Apakah ada yang masih membedakan perjuangan melahirkan normal dan melahirkan dengan jalan caesar? Kalau masih, yuk kita coba curhatkan di sini.

Umumnya, seorang calon ibu mendambakan melahirkan normal. Biasanya ini karena melahirkan normal tidak memerlukan pemulihan yang lama seperti melahirkan dengan operasi Sesar. Selain itu, biaya yang dikeluarkan juga relatif lebih hemat. Meskipun sekarang sudah banyak juga yang bisa melakukan tindakan caesar dengan gratis.

Kali ini saya terinspirasi dari kisah melahirkan Youtuber Beauty Alifah Ratu dan juga sikap lingkungan terhadap proses melahirkan normal dan sesar. Saya jadi ingin curhat dan sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa melahirkan normal maupun sesar, ada perjuangan besar di belakangnya. Semoga tulisan ini membuat saya dan kita semua tambah bijak menyikapi kondisi yang dilalui setiap orang.

Melahirkan Caesar Sering Mendapat Sedikit Asumsi Kurang Positif

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa ada sedikit atau banyak asumsi kurang positif (dibilang negatif porsinya tidak sampai segitu) terhadap para Bunda yang melahirkan sesar. Setuju tidak setuju, ini hanya pendapat dan kajian kecil saya terhadap lingkungan sekitar saya aja Bun. Kalau ternyata beda pendapat, gapapa ya Bun. Tiap orang tiap lingkungan tidaklah sama.

Kenapa ada asumsi kurang baik? Pasalnya ada beberapa hal yang menyebabkan itu. Pertama, ada “oknum” bunda yang tidak ingin bersakit-sakit melahirkan normal. Jadi, dia itu memutuskan untuk sesar bukan karena masalah kehamilan tapi karena tidak ingin Miss V longgar, tidak ingin bersakit-sakit melahirkan, dan sebagainya. Sikap Bunda yang demikian sedikit banyak memberikan kesan kurang baik bagi Bunda lainnya yang juga menjalani persalinan sesar.

Kedua, Bunda-bunda yang akhirnya harus melahirkan dengan sesar kebanyakan punya masalah kehamilan. Kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan Bunda melahirkan normal dianggap sebuah ketidakberuntungan bagi sebagian orang dan menjadikan orang lainnya yang tidak mengalami itu merasa lebih unggul atau beruntung. Kita tahu betul bahwa ada beberapa penyebab seorang Ibu tidak bisa melahirkan normal dan terpaksa harus menjalani sesar, seperti panggul kurang lebar, tensi tinggi, kehamilan melebihi Hari Perkiraan Lahir (HPL), dan lain-lain.

Ketiga, melahirkan dengan jalan sesar seolah-olah disebabkan kurangnya usaha dari Bunda maupun keluarga. Diakui atau tidak, bagi sebagian orang menganggap bahwa mereka yang melahirkan sesar seolah kurang “usaha”.

Tidak jarang ada oknum nyiyir, entah itu orang lain atau bahkan anggota keluarga sendiri berkomentar ini itu. Semisal Bunda yang hamil dinilai kurang benar dalam proses menuju persalinan seperti dianggap makanan kurang bergizi, malas bergerak, tidak menjalani ini atau itu.

Bahkan, ada nih saya nemu di channel Youtube seorang netizen mengasumsikan yang lahiran sesar itu kurang doa dan sholawat. Dia sendiri merasa lahiran normal berkat doa dan sholawat yang rajin. Gimana menurut Bunda?

Hati-Hati dengan Sepercik Kesombongan Bagi Bunda yang Melahirkan Normal

Kesombongan ibarat boomerang. Bagi yang menelaah dan mengambil hikmah pengalaman hidup kita pribadi, setiap terbersit kesombongan, seolah keburukan akan kembali kepada kita. Bahkan seringkali lebih buruk dari apa yang dialami orang yang kita cerca.

Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah bahkan sering memiliki perasaan lebih unggul, lebih beruntung, atau lebih dalam suatu hal dibandingkan seseorang atau orang lain. Entah itu dalam hal penghasilan, jodoh, kesehatan, fisik, kecerdasan, dan lain-lain. Termasuk dalam masalah keberuntungan proses melahirkan lancar atau tidak.

Pada Akhirnya, Momen Melahirkan Memiliki Kisah Perjuangan Masing-Masing

Tidak bijak rasanya jika perjuangan melahirkan seorang Ibu dilihat dari normal dan caesar. Pasalnya, kita tidak pernah tahu apa yang sudah mereka lalui.

Ada yang normal lancar, tapi fasilitas kesehatannya minim atau kurang dukungan keluarga. Tidak jarang mereka yang melahirkan lancar selancar idealnya melahirkan normal tapi mengalami jahitan menyakitkan. Atau sekitar ruangannya terlalu ramai oleh keluarga yang over protektif sehingga sangat mengganggu si Ibu yang sedang berjuang melahirkan buah hati. Ada pula yang kisahnya normal dan lancar tapi tidak ditemani keluarga terdekat, atau yang bantu persalinan kurang professional.

Saya melihat salah satu Youtuber laki-laki mengupload proses persalinan istrinya dan terdengar pembatu persalinan di dalam ruangan (entah dokter antah asisten) itu kata-katanya begitu mengganggu psikologis orang yang sedang melahirkan. Nadanya seprti tidak sabar dan sewot gitu, bikin tegang. Setelah bayi lahir, si Ibu kelihatan kurang happy gitu dan dia bilang trauma. Ya, entah apa yang ia alami, hanya dia pribadi juga yang merasakan.

Bagitu pula yang sesar. Kebanyakan proses melahirkan ini ditempuh ketika seorang calon ibu tidak menungkinkan untuk melahirkan normal menurut dokter. Kondisi ini bukan keinginan si ibu itu tentunya ya.

Mengingat penyebab sesar itu bukan kehendak kita, tentu kita tidak seharusnya menilai negatif. Seorang ibu melahirkan sesar tidak berarti dia kurang usaha untuk melahirkan normal. Apalagi menganggap mereka tidak mau lahiran normal. Terlebih lagi menganggap kurang doa dan sholawat. Waduh….

Ada yang terpaksa harus melahirkan caesar, memang disebabkan kebiasaan selama hamil yang terus menerus duduk dan kurang bergerak. Tapi, saat dikaji lagi, ternyata itu tuntutan keadaan karena dia melayani customer yang mengharuskan ia duduk. Dan itu profesinya.

Ada yang sudah usaha dan doa maksimal, beli alat ini itu, makan ini itu, senam hamil dll, anak sudah masuk panggul dan seolah 100% fix lahiran normal, tapi ternyata sesar juga. Ini disebabkan posisi kepala bayi ternyata agak miring sehingga bahaya bagi leher bayi jika terus dipaksa normal. Setelah bersakit-sakit kontraksi, diinduksi juga, tetap akhirnya harus via sesar. Perjuanggannya malah lebih luar biasa menurut saya.

Ada juga yang selama hamil mengalami kekerasan rumah tangga sehingga si Ibu tidak sehat secara fisik dan mental. Entah bagaimana sehingga persalinan terbaik mengharuskan sesar. Ia bilang suntik di tulang punggung ia rasakan begitu menyakitkan, lalu kondisi dingin saat prosedur operasi terus ia ingat sampai sekarang, serta pemulihan luka sesar yang lama. Tidak berhenti di situ. Setalah anak lahir, ia mengalami baby blues.

Nah, kalau sudah begini, apakah masih kita anggap beda perjuangan Ibu melahirkan normal atau sesar? Semoga saya dan kita semua dijauhkan dari judgement tanpa alasan ya Bun… dan yang paling utama, kembali lagi semoga Bunda-bunda yang sedang mengandung melahirkan lancar sesuai harapan dan ekspektasi masing-masing. Amiin….Oh ya, jangan lupa simak ceklist isi tas persiapan persalinan di rumah sakit.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here