Handuk Basah
Sore itu, seperti biasa, Lala membuka pintu kamar dan langsung berhenti di ambang.
Ada bau lembap yang tidak asing.
Bukan bau hujan. Bukan juga bau tanah. Tapi bau kain basah yang dibiarkan terlalu lama.
Ia menoleh ke arah kasur. Di sana, tergeletak handuk abu muda milik ayahnya— masih basah, tepat di atas sprei yang pagi tadi baru diganti ibunya.
Lala menghela napas pelan.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil handuk itu. Dingin di tangan. Airnya masih menetes sedikit. Ia membawanya ke belakang, memerasnya sebentar, lalu menggantungnya di jemuran.
Dari dapur, suara ibunya terdengar.
“Lala, itu handuk ayah kamu lagi ya?”
“Iya, Bu.”
Tidak ada lanjutan. Tidak ada keluhan. Tidak ada nada tinggi.
Tapi Lala tahu, itu bukan hal yang sepele.
Ayahnya, Arman, bukan orang yang buruk.
Kalau orang luar melihat, mungkin mereka akan bilang ibunya beruntung. Ayahnya pekerja tetap, penghasilannya cukup, tidak pernah kasar, tidak pernah membentak tanpa alasan.
Ia juga bukan tipe yang pulang malam tanpa kabar. Tidak pernah membawa masalah besar ke dalam rumah.
Di atas kertas, semuanya terlihat baik.
Tapi hidup di dalam rumah itu berbeda.
“Mas, handuknya jangan ditaruh di kasur, ya. Nanti jadi bau,” kata ibunya suatu malam.
“Iya,” jawab ayahnya singkat, matanya tidak lepas dari ponsel.
Besoknya, hal yang sama terulang.
Dan hari-hari berikutnya juga begitu.
Seolah-olah kata-kata itu hanya lewat, tanpa pernah benar-benar sampai.
Bukan cuma handuk.
Kaos kaki sering ditemukan di bawah bantal. Kadang di sela-sela selimut. Pernah juga Lala menemukannya di atas meja belajar.
Piring kotor dibiarkan begitu saja, padahal wastafel hanya beberapa langkah dari meja makan.
Baju kerja digantung sembarangan di kursi, bahkan ketika keranjang cucian ada tepat di sebelahnya.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang mungkin terlihat remeh.
Tapi terjadi setiap hari.
Ibunya, Dina, adalah orang yang memperhatikan detail.
Ia suka rumah yang rapi. Ia menikmati saat-saat kecil seperti merapikan tempat tidur, menyusun bantal dengan posisi yang pas, atau mengganti taplak meja dengan yang baru.
Bagi ibunya, hal-hal itu bukan sekadar pekerjaan rumah.
Itu cara ia merasa nyaman.
Cara ia merasa rumah adalah tempat yang layak ditinggali.
Tapi bagi ayahnya, semua itu tidak terlalu penting.
“Yang penting kan bersih,” begitu katanya suatu kali.
Ibunya hanya tersenyum tipis.
Tidak membantah.
Lala tumbuh di antara dua cara pandang yang berbeda.
Yang satu melihat detail sebagai sesuatu yang berarti.
Yang satu lagi menganggap detail itu tidak perlu dibesar-besarkan.
Dan di tengah-tengah itu, ada banyak hal kecil yang terus bertabrakan.
Daftar Isi
Hal-Hal yang Terulang
Suatu malam, ibunya mengajak makan bersama di meja.
Ia menyalakan lilin kecil, hanya satu, di tengah meja. Katanya, biar suasananya lebih hangat.
Lala senang. Sudah lama mereka tidak makan dengan suasana seperti itu.
Ayahnya duduk, membuka ponsel sebentar, lalu mulai makan.
Semuanya berjalan biasa saja.
Sampai selesai makan.
Ayahnya meniup lilin itu dengan santai, seperti meniup api di dapur.
Cairan lilin yang sudah meleleh terciprat ke taplak baru.
Taplak yang ibunya beli beberapa hari sebelumnya.
Ibunya diam.
Tangannya berhenti bergerak. Matanya menatap noda kecil itu cukup lama.
Ayahnya tidak menyadari apa-apa.
Ia sudah kembali ke ponselnya.
Tidak ada pertengkaran malam itu.
Tidak ada suara tinggi.
Tapi sejak saat itu, Lala mulai melihat perubahan.
Bukan perubahan besar.
Lebih seperti sesuatu yang pelan-pelan berkurang.
Ibunya jadi lebih sering diam.
Ia tetap melakukan semuanya—memasak, merapikan rumah, mencuci, menyiapkan keperluan Lala.
Tapi tidak lagi dengan cara yang sama.
Tidak lagi dengan antusias.
Pernah suatu hari, ibunya kembali mengingatkan.
“Mas, kalau habis mandi, handuknya digantung ya.”
Ayahnya mengangguk.
“Iya.”
Nada yang sama. Jawaban yang sama.
Dan hasilnya juga sama.
Lala mulai sadar, masalahnya bukan pada satu kejadian.
Bukan pada handuk.
Bukan pada kaos kaki.
Bukan pada piring kotor.
Tapi pada sesuatu yang lebih dalam.
Tentang didengar atau tidak.
Tentang dianggap atau tidak.
Di luar rumah, ayahnya tetap seperti biasa.
Ia orang yang bisa diandalkan. Teman-temannya menghormatinya. Atasannya percaya padanya.
Tidak ada yang salah.
Tapi di dalam rumah, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bertemu.
Seperti dua orang yang berjalan di jalur yang sama, tapi tidak pernah saling menoleh.
