Penyebab Mertua Selalu Menyalahkan Menantu, Akibat 8 Salah Sangka

Hai Bun… Saya mau membahas penyebab mertua selalu menyalahkan menantu perempuan. Kenapa sih bahas ini?

Entah serumah atau tidak, mertua dan menantu selalu rentan konflik. Konflik itu biasanya berasal dari prasangka, pola pikir, dan persepsi yang keliru dalam diri mertua mengenai menantu perempuannya. Dalam ilmu komunikasi bahkan sangat jelas, bahwa inti dari komunikasi adalah persepsi (prasangka dan pola pikir). Permasalahan menantu dan mertua yang sering timbul bisa jadi karena ada kesalahan dalam persepsi ini.

Jangan jauh-jauh dulu mencari cara mengatasi konflik mertua dan menantu, sebaiknya kita lebih mendalami apa saja kesalahan persepsi mertua tentang menantu perempuan yang menjadi penyebab mertua selalu menyalahkan menantu perempuan.

Kok menantu perempuan? Ya, supaya lebih spesifik, ya Bun. Biasanya yang paling banyak konflik itu kan anatara menantu perempuan dan mertua perempuan. Ada saja masalah yang timbul. Hal yang paling sering terjadi adalah mertua selalu menyalahkan menantu perempuan dalam banyak hal.

8 Prasangka Penyebab Mertua Selalu Menyalahkan Menantu Perempuan

Apa saja nih kesalahan persepsi mertua tentang menantu perempuan yang biasanya ada dalam masyarakat kita? Berkaca pada apa yang saya alami sekaligus amati di sekitar saya, berikut ini beberapa salah sangka mertua terhadap menantu perempuannya:

1. Menantu Perempuan Merebut Anak Laki-laki

Hmm…. Enak nggak tuh dianggap merebut anak laki-lakinya mertua? Apa ada yang begini? Silahkan Bunda cari tahu atau amati sendiri deh. Namun, ketika awal saya menikah, saya sering sekali merasakan sikap mertua seolah saya merebut anaknya.

Selain mertua, saudara yang kami kunjungi saat hari raya juga sering menyinggung soal ini. Katanya, “hati-hati, Nak” (ucap mereka kepada suami saya) “jangan sampai setelah menikah kamu lebih memperhatikan istrimu daripada ibumu.” Lanjut mereka serius. Bukan hanya sekali, tapi sering. Saya merasa tidak enak, karena memang setelah menikah, suami saya tinggal berdua dengan saya di kota lain dan meninggalkan ibunya beserta keluarga besarnya.

Lha, wong namanya menikah, pasti suami tinggal sama istri kan? Justru jika tetap tinggal dengan ibu mertua (satu rumah) malah lebih rentan lagi konfliknya. Ini sih sudah menjadi rahasia umum bahwa jika anak, menantu, dan mertua serumah pasti banyak cekcoknya. Malah, pisah rumah sering orang jadikan cara mengatasi konflik mertua dan menantu.

Oh ya, prasangka bahwa menantu perempuan merebut anak laki-laki juga adalah hal yang sering menjadi pikiran mertua. Seringkali sikap mertua banyak menunjukkan kesepiannya, mengeluh soal makan sendiri, tidur sendiri, hingga mengeluh telah membesarkan anak laki-lakinya dengan kerja keras dan setelah besar malah hidup dengan orang lain (istrinya).

Kita sebagai ibu sekaligus perempuan tahu betul dan bisa merasakan itu. Pikiran dan perasaan mertua tidak salah. Namun, menurut saya, jika hanya meratapi diri sendiri dan kepentingan diri sendiri, akan selalu menjadi akar persoalan mengapa mertua membenci menantu. Ini yang sering terjadi dalam hubungan menantu dan mertua.

Perempuan Sama-sama Meninggalkan Orang Tuanya

Padahal, menantu perempuan juga sama. Perempuan setelah menikah juga sama-sama meninggalkan orang tuanya. Bahkan, orang tua perempuan tidak pernah mengharap balasan uang atau penghasilan dari anak perempuan setelah berumah tangga.

Apalagi jika orangtua dan anak perempuan menganut paham patriarki (keluarga saya sedikit memiliki paham ini), setelah menikah, justru anak perempuan benar-benar meninggalkan orang tuanya. Mendahulukan kepentingan suami ketimbang orang tua. Suami tidak mengizinkan pulang kampung, ya istri tidak akan pulang kampung. Suami ingin mengunjugi ibunya terlebih dahulu di hari raya, ya istri ikut ke rumah mertua terlebih dahulu. Orang tua perempuan justru lebih kehilangan anaknya. Ini kalau mau bicara soal kehilangan ya.

