Sebuah Coretan Tentang Perempuan dan Literasi Digital

Berbicara tentang perempuan dan literasi digital, saya teringat kejadian-kejadian kurang kondusif dalam sebuah WhatsApp Group (WAG) alumni tahun lalu. Saya share postingan blog saya di WAG tersebut. Postingan itu sebenarnya isinya sangat pro terhadap hak perempuan, namun ada tanggapan seorang teman, yang merupakan ibu rumah tangga merespon dengan marah.

Bagi saya, dalam kejadian ini bukan persoalan perbedaan pikiran, namun cara orang menanggapi sebuah informasi. Waktu itu, saya membagikan postingan saya tentang peran karir bagi perempuan yang telah menikah. Semua anggota WAG, baik yang berperan sebagai wanita karir maupun ibu rumah tangga menanggapi dengan baik, bahkan kebanyakan setuju. Hanya satu orang menanggapi dengan marah dan mencerca hingga salah paham dan melebar pembahasannya ke mana-mana.

Meskipun kejadian itu tidak begitu besar, namun ada hal yang saya pikirkan sampai saat ini. Apa itu? Pola pikir kebanyakan perempuan saat ini belum bisa membedakan mana hal yang bisa ia perjuangkan dan mana yang memang perlu diikhlaskan.

Akhirnya, ketika perannya dalam keluarga merasa dirugikan, mereka hanya bisa menahan marah dan menjadi masalah kesehatan dalam aspek psikologis. Menerima keadaan dengan ketidaknyamanan. Lebih jauh lagi, membela diri dengan dalih agama atas ketidakberdayaannya.

Tingkat Literasi Digital di Indonesia

Apa yang saya amati pada kejadian tadi sebenarnya mungkin ada kaitannya dengan tingkat literasi digital yang masih belum sesuai harapan. Rendahnya minat baca membuat orang tidak sabaran mengomentari sebelum benar-benar membaca secara menyeluruh.

Selain dalam hal proses menerima informasi, aspek literasi digital lainnya adalah sikap dalam menyebarkan informasi. Mudah menyebarkan berita tanpa menyaring keabsahannya terlebih dahulu. Bahkan, membuat konten digital yang tidak benar demi sebuah kepentingan.

Pernah saya terpana pada beranda Facebooknya suami teman saya yang me-repost artikel tentang “wanita yang kena azab akibat tidak menaati suaminya”. Isi tulisannya tidak lebih dari pendapat pribadi penulis yang menyudutkan kaum perempuan supaya tunduk di bawah keinginan suami.

Tidak hanya itu, gambar yang terpasang di postingan tersebut lebih membuat saya terpana lagi. Perempuan terkena azab itu adalah mayat yang diawetkan dari suku Toraja. Foto mayat di Toraja diramu dengan kepentingan pribadi menjadi arena basah kaum suami. Jadilah sebuah informasi hoaks.

menyebar hoax adalah salah satu bentuk rendahnya literasi digital
postingan hoaks dengan foto mayat di Toraja

Informasi hoaks dan prilaku di media digital ini sebenarnya memang menjadi fenomena yang sudah cukup sering terjadi. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi dan Katadata merilis hasil Survei Literasi Digital Nasional 2020, indeks literasi digital masyarakat Indonesia masuk kategori sedang, yakni 3,47 dari 5.

Berdasarkan hasil survei ini, ternyata 11,2 persen responden pernah menyebarkan berita bohong atau hoaks. Sedangkan 68,4 persennya mendistribusikan informasi sebelum melakukan verifikasi kebenarannya terlebih dahulu. Lalu, ada 56,1 persen tidak mengetahui bahwa itu berita hoaks karena kurangnya pengetahuan mengenai sumber informasi serta punya tujuan iseng dan ingin mempengaruhi orang lain.

