Antara Humanisme Vs Tuntutan Moral dalam Cerpen Saya
Awalnya, saya menulis cerpen bukan dengan niat serius untuk melanjutkannya. Cerpen pertama saya yang berjudul Datang Saat Habis lahir begitu saja, terinspirasi dari potongan video yang saya lihat di YouTube.
Ceritanya sederhana, tentang dua orang yang sudah cukup matang untuk menikah, tetapi si perempuan justru merasa ragu ketika bertemu keluarga calon suaminya. Bukan karena ditolak, melainkan karena suasana yang dingin—tidak disambut, tapi juga tidak diusir. Sebuah pengabaian yang halus, tapi terasa.
Di titik itu, saya hanya ingin bercerita. Tidak lebih.
Namun, setelah menulis beberapa cerpen dengan nuansa percintaan—terutama yang menggambarkan hubungan pacaran—saya mulai merasa gelisah. Ada rasa bersalah yang pelan-pelan muncul. Saya seperti menyadari bahwa tanpa sadar, saya sedang “mempromosikan” sesuatu yang sebenarnya saya sendiri ragukan nilainya.
Daftar Isi
Sisi Humanisme Saya
Kalau ditanya, apa sebenarnya yang ingin saya lakukan dalam cerpen, jawabannya sederhana: saya ingin bebas.
Saya ingin menulis apa saja. Bahkan hal-hal paling liar sekalipun yang muncul di pikiran saya.
Dalam cerpen saya, saya pernah mengangkat berbagai konsep yang tidak selalu berangkat dari agama atau moral. Misalnya, kepercayaan tentang twin flames, tentang dua jiwa yang sudah terhubung sejak sebelum lahir. Atau mitos tentang kehamilan yang memengaruhi karakter anak. Bahkan saya pernah terinspirasi dari drama Legend of the Blue Sea—tentang putri duyung yang hanya mencintai satu orang seumur hidupnya, dan hidupnya bergantung pada cinta tersebut.
Saya tahu, sebagian dari ini terdengar tidak masuk akal. Bahkan saya sendiri tidak sepenuhnya percaya. Tapi entah kenapa, ada bagian dalam diri saya yang ingin tetap mengangkatnya. Bukan untuk dibenarkan, tapi untuk diceritakan.
Karena bagi saya, itulah humanisme. Mengangkat sisi manusia apa adanya—dengan segala kepercayaan, emosi, dan imajinasi yang tidak selalu rapi.
Selain itu, saya juga sering menulis berdasarkan emosi.
Misalnya, ketika saya membaca komentar di media sosial tentang suami yang memberi sedikit, tapi merasa sudah memberi segalanya. Komentarnya ramai, penuh curhat, penuh amarah, penuh pembelaan. Saya ikut terbawa emosi. Dan dari situlah lahir ide cerpen seperti Uang 50 Ribu.
Padahal, kalau dipikir ulang, pengalaman pribadi saya sendiri tidak selalu seperti itu. Ada momen emosi, iya. Tapi juga ada momen yang biasa saja, bahkan baik-baik saja. Artinya, cerpen itu bukan realitas utuh—melainkan potongan emosi yang diperbesar.
Di sinilah saya mulai sadar, bahwa mengikuti emosi juga punya risiko. Cerita yang saya buat bisa menjadi terlalu pahit. Terlalu berat. Bahkan bisa membentuk persepsi yang tidak seimbang.
Tuntutan Profesi dan Moral
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Saya adalah seorang dosen. Dan bukan hanya itu, saya mengajar di kampus Islam negeri. Lebih spesifik lagi, di Fakultas Dakwah.
Di titik ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri: pantaskah saya menulis seperti ini?
Beberapa cerpen saya memang terasa “keluar jalur”. Ada yang meromantisasi pacaran. Ada yang menggambarkan kedekatan laki-laki dan perempuan tanpa batas yang jelas. Padahal, dalam realitas yang saya pahami, hubungan seperti itu seringkali tidak sehat.
Saya pernah mengalaminya sendiri.
Hubungan yang posesif. Yang membatasi pergaulan. Yang membuat saya harus menjelaskan setiap langkah. Bahkan hal sederhana seperti berbicara dengan orang lain bisa memicu konflik. Ada juga pengalaman ketika saya sedang mengikuti kegiatan positif, tetapi justru dianggap tidak menghargai hubungan.
Dari situ saya belajar bahwa hubungan tanpa batas yang jelas justru bisa melelahkan, bahkan menyakitkan.
Belum lagi fakta bahwa hubungan seperti itu bisa mengarah pada hal-hal yang tidak seharusnya. Situasi yang terlihat sederhana bisa berkembang ke arah yang lebih jauh jika tidak ada batas.
Di sinilah saya merasa bersalah.
Karena dalam cerpen, saya sempat menggambarkan hubungan itu seolah indah. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu.
Selain itu, saya juga mulai mempertanyakan bagaimana saya menggambarkan pernikahan. Beberapa cerpen saya terasa terlalu pahit. Terutama untuk peran perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Seolah-olah menjadi ibu rumah tangga itu selalu sengsara. Seolah-olah pernikahan identik dengan ketidakadilan.
Padahal saya tahu, tidak semua seperti itu.
Ada yang hidupnya baik-baik saja. Bahkan bahagia.
Dan di sinilah konflik itu muncul: antara kejujuran emosi dalam cerita, dengan tanggung jawab moral sebagai pendidik.
Di Persimpangan
Saya akhirnya sampai di satu titik: persimpangan.
Di satu sisi, saya ingin menjadi diri saya sendiri. Menulis dengan bebas. Mengangkat sisi manusia apa adanya—termasuk sisi yang tidak sempurna.
Di sisi lain, saya tidak bisa mengabaikan profesi saya. Ada tanggung jawab moral. Ada nilai yang seharusnya saya jaga. Terlebih ketika pembaca saya mungkin adalah mahasiswa saya sendiri.
Saya juga sadar, saya bukan orang yang sempurna. Bukan orang yang alim. Saya paham agama, tapi saya juga tahu diri saya—bahwa saya masih banyak kekurangan, masih banyak kesalahan.
Dan mungkin, jika suatu saat saya menulis sesuatu yang lebih “aman” secara moral, itu bukan karena saya sudah sempurna. Tapi karena saya sedang berusaha menempatkan diri.
Penutup
Saya tidak tahu keputusan apa yang akan saya ambil ke depan. Apakah saya akan terus menulis dengan bebas, atau mulai membatasi diri demi menyesuaikan dengan profesi saya. Mungkin jawabannya ada di tengah—tetap jujur sebagai manusia, tetapi lebih bijak dalam menyampaikan.
Yang jelas, tulisan ini bukan untuk membenarkan diri. Tapi untuk mengakui bahwa saya sedang berproses. Bahwa di dalam diri saya, ada tarik-menarik antara kebebasan dan tanggung jawab. Dan mungkin, justru di situlah perjalanan ini menjadi berarti.