Tapi apa gunanya membicarakan soal rebut-merebut atau mempermasalahkan kehilangan anak. Manusia kan ada masanya berumah tangga. Jika saling mendahulukan kepentingan sendiri, wajar jika permasalahan menantu dan mertua tidak kunjung usai.

2. Menikah untuk Dinafkahi Saja dan Bersenang-senang

Ini nih yang sering terjadi kepada mertua yang baru punya menantu perempuan. Hanya karena anak laki-lakinya bertemu jodohnya dengan jalan jatuh cinta, maka disangka pernikahan adalah jalan bersenang-senang bagi menantu perempuan.

Penyebab mengapa mertua membenci menantu perempuan biasanya karena prasangka bahwa menantu datang untuk dinafkahi dan senang-senang. Tidak heran sering ada ucapan begini, “Sekarang anak laki-laki (setelah anak menikah), kerja buat istri dan anak. Belum tentu ingat sama ibunya yang bekerja untuk membesarkan anak.”

Sekali lagi, itu tidak salah. Benar, memang suami setelah menikah itu bekerja untuk menafkahi istri dan anak. Terutama jika istri tidak bekerja dan fokus mengurus rumah tangga. Namun, sekali lagi, jika hanya meratapi kepentingan sendiri, pasti konflik tidak bisa dihindari.

Padahal, menjadi istri bukan menjadi pricess yang duduk manis minta ini itu ada. Menjadi istri artinya seorang menantu perempuan menghabiskan waktu untuk melayani suami (anak laki-laki mertua), mengerjakan pekerjaan rumah (kurang lebih sama dengan pembantu rumah tangga), melahirkan anak dan mengasuhnya, dan semua pekerjaan yang sebenarnya mertua juga pernah mengalami sendiri.

Apakah ada senang-senangnya? Ada sih, kalau suami setia, sayang, dan mertua juga baik. Tidak membeda-bedakan menantu perempuan dengan anak sendiri, dan memiliki simpati terhadap pengorbanan menantu. Bukan fokus kepada pengorbanan diri sendiri.

Perempuan Setelah Menikah Menghabiskan Waktu untuk Suami dan Anak, Bukan Jadi Ratu

Jangan dikira ketika perempuan tidak bekerja, hidup santai begitu saja. Menantu perempuan justru tidak bekerja bukan ingin malas-malasan. Berhenti bekerja, atau tidak pernah mencoba melamar kerja, menjalani bisnis, dan lain-lain semua itu supaya fokus melayani suami dan anak-anak.

Saya sendiri sebagai menantu perempuan jutru banyak kehilangan. Terutama waktu untuk berkembang, cita-cita sejak kecil saya korbankan ketika sudah menikah. Bahkan seringkali menjalani rutinitas yang bukan kehendak hati. Seperti membantu pekerjaan suami yang bukan passion saya, waktu sangat kurang untuk berkarir karena mengurus rumah dan anak, tidak pernah perawatan diri, tidak sempat ke salon, dan lain-lain. Apakah sedih? Ya pasti ada rasa sedih. Namun, jika pengorbanan itu dihargai, diapresiasi, pasti saya tetap bahagia.

Prasangka mertua terhadap menantu hanya bersenang-senang juga sering menjadi pemicu kebencian ketika tahu suami makan di luar bersama istri dan anak-anak, tidak senang melihat istri membeli baju baru, handphone baru, menyindir anak laki-laki saat tahu menantu punya gelang emas, misalnya (walau saya tidak pernah belie mas, ini contoh saja pada ibu-ibu lain). Padahal, mungkin hanya itu satu-satunya hiburan menantu perempuan.

Menjadi Istri Justru Tidak Nyaman Membeli Barang Pribadi

Tidak jarang, seorang istri justru merasa menjadi pengemis dalam rumah tangga karena hal ini. Beli keperluan pribadi terasa salah dan seolah mengambil hak orang lain. Padahal, apa yang suami berikan itu halal dan merupakan hak istri.

Perempuan bekerja saja (wanita karir) bisa dapat gaji bulanan dan dapat makan siang. Bahkan bagi wanita karir, membeli tas bagus tidak akan ada yang iri karena orang tahu itu hasil pekerjaanya. Berbeda dengan istri yang membeli tas baru, justru itu punya embel-embel “dikasih suami”. Jelas berbeda. Mertua yang masih memandang menantu perempuan merebut anaknya atau menikah untuk dinafkahi, pasti tidak akan senang melihat menantunya nampak bersenang-senang dengan punya barang baru.