Perempun dan laki-laki punya peran penting dalam memperbaiki posisi perempuan dalam keluarga dan sosial. Literasi digital ini perlu kita tingkatkan agar lebih bijak dalam menyikapi sebuah informasi serta bijak juga dalam menyebarkannya.

Pengertian Literasi Digital

Apa itu literasi? Sebelum menggabungkan dua kata di atas, yaitu kata “literasi” dan “digital”, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu pengertian literasi. Literasi adalah kemapuan seseorang dalam membaca, berbicara, menulis, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang dperlukan dalam kehidupannya sehari-hari.

Adapun literasi menurut UNESCO adalah seperangkat keterampilan, baik kognitif, menulis, atau membaca. Keterampilan tersebut dapat dikembangkan melalui banyak hal, misalnya penelitian akademik, pendidikan, pengalaman langsung, maupun nilai budaya.

Sedangkan literasi digital adalah kemampuan menggunakan media digital (berupa alat komunikasi atau jaringan) dalam menemukan, menggunakan, mengevaluasi, menciptakan informasi, dan memanfaatkannya secara bijak, sehat, cermat, cerdas, tepat, dan patuh pada hukum.

Aspek literasi digital sendiri kemudian terbagi dua, yaitu aspek konseptual dan operasional. Konseptual berarti fokus kepada pengembangan kongnitif hingga kemampuan sosial emosional. Adapun operasional merupakan kemampuan teknis menggunakan media digital.

Menulis Topik Isu Perempuan Lewat Blog

Sebenarnya, saya mulai mencoba serius menulis blog sejak akhir tahun 2019. Waktu itu, saya mengalami beberapa keresahan tentang peran perempuan ketika telah berumah tangga.

Mulai dari mengamati, mengalami, hingga mendapatkan berbagai referensi keagamaan dan budaya saat kuliah, membuat saya mendapatkan semacam panggilan hati untuk menyuarakan pikiran lewat tulisan. “Sebenarnya harusnya peran perempuan itu begini, bukan begitu.”

Ada hal-hal yang tidak sesuai antara kenyataan dan idealnya peran perempuan di tengah masyarakat kita. Meskipun tidak seluruhnya demikian, namun masih banyak saya kira. Misalnya kondisi di mana perempuan merasa bersalah ketika harus menjalani cita-citanya, harus menepis keinginan berkarya demi memenuhi keinginan suami, atau berdalih agama di balik ketidakberdayaan melawan budaya patriarki di lingkunganya.

Satu kasus yang paling melekat di pikiran saya adalah sebuah penelitian disertasi mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta. Isinya menuliskan diskriminasi peran perempuan dalam keluarga sebuah pesantren. Kekerasan psikis terhadapo perempuan dalam keluarga yang jarang orang sadari. Hak belajar, memberikan ide, mengambil keputusan, semua hanya ada pada suami. Bahkan ada kondisi di mana keluarga ingin membeli mobil, suami hanya meminta masukan dari santri dan tidak bertanya kepada istrinya sama sekali.

Selain masalah pengambilan keputusan, masih banyak teman, sesama perempuan, atau mereka yang tidak saya kenal di media sosial masih saja menganggap bahwa keputusan seorang suami adalah titah yang keramat. Suami tidak mengizinkan bekerja, ya istri tidak bekerja. Jika suami minta ini, minta itu, istri tidak merasa punya hak untuk menolak.

Kesetaraan gender bukan berarti mengalahkan kaum laki-laki, namun mengangkat diri dari kesewenangan orang lain, terutama akibat kesalahan berpikir, terperangkap budaya, hingga kepentingan pribadi yang berlindung di balik agama.

Ya, saya mungkin belum memiliki referensi yang kaya mengenai kesetaraan gender. Masih banyak orang lain yang jauh lebih banyak sumber referensinya. Namun, setidaknya dengan menulis mampu memberikan paradigma yang berbeda bagi sesama perempuan. Mampu membedakan mana yang bisa diperjuangkan dan mana yang memang perlu diikhlaskan.

