“Sudah sekolah tinggi-tinggi kok cuma jadi ibu rumah tangga?” Sebuah komentar klasik yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Stetmen ini sedikit banyak bisa bikin gusar kaum perempuan yang memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga pasca menikah atau sejak mulai memiliki momongan.

Sebenarnya, rasa tersinggung dan gusar menerima pendapat ini berawal dari ketidakyakinan akan pilihan yang kita buat. Jika seorang perempuan memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga atas keputusan yang kuat, maka sudah tidak perlu lagi ada baper-baperan menerima komentar semacam itu.

Sekarang Perempuan Bisa Berkarya di Mana Saja

Terlebih lagi di era sekarang ini, tidak ada batas antara ranah domestik dan ranah publik. Artinya, entah seseorang berangkat ngantor atau di rumah, tidak akan dipandang sebelah mata. Saat ini, sudah banyak pekerjaan bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja.

Apa hubungannya dengan Ibu Rumah Tangga nih? Jadi, ketika seorang istri hanya mengurus rumah, dia masih punya banyak sekali peluang untuk tetap maju dalam banyak hal. Tidak kalah bergengsi dengan perempuan kantoran atau yang memiliki titel semisal bidan, menteri, guru, dan lain-lain.

Banyak ibu-ibu yang ternyata dengan tinggal di rumah bisa menekuni hobi, menemukan komunitas yang keren dan menyenangkan, membuka lapangan pekerjaan, membuka klinik kecantikan, menjadi content creator terkenal, dan lain-lain.

Nah, berkat fenomena semacam itu, perempuan yang di rumah atau “ngantor” seharusnya sekarang tidak lagi mendapatkan perbedaan kedudukan. Termasuk, perbedaan rasa gengsi. Hal ini sangat cocok bagi kaum perempuan yang masih mengidamkan produktivitas meskipun tanpa status wanita karir.

Ketika Harus Menjadi Ibu Rumah Tangga Murni, Pilihan Sendiri atau Paksaan?

Lalu, bagaimana jika perempuan di rumah benar-benar “hanya” mengurus rumah tangga seperti tradisi lama? Istilahnya “dapur, sumur, kasur” tanpa ada kegiatan berkarya, berbisnis, atau sejenisnya.

Sebenarnya, setiap apa yang kita jalani sifatnya selalu subjektif. Hanya kita sendiri yang merasakan itu secara pribadi. Kuncinya adalah apakah itu sudah menjadi pilihan kita, atau paksaan dari pihak lain?
Jika ternyata kita menjalani semua itu karena “terpaksa”, berarti ada masalah, nih. Bunda perlu bertanya lagi ke dalam diri sendiri apa yang Bunda inginkan dan berusaha untuk melakukan apa yang Bunda inginkan itu. Tentunya dengan dukungan dari orang-orang terdekat.

Sebaliknya Bunda yang memutuskan hanya di rumah meskipun dengan aktivitas “dapur sumur kasur” ini atas keinginan sendiri, berarti selamat Bun! Bunda masuk golongan Ibu Rumah Tangga keren. Kenapa keren? Tentu saja karena Bunda bisa dikategorikan kelompok perempuan yang merdeka, mandiri, dan bahagia. Hihiy.. lebay nggak sih? wkwk

Ibu Rumah Tangga Itu Keren Jika Merupakan Pilihan Sendiri

Saya pribadi menemukan banyak sekali kenalan dan teman-teman sesama ibu-ibu rumah tangga tulen yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Tidak jarang pula mereka yang sebelumnya pernah bekerja di sebuah instansi bergengsi ataupun bekerja dengan profesi yang tergolong bonafit.

Salah satu teman saya, merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya memiliki pengalaman kerja cukup lama. Ia dulunya seorang editor buku di sebuah penerbit ternama.

Namun, semenjak lahir anak kedua, ia merasa harus menjaga anak-anaknya yang masih kecil sendiri. Alasannya, selain karena suaminya juga termasuk memiliki penghasilan yang cukup mapan, juga ingin mencurahkan waktu lebih banyak untuk keluarga.

Ya, naluri keibuannya mendorongnya untuk memilih bersama anak-anak setiap hari supaya kasih sayang lebih dapat tercurahkan, katanya. Selain berkaitan dengan pengasuhan anak, ia juga merasa sangat menikmati kesehariannya. Memasak untuk suami dan anak-anak, mengantar jemput anak-anak ke sekolah setiap hari, membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian keluarga kecilnya, dan lain-lain.

Ketika saya bertanya, “apa tidak ada keinginan nyambi bisnis atau kegiatan apa gitu?” Dengan sederhana ia mengatakan bahwa ia hanya ingin fokus dengan keluarganya saja. Tidak ada minat melakukan kegiatan lain. Apakah malas? Tentu bukan. Ini hanya karena pilihan saja. Hanya itu.