Miris sih, saya. Perempuan punya niat baik melepas karir setelah menikah justru begini sikap orang sekitarnya. Tidak semua seperti itu memang. Namun, coba deh, jangan-jauh ke mertua. Kita sendiri deh coba nilai dua kasus berikutini, Bun.

Seorang wanita karir yang sudah menikah membeli gelang emas dan seorang ibu rumah tangga membeli gelang emas juga. Coba, sama nggak persepsi kita terjadap mereka? Kebanyakan kita pasti melihat wanita karir membeli emas tersebut oleh uangnya sendiri. Sedangkan ibu rumah tangga (yang tidak bekerja mencari nafkah) kita anggap memakai atau meminta uang suaminya. Padahal sama halalnya, sama haknya. Bahkan ibu rumah tangga seringkali pekerjaannya lebih banyak dan berat.

Oleh sebab itu, sangat rentang bagi mertua yang memiliki menantu perempuan untuk berprasangka bahwa menantu itu diempani (diberi makan), bukan orang yang setara kedudukannya dengan anak laki-lakinya.

3. Menantu Perempuan Itu Harus Ngurus Rumah Tangga Tapi Juga Pandai Cari Uang

Ini ada kaitannya dengan poin di atas. Menantu perempuan sering serba salah. Jadi ibu rumah tangga tulen salah, jadi wanita karir juga salah. Menjadi IRT kesannya seperti hanya diberi makan, padahal pekerjaannya sama banyak dan berat. Malah, mejadi IRT jadi arena bebas suami dan anak meminta istri melakukan ini itu. Memasak dadakan, membuat kopi saat sedang membersihkan rumah, minta membantu pekerjaan atau usaha suami juga.

Mejadi wanita karir juga salah. Sering saya mendengar mertua mengritik menantu perempuan jika tidak masak, rumah tidak bersih dan rapi, anak dititipkan di tempat pengasuhan anak, dan segala hal yang menjadi resiko wanita karir. Apalagi jika sudah menyangkut hal urgen seperti keselamatan kandungan saat menantu perempuan bekerja di kantor. Lalu, perempuan harus gimana?

Anehnya, ada saja mertua yang menganggap menantu yang mengurus rumah tangga saja itu nganggur. Seolah seperti yang saya sebut di atas. Diempani anaknya. Menantu yang tidak mampu menghasilkan uang punya nilai minus di mata mertua karena hanya bergantung pada anaknya saja. Sedih. Padahal pekerjaan ibu rumah tangga itu mahal kalau diuangkan ya.

Sekarang sebaliknya. Jika perempuan fokus berkarir, juga akan memiliki nilai minus jika rumah tidak beres dan anak diasuh orang lain. Padahal, karir bagi perempuan itu juga penting. Biasa jadi menyangkut cita-cita sejak kecil dan menghargai perjuangan orang tua yang menyekolahkannya. Ini pernah saya curhatkan di postingan tentang suami melarang istri bekerja.

Jika mertua menuntut perempuan berperan ganda, harus jadi irt yang sempurna tapi juga bisa nyari uang, rasanya tidak heran kalau konflik antara mertua dan menantu selalu menyala. Pasalnya, saya yakin tidak ada wonder woman yang mampu melakukan segalanya, kan? Jika pemikiran mertua lebih koopeeratif dan memudahkan peran menantu, lebih banyak simpati dan empati, harusnya mertua malah senang jika menantu senang. Tidak keberatan dengan apapun yang dijalani menantu, karena baik anak maupun menantu perempuan pasti sudah dewasa dan bisa memutuskan pilihan hidupnya masing-masing dalam berumah tangga.

4. Menantu Perempuan Harus Selalu Masak

Saya sering mendengar ini waktu masih gadis. Perempuan harus pintar masak biar disayang mertua. Kalau tidak bisa atau biasa masak bakal diomelin mertua atau minimal jadi bahan omongan. Jika dalam rumah tangga jarang makan masakan dapur sendiri, biasanya mertua selalu menyalahkan menantu.

Memang tidak semua mertua begitu. Namun, nyatanya yang saya alami, topik harus masak itu selalu jadi bahan nasehat dari mertua. Bukan mertua persis sih, namun adik mertua yang sudah saya dan suami anggap orang tua sendiri.