Begitu pula bagi kaum pria yang sebenarnya mereka juga menginginkan yang terbaik bagi orang yang mereka cintai. Pria pada umumnya pasti ingin kehidupan yang baik bagi anak perempuan, ibu, istri, maupun saudara perempuannya.

Bukankah dalam sejarah juga laki-laki ikut serta dalam memperjuangkan kesetaraan gender? Kartini tidak berjuang sediri, tetapi bisa berhasil lewat dukungan kakak laki-lakinya. Beliau juga mendapatkan dukungan penting dari suaminya.

Mengapa Literasi Digital Penting Bagi Perempuan?

Kemajuan teknologi informasi mengharuskan penggunanya ikut serta dalam menciptakan konten digital. Entah itu tulisan, gambar, video, dan sebagainya. Turut andil dalam membuat tulisan digital ini bisa kita lakukan dengan meningkatkan aspek kognitif dalam membaca pesan digital serta menciptakan konten digital.

Kemampuan literasi digital penting supaya mampu meyaring hoaks, membedakan mana informasi yang benar dan keliru, serta bagaimana menanggapi sebuah konten. Tidak mudah marah dan emosi sebelum benar-benar membaca dan memahami sebuah pesan. Apalagi menyebarkan berita tertentu sebelum mengecek kebenaran dan akurasinya.

Selain kemampuan mencerna konten digital, literasi digital juga berarti skill dalam hal teknis. Tidak hanya berdiam diri dan pasif menerima informasi, tapi mampu membuat konten dan mengoperasikan perangkat digital.

Skill Menulis dan Editing Juga Penting dalam Meningkatkan Literasi Digital

Lewat media digital, perempuan bisa menyuarakan isi hati dan pikirannya dengan sangat leluasa. Kemampuan bawaan perempuan, yang konon unggul dalam kuantitas bicara dan stok bercerita yang banyak bisa dituangkan lewat tulisan seperti blog.

skill literasi digital adalah mampu menulis sesuai tata bahasa yang benar
kelebihan menulis sesuai tata bahasa Indonesia yang benar

Meski begitu, setiap tulisan di blog ini akan sangat baik jika diiringi kemampuan menulis yang baik dan benar sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUBEI). Mengapa demikian? Karena menulis dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar, tulisan di blog akan mudah dipahami, enak dibaca, mengurangi perdebatan tata bahasa, serta kemungkinan dilirik editor lebih besar. Ya, jika tulisan di blog dilirik editor bukan tidak mungkin jika tulisan kita menjadi buku yang akan dibaca lebih banyak orang. Bukankah itu tujuan menulis? Supaya orang lain bisa mendapatkan manfaat dari apa yang kita tulis.

Hal ini seperti disampaikan oleh Teh Gemaulani atau nama lengkapnya Teh Gilang Maulani dalam materi “Menulis dan Editing” di kelas online Kelas Growthing Blogger (KGB) batch #2 pada malam selasa, 11 Januari 2020.

“Blog memang bersifat lebih personal. Namun, bukan berarti kita tidak memperhatikan tentang Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang sudah berubah menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Iya, penulisan yang sesuai kaidah itu penting, sekalipun kita memadukannya dengan kata yang tidak baku.” Begitu kata Teh Gilang saat memulai materinya.

Referensi :
https://literasinusantara.com/literasi-digital-pengertian-tantangan-dan-peluang/
https://penerbitbukudeepublish.com/arti-literasi-digital-menurut-para-ahli/
https://kominfo.go.id/content/detail/30928/siaran-pers-no-149hmkominfo112020-tentang-hasil-survei-indeks-literasi-digital-nasional-2020-akses-internet-makin-terjangkau/0/siaran_pers

Keterampilan menulis dan editing akan melengkapi kualitas konten yang bermanfaat di blog. Tulisan yang memiliki spirit perlu dilengkapi skill literasi digital yang baik. Salam hangat.