Menjalani Peran Rumah Tangga, Punya Kedudukan Tinggi dalam Pandangan Agama

Salah satu kisah teman saya di atas menambah kesadaran saya pribadi bahwa sebenarnya apa yang dijalani seorang perempuan yang sudah menikah itu hebat selama itu adalah keinginannya sendiri.

Terlebih lagi jika kita menilai dari sudut pandang yang lebih prinsip dan ideologis seperti agama. Kita paham betul bahwa peran istri dan ibu rumah tangga itu nilainya sangat tinggi dalam pandangan agama.

Kodrat perempuan yang sifatnya mendasar seperti mengandung, melahirkan, dan menyusui saja, dalam agama sudah merupakan pahala yang sangat besar. Bahkan, ketika perempuan melahirkan anaknya, ia seolah kembali bersih dari dosa-dosanya sebagaimana bayi baru lahir. Kepayahan selama mengandung dan lelahnya menyusui serta merawat bayinya memiliki nilai tiada tara dalam pandangan agama.

Bagaimana jika ditambah dengan melakukan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya? Apalagi dengan kegiatannya itu sang istri benar-benar sangat menyenangkan hati suami dan anak-anaknya. Peran istri dan ibu seperti ini adalah sosok yang sangat beruntung, karena merupakan calon penghuni surga yang dengan leluasa memilih surga mana yang ia inginkan.

Wow, keren banget ya! Saya sih tidak bermaksud menjadi penyuluh agama ya Bun… hehe.. Cuma, hal yang paling identik dengan pengorbanan perempuan setelah menikah adalah ideologi agama. Motivasi agama seringkali menjadi hal yang sangat dominan bagi perempuan beriman supaya tetap berdiri teguh dengan pilihannya ini. Tidak goyah oleh godaan dan persepsi siapapun.

Pilihan Mantap Berarti Tidak Perlu Lagi Beper oleh Pendapat Orang

Kalau ada ibu rumah tangga yang masih mengeluhkan kondisinya sehari-hari, artinya memang harus mengoreksi dirinya. Jangan-jangan ia tidak cocok menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Kok bisa?

Bukan hanya itu, bisa jadi harus melakukan hal lainnya dan meminta dukungan orang terdekat supaya tidak terpaku dalam rutinitasnya. Dalam keadaan yang sangat urgen seperti mengalami ketidakadilan dalam keluarga, misalnya kekerasan psikis dalam rumah tangga maupun fisik, maka harus menemukan jalan untuk “melarikan diri”. Artinya memerlukan lingkungan lain selain di rumah, contoh sederhana tempat kerja atau lainnya.

Kaya di tulisan saya: Inilah Beberapa Kondisi Darurat Bagi Istri untuk Tetap Mempertahankan Karirnya

Sebaliknya, jika rutinitas dan peran di rumah merupakan pilihan kuat, maka sudah tidak perlu lagi terpengaruh dengan apapun. Ya, mungkin sesekali mengalami ujian dengan perasaan bosan, salah memilih, dan lain-lain. Namun, kita akan kembali nyaman jika sudah menjadi pilihan kuat.

Ketika Bunda sudah menikmati peran, pendapat negatif orang akan kita pandang sebagai “ketidaktahuan” saja. Bahkan penilaian orang lain itu bisa berubah apabila mereka mengenal Bunda lebih dekat. Terlebih lagi jika melihat Bunda menikmati dan bahagia dengan peran Bunda.

Beda halnya jika Bunda tanggapi dengan emosional atau baper apalagi sampai istilahnya “ngegas” wkwk. Orang lain yang punya stigma negatif akan semakin beranggapan bahwa pendapat mereka benar. Ibu rumah tangga itu tidak bergengsi. Nyatanya, selain tidak punya titel, mereka juga tidak bahagia. Begitu kira-kira.

Menjadi ibu rumah tangga murni pada saat ini seringkali menjadi dilema. Namun, bila keputusan kita sudah punya alasan dan prinsip yang kuat, maka peran tersebut dapat kita nikmati. Yuk, baca juga Suka Duka Menjadi Ibu Rumah Tangga.

Berita sebelumyaMengetahui 8 Ciri Hamil Bayi Perempuan Sejak Trimester Pertama
Berita berikutnyaAlasan Perempuan Harus Mempertahankan Pekerjaan Setelah Menikah

3 KOMENTAR

  1. Apapun pilihannya, tiap ubu harus yakin bahwa itu yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya.
    Omongan orang mah cukup didengar jangan sampai ke hati. Biar tetap sehat jiwa raga.
    Hari ini banyak hal bisa dilakukan dari rumah. Jadi jangan baper lagi.

  2. Saya setuju, bahwa hal yang paling utama bagi perempuan yang sudah menikah adalah anak-anak dan keluarganya. Pada saat anak-anak mendapat pendidikan dan pengasuhan yang baik dari ibunya, itulah posisi paling mulia bagi seorang perempuan. Ini impian bagi kita, ya? Karena balasannya adalah surga…masyaallah… 😍

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here