Adik mertua memang hanya bicara dan menasehati suami saya. Katanya harus masak biar sehat, hemat, dan sebagainya. Bahkan sampai mengomeli ketika beli kulkas tapi makanan selalu beli jadi. “Untuk apa punya kulkas kalau nggak masak.”

Suami yang dinasehati namun jelas saya sebagai menantu yang sebenarnya harus masak. Mertua sudah tau persis mana mungkin suami yang masak. Sayalah sebagai ibu dan istri yang sebenarnya memang biasa masak untuk keluarga. Hanya saja, dalam kondisi tertentu, saya terpaksa membeli masakan jadi. Bahkan belakangan ini ketika punya bayi dan sibuk ngeblog, saya makin sering beli masakan jadi dari warung makan.

Saat ini pun, seruan untuk masak selalu saya dengar lewat telepon. Mertua memang sering menelepon lewat video call untuk menanyakan kabar kami atau sekedar melihat cucu. Ketahuan tidak masak, pasti diomelin. Wkwk

Meskipun suami sudah memaklumi sifat beliau, namun bagi saya tetap menjadi beban tersendiri. Entah karena baperan, atau memang saya mudah merasa bersalah. Ketika tidak masak diomelin itu rasanya tidak nyaman. Kenapa sih harus masak terus jika kondisi kami memang tidak memungkinkan untuk itu?

Hanya Suami Istri yang Paham Situasi Rumah Tangganya

Pernah saya mencoba menuruti tuntutan mertua untuk masak sayuran dan lauk pagi harinya. Jadinya sarapan pagi pukul 12 siang. Hiks… Ya, seperti saya bilang tadi, kondisi saya tidak memungkinkan untuk memasak. Selain punya bayi, suami sibuk dengan pekerjaan, juga punya anak sekolah yang harus belajar online.

Selain itu, sebenarnya perempuan setelah menikah itu tidak wajib masak. Itu yang saya tahu. Baik dalam agama maupun budaya, memasak bukan bagain dari kodrat perempuan seperti kebanyakan orang pahami. Ini hanya ada dalam ego sebagian orang saja. Situasi rumah tangga pun, sebenarnya hanya suami istri yang tahu. Keputusan apakah memasak atau tidak, pasti sudah menjadi pertimbangan masing-masing rumah tangga. Gimana pendapat Bunda mengenai istri harus masak?

5. Menantu Perempuan Selalu Bertanggungjawab Soal Pengasuhan Anak

Masalah satu ini paling sering terjadi dan merupakan pemicu mertua selalu menyalahkan menantu perempuannya. Anak kurus ibunya yang salah. Pernah atau sering mendengar itu, Bun? Anak sakit ibunya yang kena marah. “Anaknya dikasih makan apa sih?” Sering sekali saya mendapatkan kalimat itu ketika anak pertama saya masih kecil. Padahal, namanya sakit bukan kita sengaja.

Ya, memang mungkin karena saya dan suami masih belajar dan banyak kekurangan. Namun, setiap kondisi anak, pasti ibunya yang mendapatkan stereotip kurang baik.

Bukan hanya mertua, dokter anak di Rumah Sakit (RS) waktu anak saya periksa juga mengatakan, “Sebenarnya ibunyalah yang tahu kondisi anak (sakit apa dan apa penyebabnya).” Saya merasa terbebani sekali dengan ucapan dokter tersebut. Seorang ibu memang merawat dan mendampingi anaknya. Namun, bukan berarti ibu tahu segalanya. Ibu punya naluri kuat mengenai anaknya. Namun, ada kalanya bingung dan tidak tahu. Bahkan sering. Untuk apa periksa dan tanya dokter jika ibu sudah tahu semua mengenai kondisi anak?

Saya cukup sedih jika segala hal yang menimpa anak, ibunya yang disalahkan. Perempuan saat punya anak bukan tidak mau belajar atau tidak menerima kritik, namun setidaknya orang lain bisa lebih menghargai perjuangan kita sebagai perempuan dan seorang ibu. Tidak hanya melihat kesalahan, tapi lebih mengedepankan solusi dan komunikasi yang baik dari orang sekitar supaya ibu makin semangat memperbaiki kekurangan. Bukan menambah runyam atau membuat konflik tambahan

6. Mertua Kurang Memahami Pengorbanan Menantu Perempuan

Poin ini juga temasuk penyebab mertua selalu menyalahkan menantu perempuan. Kok terasa baper sih curhatan saya? Begini Bun…. Bagi saya pribadi, total mengasuh anak dan rumah tangga itu adalah sebuah pengorbanan. Apa saja sih pengorbanan yang saya rasakan sebagai seorang perempuan sekaligus istri dan ibu?