48 pemikiran pada “Sebuah Coretan Tentang Perempuan dan Literasi Digital”

  1. Benar sekali mbak, perempuan juga harus belajar untuk menguasai literasi digital. Supaya perempuan bisa menyuarakan hak-haknya melalui tulisan dan bisa membuat konten positif yang bermanfaat bagi orang banyak

    Balas
    • Yup. Saya setuju. Sepertinya memang tingkat literasi digital kita masih rendah,terutama di kalangan perempuan, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan. Mereka jarang membaca baik online maupun offline, sehingga tidak melek literasi. Dan yaaa mudah dipengaruhi. Ini peran kita juga sih, bagaimana kita mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya literasi digital bagi siapapun

      Balas
  2. Sedih ya kalau melihat banyak berita bohong dimana mana. Kitanya juga asal menyimpulkan berita itu benar atau tidak hanya dari gambarnya saja. Memang gambar bisa menceritakan banyak hal. Tapi kalau kata kata yang menyertai gambar salah, yang baca ikut tersesat dong. Seperti mayat yang diawetkan tadi. Kita harusnya mempelajai dulu budaya suku Toraja yang memang mengawetkan jenazah. Kok yo ada orang yang mengaitkan dengan adzab. Masya Allah.Berarti mayat suku Toraja yang diawetkan semua itu kena adzab dong. Kasihan suku Torajanya. Jadilah pintar melenalah berita, biar kita tak tersesat dan menyesatkan. Caranya ya lewat literasi digital. Menyampaikan konten yang baik dan jauh dari hoaks.

    Balas
    • Yess, setuju banget aku tentang pentingnya perempuan melek literasi digital. Bukan hanya tentang kesetaraan gender, tapi juga karena perempuan khususnya ibu adalah madrasah utama anak2nya.. jadi ketika perempuan melek literasi digital, diharapkan akan lahir generasi2 yang nggak mudah terpapar hoax.

      Balas
  3. Aku fokus gambar yang mayat toraja kak, hahaha. Iya ya sering sekali kita menelan hoaks. dan banyak lagi hoaks hoaks yang tersebar dipercayai begitu saja, khususnya kaum kita. Perempuan. Sedihnya itu disampaikan pula ke anak anak ya.

    Balas
  4. Suka banget dg artikelnya Mbak Iim ini… Mengingatkan perempuan terhadap fitrah dan perannya ya apalagi sebagai istri dan ibu pasti tanggung jawabnya besar ya. Setuju, ngeblog gak perlu keluar rumah dan tetap bs menyuarakan aspirasi kita ya

    Balas
  5. Artikel kak iim jadi membuat saya teringat. Beberapa waktu yang lalu, ada berita muncul di Tr*b*n mengenai wanita meninggal karena pemutih kulit. Wanita yang dikabarkan itu memang berkulit putih, asli sumatera. Tapi, faktanya, beliau meninggal karena preeklamsia , alhamdulillah bayinya selamat.

    Bayangin kak, perempuan yang lagi berjuang melahirkan dan taruhan nyawanya pun enggak lepas dari pemberitaan yang aneh. Itupun ketawan setelah banyak yang berbondong-bondong mengomentari berita tersebut kalau beritanya hoax dan sudah terkonfirmasi oleh suaminya melalui akun fb kalau meninggalnya karena preeklamsia berat.

    Balas
  6. Topik literasi ini memang sedang booming banget ya, Mbak, terlebih literasi digital, di mana kehidupan kita lebih banyak ter-connect dengan dunia maya. Keterampilan menulis dan membaca memang menjadi krusial di dunia di mana tatap tergantikan alat. Salah tulis atau salah memahami bisa berakibat fatal.

