Dari Live Bunda Korla, Saya Jadi Ingin Menikmati Sudut-Sudut Kota
Ada hal menarik dari kehidupan di era digital sekarang. Bahkan ketika sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang itu-itu saja, kita tetap bisa menemukan hiburan, mendengarkan cerita orang lain, atau sekadar merasa punya teman meskipun tidak saling mengenal.
Belakangan ini, salah satu kebiasaan saya adalah membuka TikTok ketika sedang merapikan pakaian yang sudah dijemur. Biasanya saya merapikannya sekitar dua hari sekali, ketika tumpukan pakaian sudah mulai banyak.
Biasanya saya nonton YouTube atau YouTube Shorts, sekarang sesekali saya menikmati video-video di TikTok. Lumayan, pekerjaan yang berulang jadi terasa tidak terlalu membosankan.
Nah, belakangan ini saya beberapa kali menonton live Bunda Korla.
Mungkin buat yang sudah lama follow atau sudah sering nonton, tidak ada hal aneh yang perlu dibagikan. Tapi, bagi saya follower baru, dan juga memang baru setahun ini saja mulai suka scroll Tiktok, rasanya ingin sekali membagikan pengalaman simpel ini di blog.
Saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya seseru apa sih live beliau sampai penontonnya ramai sekali? Komentar terus berdatangan, bahkan rasanya tidak ada habisnya. Ada yang ngasih gift juga. Misalnya mawar, kentang, kopi, dan berbagai hadiah virtual lainnya.
Padahal, kalau sekilas lewat di beranda, saya sering melihat Bunda Korla hanya mengobrol di depan kamera. Random saja, begitu. Karena penasaran, akhirnya saya sesekali nonton cukup lama.
Tentu saya bukan penonton setia yang mengikuti semua siarannya. Kalau kebetulan lewat dan isinya hanya obrolan yang kurang menarik perhatian saya, biasanya saya lanjut menggulir layar. Namun, ada satu sore ketika saya menemukan sesuatu yang cukup menarik untuk ditonton lebih lama.
Kejadian Sehari-Hari yang Ternyata Bisa Jadi Tontonan

Sore itu, saya melihat Bunda Korla sedang memasak. Masalahnya, ada bahan masakan yang kurang.
Kejadian seperti ini sebenarnya biasa sekali, ya. Namanya juga memasak di rumah. Kadang kita sudah membayangkan ingin memasak sesuatu, tetapi ternyata ada bahan yang habis atau ternyata bahan yang dibutuhkan tidak tersedia.
Bedanya, dalam live Bunda Korla, urusan bahan masakan yang kurang itu menjadi semacam petualangan tersendiri.
Beliau harus bersiap-siap untuk keluar, berganti pakaian, mengenakan baju hangat, kemudian mencari bus untuk pergi berbelanja. Ada saja kejadian yang membuat prosesnya terasa panjang. Ketika sudah keluar, bus yang ditunggu tidak kunjung terlihat. Sementara itu, penonton tetap mengikuti ceritanya.
Ada juga momen ketika Bunda Korla meminta penonton membantu mencatat bahan-bahan yang terlupa. Saya merasa bagian ini lucu sekali.
Bayangkan, kalau di rumah kita lupa bahan masakan, paling tinggal mengambil kertas dan pulpen, lalu menuliskannya. Selesai. Tidak perlu mengadakan rapat bersama penonton TikTok.
Namun, justru di situlah keseruannya. Hal yang sebenarnya sederhana bisa menjadi hiburan ketika disaksikan bersama-sama. Penonton ikut berkomentar, mengingatkan bahan yang belum dibeli, sampai memberi saran tentang barang yang sebaiknya diambil.
Ketika sudah sampai di tempat belanja, urusannya belum selesai. Ada yang mengingatkan soal roti yang belum dibayar, ada yang menyarankan membeli daun jeruk, tahu, minyak goreng, dan bahan lainnya.
Saya membayangkan betapa ramainya suasana di kolom komentar. Orang-orang seperti ikut menemani seseorang berbelanja, padahal mereka sendiri mungkin sedang duduk santai di rumah.
Lucu juga, ya. Ternyata kejadian sesederhana kekurangan bahan masakan bisa menjadi tontonan yang cukup menghibur.