Mengorbankan Karir

Saya sendiri sudah bertahun lamanya tidak pernah mencoba melamar kerja supaya bisa mengasuh anak sepanjang hari. Saya bisa mendapatkan penghasilan sendiri dan berkembang dalam bidang yang saya geluti hingga professional. Namun, semua itu tidak saya jalani demi anak dan keluarga.

Bagi saya, pengorbanan diri dan waktu tersebut tidak bisa dinilai dengan uang. Walaupun ada suami yang meminta istrinya berhenti bekerja dan janji akan mensejahterakan istrinya, bagi saya nilainya tidak akan bisa mengganti apa yang bisa kita lakukan sebagai perempuan. Uang tidak bisa mengganti skill dan keterampilan serta prestasi dalam karir.

Mengorbankan Waktu dan Tenaga

Hampir 24 jam lamanya dalam sehari. Setengahnya saya alokasikan untuk keluarga dan anak. Sejak jam 4 pagi, anak-anak mulai bangun di situ aktivitas seorang ibu dimulai. Berhenti ketika anak tidur lagi di malam hari antara pukul 7 hingga 8 malam. Paling sesekali saya menengok handphone untuk mengecek chat WhatsApp atau melakukan keperluan pribadi seperti mandi, makan, sholat.

Padahal, kalau mau, seorang ibu bisa menaruh anak-anaknya di tempat penitipan anak supaya bisa fokus mengerjakan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Supaya orang menghargai kita, supaya apa yang kita belanjakan benar-benar terasa milikk sendiri. Bukan meminta apalagi menunggu pemberian orang lain, termasuk pemberian suami seperti saya singgung tadi.

Selain mengurus anak, selama siang dan malam setelah anak tidur, kadang kita juga masih saja melakukan pekerjaan domestik seperti melipat baju, memijat suami, hingga mengiris sayuran untuk dimasak pagi hari.

Pengorbanan Lain yang Berharga

Selain pengorbanan karir, waktu, dan tenaga, kita sebagai perempuan juga mengorbankan hal-hal lain yang seringkali sulit kita ungkapkan dengan kata-kata. Misalnya berkurangnya teman bergaul yang satu hobi, waktu untuk merawat diri, mengorbankan cita-cita, mengabaikan harapan orang tua yang merawat kita sejak kecil, berkurangnya kemampuan komunikasi akibat kurang kualitas bergaul dan karir, hingga hal detail seperti kurang relasi dan informasi.

Lebih kongkritnya misal suami dalam pekerjaannya kan banyak bertemu orang dan mudah menyisipkan kegiatan melihat berita ketimbang kita sabagai ibu. Akhirnya kita lebih ketinggalan informasi ketimbang suami.

Itu sekedar contoh pengorbanan sebagai perempuan ya Bun… Barangkali setiap perempuan berbeda pengorbanannya satu sama lain. Intinya, peran kita sebagai ibu, selayaknya mendapatkan penghargaan, bukan hanya kritik apalagi menyalahkan. Jika mertua lebih memahami poin ini, tidak perlu ada lagi kejadian mertua selalu menyalahkan menantu nya.

7. Menantu Perempuan Tidak Mau Dinasehati dan Baperan

Mungkin bagi orang lain, mengatakan “Anak dikasih makan apa sih sampe batuk gini?” atau “Anaknya kok kurus sih?” terdengar biasa saja. Namun, bagi perempuan yang menjaga anaknya, rasanya kritik seperti itu sangat mengganggu. Mengapa?

Karena tidak ada ibu yang mau anaknya sakit ataupun kurus. Pasti sudah berusaha sebisanya agar memberikan yang terbaik untuk anak. Namun, kondisi dan kemampuan kita mungkin belum sesuai harapan. Perempuan manapun pasti sadar jika dirinya salah.

Saya juga sering menyadari jika anak batuk sebab saya membiarkannya memakan snack yang banyak MSG, misalnya. Anak kurus karena kurang telaten menyuapinya.

