Kejujuran yang Pahit

Kafe Roastic tidak terlalu ramai sore itu. Suara sendok beradu dengan gelas kopi terdengar pelan, bercampur dengan musik yang hampir tidak terasa.

Elva memilih tempat ini karena nyaman dan banyak koleksi buku fiksi favoritnya. Ya, cafe yang didesain seperti rumah. Hangat, mendukung hobinya membaca untuk memperkaya ide setiap tulisannya.

Zidane datang tepat waktu. Seperti biasanya—rapi, tenang. Cara bicaranya tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat orang merasa nyaman. Bahkan mungkin, yakin.

Itu yang membuat Elva bertahan sejauh ini.

Mereka juga sering mengobrol di café ini atau di tempat lain. Tentang hal ringan, atau bahkan yang lebih serius terkait masa depan.

Ya, Zidan dan Elva sudah di tahap rencana ke hubungan yang lebih serius.

“Aku boleh tanya sesuatu?” Zidane membuka percakapan.

Elva mengangguk. “Boleh.”

Zidane sempat diam sebentar, seolah memilih kata. “Tentang masa lalu kamu… emmm, terkait mantan suami kamu. Itu kalau kamu nggak keberatan.”

Dira yang menemani obrolam mereka, melirik Elva. Elva menarik napas pendek. “Iya, boleh silahkan.”

“Ini soal yang membuat kamu memutuskan untuk berpisah.” Zidane melanjutkan.

Elva tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, lalu kopi susu gula aren di depannya.

“Karena capek,” katanya akhirnya.

Jawaban itu sederhana, tapi tidak ringan.

Kekecewaan yang Berlapis

Elva kembali mengingat pernikahannya yang kandas dengan Dimas.

“Sebenarnya, tahun-tahun awal pernikahan kami terasa baik-baik saja.”

Namun, kebahagiaan itu seperti menabrak batu besar. Seolah aku sedang berjalan dengan nyaman, tapi tiba-tiba tersandung batu yang keras dan tajam.

“Itu terjadi sejak aku mencoba memeriksa handphone-nya,” katanya.

Zidane tidak menyela.

“Nggak ada chat aneh,” lanjut Elva. “Nggak ada perempuan lain. Tapi… isinya penuh video.”

Ia berhenti sebentar.

“Perempuan-perempuan yang… ya, kamu pasti tahu maksudku.”

Zidane mengangguk pelan.

“Awalnya aku coba berpikir itu kebetulan. Tapi ternyata tidak,” kata Elva. “Riwayatnya juga sama. Akun-akun tertentu. Nama-nama yang bahkan aku nggak kenal.”

“Dia tahu kamu lihat?” tanya Zidane.

Elva menggeleng. “Pernah aku tanya. Tapi jawabannya selalu berubah-ubah. Kadang katanya temannya yang kirim. Kadang cuma lewat.”

Dira menghela napas pelan. “Padahal kalau cuma lewat, nggak mungkin muncul terus.”

Elva tersenyum tipis. “Dari situ aku mulai merasa kalau mantan suami tipe orang yang suka berbohong. Di waktu yang sama aku juga merasa seperti… aku ini apa, ya?”

Tidak ada nada marah. Hanya lelah.

“Lama-lama aku sadar, aku ada di rumah… tapi yang dia lihat bukan aku.”

Zidane menunduk sedikit, seperti mencerna.

“Tapi itu belum semuanya,” lanjut Elva. “Dia juga mulai berubah.”

“Berubah bagaimana?”

“Posting hal-hal aneh. Puisi tentang rindu. Tentang kehilangan. Padahal kami tinggal satu rumah.”

Elva merupakan penulis sekaligus istri yang memang menghabiskan waktu-waktunya di rumah.

“Aku sempat berpikir… ini rindu siapa?” kata Elva pelan.

Zidane sedikit mengeryitkan alis.

Dira menambahkan, “Sampai akhirnya ketahuan dia dekat sama rekan kerjanya.”

Zidane langsung menatap Elva.

“Kamu lihat sendiri?”

Elva mengangguk. “Cara mereka bicara… bukan seperti rekan kerja.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak perlu.

“Dan itu bukan sekali,” katanya lagi. “Akhirnya aku capek. Aku nggak bisa percaya lagi.”

“Kamu yang minta cerai?” tanya Zidane.

“Iya,” jawab Elva.

Jawaban yang Terlalu Jujur

Beberapa detik terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Lalu Elva menatap Zidane.

“Sekarang aku mau tanya ke kamu.”

Zidane mengangguk. “Silakan.”

“Kamu kan paham agama,” kata Elva. “Dan kamu juga punya bisnis yang mengharuskan kamu… banyak berinteraksi dengan perempuan.”

Zidane tersenyum kecil. “Iya.”

“Di bisnismu itu banyak model perempuan, kan?”

Zidane punya bisnis busana muslimah yang mau tidak mau harus melibatkan model yang good looking untuk foto pakaian.

“Iya.”

Elva menatapnya lebih dalam.