    Balas
  7. Waduh, parah banget itu sih hoaxnya. Gitu itu yah grup WA, banyak share berita hoax. Aku kezelnya malah grup kantor, yang aku kaan engga bisa leave group. Penting tuh literasi digital, dibaca cermat semuanya. Jadi engga malu-maluin kalau salah…

    Balas
  8. Penulisan artikel yang baik dan benar, pemilihan diksi yang teliti, juga akan berpengaruh pada pembaca ya, Mbak (meski tak semua pembaca membaca utuh tulisan kita).
    Terus semangat menyuarakan keresahan-keresahan tentang perempuan, Mbak, dengan tulisan-tulisan yang apik dan menginspirasi 🙂

    Balas
  9. Zaman now, saya rasa tidak hanya saja kaum perempuan, Mbak. Kaum Laki-laki pun harus melek soal literasi digital ini. Karena sudah setiap hari, kita bersinggungan dengan dunia digital. Terjebak judul salah satu berita saja, bisa jadi perdebatan seru.

    Balas
  10. Astaga aku tadi kaget tentang mayat di Toraja itu.
    Karena aku cukup familiar sama mummynya. Pernah kesana dan lihat langsung. Pengen aku cubit yang bikin berita azab.
    Sudah saatnya lebih cerdas dalam menyebarkan infromasi ya kak

    Balas
  11. Saya juga agak kurang nyaman dengan sesuatu yang mengatasnamakan agama tapi sebenernya menekan kaum perempuan dan menjebaknya dalam patriaki. Agama (saya seorang muslim) malah memberikan banyak kesempatan untuk perempuan.

    Makanya, perempuan, yuk melek literasi digital

    Balas
    • Wah bener banget kak, penting pengunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di blog. Semoga aja pelajaran literasi digital ada di sekolah-sekolah negeri di Indonesia.

      Balas
  12. Foto hoaxnya itu ngeriii ya ampuunn.
    Perempuan emang harus melek literasi sih, kalau ngga, anak2nya bakal kebawa jugaa. Percaya sana sini sebelum memastikan kebenarannya

    Balas
  13. Suka gemes deh kalau ada berita hoax. Orang asal main share aja tanpa kroscek dulu kebenaran postingan tersebut. Makanya literasi digital ini emang perlu ditingkatkan ya mbak, biar gak gampang percaya dengan berita yang beredar

    Balas
  14. Pentingnya memahami literasi digital memungkinkan kita tidak mudah terjerat pada informasi yang tidak benar.hoax terutama di media sosial. Informasi yang belum jelas kebenarannya terkadang lebih mudah menyebar, dan hal semacam itu seolah sudah menjadi konsumsi publik yang sulit untuk dihilangkan. Padahal jika kita memahami literasi digital, kita dapat menyaring mana informasi yang benar dan mana yang hoax.

    Balas
  15. Kita bisa melawan hoax jika dilengkapi dengan kemampuan literasi yang memadai. Apalagi di jaman serba cepat dan digital seperti sekarang ini, literasi digital harusnya menjadi hal yang “sedikit” wajib kali ya..

    Balas
  16. Yang sering terjadi, hoax itu ditelan mentah2 tanpa mencari tau sumber yang pasti.
    Makanya kita harus selalu melek sama yang namanya literasi digital, biar lebih cerdas juga.

    Balas
  17. Ternyata literasi digital lekat dengan peran perempuan ya mbak. Karena ditangan perempuan akan terbentuk generasi cerdas. Jadi memang perempuan harus melek literasi digital untuk dapat mengajarkan yang terbaik bagi anak-anaknya

    Balas
  18. Ya, saya pernah menjadi penyebar hoax. Tapi itu dulu sekali. Dan saya malu banget kalau mengingatnya. He-he. Sekarang alhamdulillah kalau mau post sesuatu pikir-pikir dulu. Sering juga setelah menulis panjang-panjang malah dihapus, karena ada kekhawatiran menyinggung kelompok tertentu. Malah sekarang penginnya menulis itu sesuai EBI juga, biar kalau kapan-kapan dibutuhkan sudah lancar.