Namun, di balik kesalahan itu, ada ketidaksengajaan di luar kemampuan. Anak makan snack karena dia meronta-ronta di tempat umum sehingga saya malu jika saya biarkan terus. Tenaga sudah lelah. Misalnya begitu. Anak yang meronta di tempat umum tanpa mau memahami perkataan kita juga karena anak masih kecil. Jika diteruskan lagi, mungkin kita ibunya tidak bisa menenagkan anak karena masih newbie sebagai ibu. Belum pengalaman mengatasi kerewelan anak. Panjang ceritanya.

Apa yang Perempuan Rasakan Lebih Runyam

Kondisi demikian membuat sebuah kesalahan akan runyam jika hanya diberi kritik. Apalagi menyalahkan. Ketika orang lain berkata “anaknya kok kurus ya, Bun.” Maka yang terpikir dan dirasakan seorang ibu (ini contoh pengalaman sendiri saja) tidaklah simpel.

Dalam hati saya apa yang saya rasakan? “Iya, ya anak saya kurus. Apa yang salah dengan cara saya merawat anak? Ya, memang saya belum bisa menjaga dan merawatnya dengan baik. Saya tidak telaten menyuapinya makan, mudah bosan dan tidak ingin berlama-lama membujuk anak makan. Tapi, mau membujuk anak makan gimana wong anak tidak doyan. Harusnya sih banyak variasi makanan yang saya sajikan untuk anak. Tapi saya tidak bisa membuat makanan variatif sebanyak itu dalam sehari. Saya punya pekerjaan lain dan masih kurang pengalaman membuat makanan untuk anak. Dan yang paling sedih ketika menyangkut budget. Saya tidak cukup uang untuk menyajikan makanan bervariasi untuk anak. Apalagi pesan khusus catering makanan bayi atau anak.”

Lebih panjang lagi, bisa menyalahkan diri, keadaan, ataupun menyalahkan suami. Satu kalimat kritik orang lain terdapat banyak hal yang membuat kita jadi kepikiran. Mulai dari kemampuan diri, keadaan yang tidak mendukung (tidak ada orang tua yang mendampingi atau tidak mampu menyewa asisten rumah tangga), beban karir atau tuntutan ekonomi, serta komunikasi dengan pasangan yang belum paham juga pentingnya banyak variasi makanan untuk anak.

Ini pernah saya alami, dan rasanya rumit. Tidak jarang saya menjadi murung, tidak semangat, dan tidak tertarik bergaul dengan keluarga besar. Jika ada masalah anak dan rumah tangga, tidak jarang mertua selalu menyalahkan menantu perempuan.

8. Saat Menjadi Ibu, Perempuan Hanya Ingin Bantuan Bukan Disalahkan

Satu hal yang menjadi catatan ketika berperan menjadi ibu terutama ibu baru adalah, “Seorang perempuan ketika mulai menjadi ibu hanya butuh bantuan, bukan kritikan apalagi disalahkan.”

Bantuan ini sifatnya banyak. Bisa tenaga, ikut membantu mengasuh anak kita ketika sempat. Bukan hanya mencandai dan mejewer hidung anak untuk meluapkan kegemasan saja. Hihi.. Apalagi hanya membuat anak menangis dan makin rewel tapi kritik banyak.

Bantuan juga bisa dengan menjenguk kita dan mencoba mengerti tanpa banyak menilai. Biasanya ibu kita (nenek dari anak kita) yang paham cara ini. Ibu saya ketika datang menjenguk, cukup duduk di samping saya, mengajak bicara dan ngobrol, mencari tahu kondisi saya lebih dalam, menengok saya ke kemar dan tidur di samping saya. Setelah itu, beliau mengamati (maaf) misalnya payudara saya ketika menyusui.

Jika nampak kurang ASI, tidak langsung menyuruh makan daun bayam banyak-banyak. Beliau bertanya dulu apakah saya sempat masak atau tidak, mudah atau tidak mendapatkan sayuran, atau bertanya langsung mengapa ASI saya kurang banyak dengan nada dan cara yang nyaman untuk saya dengar. Ya, kita bisa membedakan mana kata-kata menyalahkan dan mana perhatian.

Wah jadi kepanjangan ya Bun.. Tadi bahas soal mertua selalu menyalahkan menantu akibat salah dalam 8 salah persepsi. Udah dulu deh curhatnya.

Itulah bebarapa prasangka yang menjadi penyebab mertua selalu menyalahkan menantu. Salah persepsi dan sangkaan di atas juga bisa menjadi penyebab konflik lainnya yang biasaya terjadi antara mertua dan menantu perempuan. Apakah Bunda setuju dengan curhatan saya di atas?

Tinggalkan komentar