanya soal cukup.
Tiga juta itu tidak salah.
Tapi juga tidak cukup untuk segalanya.
Dan mungkin, sejak awal, yang kurang bukan jumlahnya.
Tapi cara mereka memahami maknanya.