    Balas
  19. Memang ya, Mba. Miris banget deh kalau ada berita hoax yang beredar di beranda sosial media. Baru-baru ini juga ada yang share berita hoax. Aku langsung komen saja agar tidak sembarangan share berita yang tidak jelas sumbernya.

    Balas
  20. Waktu pernah ikutan google digital literacy campaign dimana kita diajarkan bagaimana caranya memfilter berita-berita hoax dan mendapatkan informasi yh sebenarnya.

    Balas
  21. BTW, Saya sendiri adalah orang yang masih menganggap permintaan suami adalah keramat mbak, Karena yang diminta selalu kepada kebaikan sih. Semoga profesi kita sebagai blogger bisa menyuarakan suara hati para perempuan ya mbak.. yang lebih ngerti, memberi pengertian yang belum tahu. Semangat demi kebaikan 🙂

    Balas
  22. Artikel ini bagus mbak dan ada hubungannya juga dengan kemampuan tingkat berpikir. Semakin tinggi tingat kemampuan berpikir seseorang, dia akan bisa mencerna informasi yang dia terima, tidak setengah-setengah melainkan keseluruhan informasi.

    Namun kemampuan ini juga harus dilatih, sayangnya dengan sosial media seperti instagram contohnya, terkadang orang lebih memilih untuk scrolling dibandingkan membaca informasi yang ditulis. Orang berusaha menangkap informasi (melalui gambar, video dst) sebanyak-banyaknya, tapi di akhir sebenarnya hanya mendapatkan sangat sedikit dari informasi yang sepotong sepotong tadi.

    Satu lagi, orang juga harus berhenti membuat meme dengan wajah orang lain.

    Balas
  23. Menulis itu ga sembarang menulis ya, ada teknik nya. Karena tulisan harus banget bisa sampai pesannya ke para pembaca 🙂 semangat mba

    Balas
  24. saya suka banget dengan hal-hal yang membahas perempuan, termasuk kemampuan mereka dalam menghadapi dunia teknologi. perempuan zaman sekarang memang harus melek soal literasi digital agar tidka termakan isu-isu yang tidak bertanggung jawab, dan pastinya mereka nanti yang banyak mengarahkan ke anak-anak

    Balas
  25. Poin penting nya ini, Literasi digital memang perlu untuk ditingkatkan apalagi kebanyakana hoak bertebaran di wa grup. Itu ngeri ngeri sedap. Pernah nih temen aku share berita hoax dengan link nya juga gak jelas, untung gak banyak yang kena tipu gara gara berita nya palsu.

    Balas
  26. saatnya untuk terus belajar dan menambah kecakapan agar kita makin bisa bersikap khususnya saat berhadapan dengan gawai maklum siang malam sama ini barang kan ya, berlaku untuk semua lho ya

    Balas
  27. yess setuju banget, di era digital saat ini banyak sekali tulisan-tulisan propaganda ataupun bohong. tentu literasi digital ini sangat penting untuk dilakukan agar kita dapat mensortir informasi yang akan masuk ke dalam kepala

    Balas
  28. Bangga banget asli deh jadi adek kelasnya teh Iim. Suka banget tiap tulisan tulisan teh Iim di blog. Apalagi yang satu ini. Yaps, sebagai bekal aku di next, biar bisa dan selalu nulis sesuai dengan tatanan bahasa. Makasi ya teh udah berbagi

    Balas
  29. Bener mbak, literasi digital penting untuk diterapkan apalagi kalau kerja jadi bloger atau influencer. Suka gemes kalau di grup udah diberi brief detail ternyata masih tanya hal yang ada di brief ehehehe

    Balas
  30. penting banget buat mencerna sebuah berita agar nggak termakan hoaks
    apalagi teknologi sekarang canggih bener, nyebarin berita nggak bener yang ujung ujungnya mungkin menyinggung pihak lain sangat nggak dibenarkan juga

    Balas

Tinggalkan komentar