Ternyata Kesehariannya Mirip dengan Kehidupan Saya
Kalau dipikir-pikir, keseharian Bunda Korla yang saya lihat itu tidak jauh berbeda dari kehidupan saya sendiri. Mungkin kebanyakan kaum perempuan di rumahnya. Terutama yang sudah usia 25-40an.
Saya juga seorang ibu rumah tangga yang sekaligus bekerja sebagai dosen. Ada pekerjaan mengajar dan berbagai urusan lain, tetapi kehidupan sehari-hari tetap didominasi oleh kegiatan yang sederhana. Membersihkan rumah, merapikan pakaian, memasak, membeli sayuran, dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.
Kadang kita terlalu terbiasa dengan rutinitas seperti ini sampai menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak menarik. Padahal, hampir setiap hari kita menjalaninya.
Melihat Bunda Korla memasak dengan bahan yang kurang, lalu harus pergi berbelanja, membuat saya berpikir bahwa kehidupan sehari-hari memang sesederhana itu. Tidak selalu ada kejadian besar, perjalanan istimewa, atau aktivitas yang layak diceritakan kepada banyak orang.
Hanya saja, ada perbedaan latar tempat. Beliau menjalani kesehariannya di Jerman, sedangkan saya di Purwokerto. Salah satu kota di Jawa Tengah, Indonesia.
Dan ternyata, melihat kehidupan sehari-hari di tempat yang jauh bisa membuat kita sedikit lebih memperhatikan kehidupan sendiri.
Belanja Juga Punya Kesenangan Tersendiri

Bagian ketika Bunda Korla pergi berbelanja juga mengingatkan saya pada kebiasaan sendiri.
Di Purwokerto, ada kalanya saya sengaja berbelanja ke tempat yang lebih besar, seperti Indogrosir, mall, atau toko pemasok yang menjual berbagai kebutuhan. Misalnya P&D Aroma di Jalan Jend. Soederman Purwokerto.
Bagi saya, belanja di tempat seperti itu punya sensasi tersendiri. Melihat barang-barang yang tertata rapi dan bersih, pencahayaan toko, suasananya, sampai memilih bahan makanan yang akan dibawa pulang. Ada kesenangan ketika bisa memilih cumi, daging, tofu, buah-buahan, bumbu masak, atau bahan untuk membuat sushi sebagai bekal anak.
Sebenarnya, itu juga kegiatan biasa. Bukan sesuatu yang luar biasa.
Namun, untuk gaya hidup seperti ini di Purwokerto, jujur, memang butuh biaya lumayan juga sih. Hehe… Setidaknya keluarga terdiri dari empat orang, minimal punya penghasilan 10 juta rupiah per bulan. Jika kurang, sepertinya belanja kebutuhan harus downgrade ke pasar taradisional.
Bahannya sebenarnya sama saja. Bahkan sayurannya lebih segar, lauknya baru-baru, dan harga lebih murah. Namun, minusnya adalah suasana yang berbeda. Tidak ada nuansa rekreasi di pasar. Begitulah.
Tidak apa-apa. Semoga saya bisa menikmati kegiatan belanja ke mall maupun supermarket lagi ketika ada rezeki lebih, sekaligus lebih bersyukur karena bisa kembali melakukannya.
Kadang, sesuatu yang sebelumnya mudah kita nikmati baru terasa menyenangkan ketika kita harus menundanya untuk sementara. Soalnya, ke supermarket juga jadi terasa sangat biasa jika kita sering melakukannya. Saya pernah mengalami itu.
Menikmati Sudut-Sudut Kota yang Sering Kita Lewatkan
Ada hal lain yang menarik perhatian saya ketika melihat Bunda Korla keluar rumah.
Saya melihat suasana jalanan di Jerman, bangunan bertingkat dengan warna-warna tua yang hangat, mobil dan sepeda yang terparkir, dan daun-daun yang berguguran. Suasananya tampak sepi. Ada nuansa musim gugur yang membuat pemandangannya terasa indah untuk dilihat.
Meski begitu, entah kenapa, pemandangan itu mengingatkan saya pada beberapa sudut Kota Purwokerto.
Saya jadi berpikir, sebenarnya kota tempat kita tinggal juga punya banyak tempat yang bisa dinikmati. Jalanan yang sejuk, bangunan-bangunan tertentu, tempat makan, sampai sudut kota yang mungkin setiap hari kita lewati tanpa benar-benar memperhatikannya.