Rumah yang Berubah Sunyi
Perceraian itu datang tanpa ledakan besar.
Tidak ada piring pecah. Tidak ada teriakan.
Hanya percakapan panjang di ruang tamu.
Lala tidak mendengar semuanya.
Ia hanya tahu, setelah malam itu, ayahnya tidak lagi tinggal di rumah.
“Cuma karena hal-hal kecil begitu?” kata neneknya suatu hari.
Lala tidak menjawab.
Ia tahu maksud neneknya.
Dari luar, memang terlihat kecil.
Ayahnya tetap orang yang sama.
Ia masih datang sesekali. Masih menanyakan kabar. Masih memberikan uang untuk kebutuhan Lala.
Tidak ada yang berubah dari cara ayahnya memperlakukan dunia luar.
Tapi Lala tahu, ada banyak hal yang neneknya tidak lihat.
Hal-hal yang terjadi setiap hari.
Yang diulang.
Yang diabaikan.
Yang tidak pernah benar-benar selesai.
Rumah jadi lebih sepi.
Lebih rapi juga.
Tidak ada lagi handuk basah di kasur.
Tidak ada lagi kaos kaki di tempat yang aneh.
Tidak ada lagi piring yang tertinggal di meja.
Tapi sepi tetap terasa.
Karena rapi tidak selalu berarti hangat.
Ibunya menjalani hari-hari seperti biasa.
Bangun pagi. Menyiapkan sarapan. Membersihkan rumah. Menemani Lala belajar.
Semuanya berjalan.
Tapi Lala tahu, ibunya masih menyimpan banyak hal.
Waktu berjalan.
Satu tahun lewat tanpa terasa.
Dan di tahun itu, perlahan-lahan, sesuatu mulai berubah lagi.
Cara yang Berbeda
Namanya Bima.
Lala pertama kali bertemu saat ibunya mengajaknya makan siang di rumah.
Tidak ada yang mencolok dari penampilannya.
Sederhana. Biasa saja.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dari caranya bersikap.
Saat masuk rumah, ia berhenti di depan pintu.
Sepatunya dilepas dengan rapi, diletakkan sejajar.
Ia membawa payung.
“Basah, boleh saya gantung di luar?” tanyanya.
Ibunya mengangguk.
Hal kecil.
Tapi Lala memperhatikan.
Mereka makan bersama.
Setelah selesai, Bima mengangkat piringnya sendiri.
Tidak ada yang menyuruh.
Ia hanya melakukannya.
Hari-hari berikutnya, Lala mulai melihat kebiasaan-kebiasaan lain.
Bima selalu merapikan kembali kursi setelah digunakan.
Ia memperhatikan hal-hal yang sebelumnya sering diabaikan di rumah itu.
Suatu kali, ia memperbaiki engsel pintu kamar yang sudah lama berbunyi.
“Biar nggak berisik,” katanya ringan.
Ibunya tidak banyak bicara.
Tapi Lala bisa melihat perbedaannya.
Cara ibunya bergerak. Cara ibunya menjawab. Cara ibunya tersenyum.
Semua terasa lebih ringan.
Suatu sore, mereka duduk bertiga di ruang tamu.
Bima membawa beberapa buah.
Ia memotongnya, tapi bentuknya tidak rapi.
Lala tertawa.
Ibunya ikut tertawa.
Bima juga.
Suasana itu sederhana.
Tapi terasa hangat.
Lala tidak membandingkan.
Ia hanya memperhatikan.
Dan dari situ, ia mulai mengerti sesuatu yang dulu tidak ia pahami.
Bahwa hubungan bukan hanya tentang siapa yang hatinya baik.
Bukan hanya tentang tanggung jawab.
Tapi juga tentang keserasian satu sama lain.
Ayahnya tidak pernah bermaksud menyakiti.
Itu Lala tahu.
Tapi ketidaksengajaan yang terjadi terus-menerus, tetap bisa meninggalkan luka.
Ibunya juga bukan orang yang berlebihan.
Ia hanya ingin didengar.
Ingin hal-hal yang penting baginya tidak dianggap sepele.
Dan ketika dua hal itu tidak pernah bertemu, yang terjadi bukan ledakan.
Tapi pengikisan.
Pelan-pelan.
Hingga akhirnya habis.
Suatu malam, Lala berdiri di belakang rumah.
Angin berembus pelan.
Di jemuran, handuk tergantung rapi.
Kering.
Tidak ada lagi bau lembap yang dulu sering ia temui.
Lala menatap ke dalam rumah.
Ibunya sedang berbicara dengan Bima di ruang tamu.
Tidak ada yang istimewa.
Hanya percakapan biasa.
Tapi entah kenapa, suasana itu terasa pas.
Tidak berlebihan.
Tidak juga kurang.
Dan di situlah Lala memahami sesuatu yang selama ini ia cari jawabannya.
Bahwa hidup bersama seseorang bukan hanya tentang bertahan selama mungkin.
Tapi tentang apakah dua orang bisa saling menjaga hal-hal kecil yang berarti bagi satu sama lain.
Karena pada akhirnya,
yang terlihat sepele, kalau terjadi setiap hari,
bisa menjadi alasan seseorang memilih pergi.
NB: Cerpen ini diadaptasi dari kisah di media sosial tentang seorang suami yang selalu menaruh puntung rokok di pot bunga milik istrinya. Diceritakan oleh anak gadisnya, sang ibu sangat suka berkebun dan merawatnya. Di sana juga diakhiri dengan statement terkenal (mungkin asalnya dari kisah ini), bahwa: “Seumur hidup itu lama”.