Kadang kita terlalu malas keluar rumah. Alasannya macam-macam. Capek, tidak ada keperluan, atau merasa tidak ada sesuatu yang penting untuk dilakukan di luar sana.
Padahal, keluar rumah tidak harus selalu untuk urusan penting.
Saya pernah tiba-tiba mengajak anak mencari makan malam pada pukul delapan atau sembilan malam. Sesederhana pergi ke Pasar Manis atau Pasar Pon di Purwokerto, mencari makanan yang terjangkau, lalu menikmati suasananya sebentar.
Bahkan, sesekali mencoba sarapan di Pasar Manis di pagi hari setelah mengantar anak ke sekolah. Tidak harus ada teman. Cukup berjalan sendirian dan menikmati menu sarapan pagi.
Kadang kita juga bisa pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh, selama ada kendaraan dan anggaran yang memungkinkan. Tidak harus menghabiskan banyak uang atau merencanakan perjalanan panjang.

Bahkan, kalau sedang ingin suasana berbeda, kita bisa mencoba kafe baru, duduk sebentar, melihat pemandangan sungai, menikmati bunga-bunga, atau memperhatikan bangunan di sekitar kita. Ini pernah saya lakukan juga sepulang dari Puskesmas. Mampir ke Café baru, melihat pemandangan di belakanganya, mengelilingi perumahan yang baru dibangun, dan jajan di pertigaan Pasar Cerme.
Tentu tidak setiap perjalanan akan menghasilkan pengalaman yang menyenangkan. Namun, setidaknya kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk melihat sesuatu yang berbeda.
Menariknya, ketika berada jauh dari rumah, kita mungkin merindukan suasana kota sendiri. Sebaliknya, ketika setiap hari berada di kota yang sama, kita justru lupa bahwa ada banyak hal yang bisa dinikmati di sana.
Menikmati Hal-Hal Kecil yang Sebenarnya Sudah Kita Punya
Saya bersyukur hidup di era digital. Dari layar ponsel, saya bisa menemukan hiburan ringan seperti live Bunda Korla, meskipun hanya sesekali menontonnya.
Saya juga tidak sedang ingin meniru cara beliau membuat konten atau menyamakan suasana Jerman dengan kota kecil di Indonesia. Tulisan ini hanya berawal dari rasa penasaran, kemudian membawa saya memikirkan hal-hal sederhana dalam kehidupan sendiri.
Saya ingin kembali menikmati rutinitas yang selama ini mungkin terasa biasa. Memasak, merapikan pakaian, mengobrol dengan orang terdekat, atau keluar rumah sebentar untuk melihat suasana kota.
Saya juga ingin blog ini menjadi tempat untuk menuliskan apa saja yang sedang menarik perhatian saya. Tidak harus selalu membahas sesuatu yang besar atau memberikan pelajaran penting kepada orang lain. Bisa tentang buku yang sedang dibaca, kafe yang dikunjungi, atau kejadian receh yang ternyata menyisakan sesuatu untuk dipikirkan.
Sebab, terkadang kita tidak membutuhkan pengalaman yang luar biasa untuk menemukan hal yang menyenangkan.
Mungkin kita hanya perlu sedikit mengubah kebiasaan, meluangkan waktu, dan memperhatikan apa yang selama ini ada di sekitar kita.
Jadi, kalau akhir-akhir ini teman-teman merasa hari-harinya begitu monoton, mungkin sesekali bisa mencoba keluar rumah. Tidak perlu jauh-jauh. Cari makan malam, sarapan di luar, jalan-jalan sebentar naik motor, mengelilingi kompleks perumahan orang lain (hehe), keliling kampus orang (gak ada yg notice juga kan), atau duduk di tempat yang belum pernah dikunjungi.
Nikmati juga hal-hal kecil yang sudah kita miliki. Ponsel yang bisa mempertemukan kita dengan hiburan, obrolan sederhana bersama keluarga, kesempatan berjalan kaki, atau pemandangan kota yang setiap hari kita lewati.
Siapa tahu, dari hal-hal sederhana itulah kita bisa menemukan kesenangan yang selama ini terlewatkan.
Sampai jumpa di tulisan lainnya. Semoga bermanfaat.