“Kalau nanti, emm kita berjodoh misalnya, kamu bisa menjamin setia?”

Zidane tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan.

“Aku harus jujur,” katanya.

Elva mengangguk.

“Aku nggak bisa menjamin dengan cara yang kamu bayangkan,” ujar Zidane.

Dira sedikit bergerak, tapi tidak bicara.

Zidane memang sudah paham bagaimana ekspektasi Elva tentang apa itu setia, apa itu batasan. Semua ia dapat dari obrolan-obrolan sebelumnya.

“Maksudnya?” tanya Elva.

Zidane menatap Elva dengan tenang.

“Laki-laki itu makhluk visual,” katanya. “Kami bisa tertarik secara fisik. Itu bisa terjadi, bahkan tanpa direncanakan.”

Elva diam.

“Tertarik… sampai sejauh apa?” tanyanya lagi.

Zidane tidak menghindar. “Bisa sampai hasrat.”

Jawaban itu jatuh begitu saja, tanpa penekanan.

Elva menatapnya, tidak berkedip.

“Tapi bukan berarti dilakukan,” Zidane menambahkan cepat. “Itu yang membedakan. Akal dan akhlak yang mengendalikan.”

Elva bersandar perlahan.

“Jadi itu normal?” tanyanya.

“Selama tidak dilanjutkan, iya,” jawab Zidane.

Ia lalu menambahkan, “Dalam agama juga dijelaskan, kalau ada godaan di luar, maka seorang suami harus menemui istrinya di rumah. Pilih yang halal.”

Elva menoleh sedikit.

“Berarti… pasangan itu tempat melampiaskan?” tanyanya.

Zidane menggeleng. “Bukan seperti itu. Tapi cara menjaga diri.”

Elva tidak menjawab lagi.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Aku tidak ingin menutupi kenyataan,” kata Zidane pelan. “Karena pernikahan harus dimulai dari kejujuran.”

“Ini juga bukan sengaja terlalu polos di depan kamu, tapi menikah itu serius. Jika pemahaman kita berbeda dalam hal sepenting ini, bisa menjadi konflik berkepanjangan nantinya.”

Elva mengangguk kecil.

“Iya,” katanya. “Aku mengerti.”

Perbedaan yang Tidak Dapat Bertemu

Percakapan itu berakhir dengan sopan. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada perdebatan.

Semua terasa baik-baik saja.

Tapi di dalam diri Elva, ada sesuatu yang terasa sudah selesai.

Di perjalanan pulang, Dira menoleh.

“Kamu gimana?” tanyanya.

Elva menatap jalan di depan.

“Dira…” suaranya pelan. “Aku ini aneh nggak sih?”

Dira menggeleng. “Kenapa?”

“Aku nggak pernah ngerasain itu,” kata Elva. “Nggak pernah tiba-tiba tertarik sama orang lain cuma karena lihat fisiknya.”

Ia tersenyum tipis, tapi tidak hangat.

“Kalau aku sudah memilih seseorang, ya ke dia saja. Semuanya ke dia.”

“Kamu pasti paham maksud aku.”

Dira diam, mendengarkan.

“Jadi waktu tadi Zidane bilang itu normal…” Elva melanjutkan, “aku ngerti. Tapi aku nggak bisa nerima.”

Mobil terus berjalan.

Lampu-lampu jalan lewat satu per satu.

“Aku kira… suatu saat bakal ada laki-laki yang mencintai dengan cara yang sama seperti aku,” katanya pelan.

Ia menatap ke luar jendela.

“Ternyata nggak.”

Dira tidak menyela.

Elva menarik napas panjang.

“Kalau memang seperti itu… berarti cintaku ini terlalu mahal,” katanya.

Dira menoleh.

“Bukan karena aku lebih baik, atau sombong” lanjut Elva. “Tapi karena aku nggak bisa membaginya seperti itu.”

Beberapa hari kemudian, Elva mengirim pesan untuk Zidane.

Bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk menjalin pernikahan, bahkan dengan pria yang baik seperti Zidane.

Ia juga berharap semoga Zidane menemukan perempuan bijaksana yang lebih layak. Perempuan yang bisa mengerti dan memaklumi naluri alami kaum pria.

You May Also Like

4 Comments

  1. Feri Nugroho April 22, 2026 at 2:45 pm

    Cerpen ini ngena banget, terutama soal bagaimana kejujuran sering terasa pahit di awal, tapi justru itu yang bikin kita lebih utuh sebagai manusia. Kadang kita memang tergoda untuk memilih yang nyaman daripada yang benar, padahal kejujuran justru jadi fondasi kepercayaan dan ketenangan dalam hidup . Tulisan cerpen ini mengingatkan bahwa tidak semua hal baik terasa manis di awal, dan justru dari rasa pahit itulah kita belajar menerima realita dengan lebih dewasa. Insight-nya sederhana, tapi dalam jujur itu bukan soal enak atau tidak, tapi soal berani dan bertanggung jawab.

    1. Iim Rohimah April 22, 2026 at 4:19 pm

      Betul, di sini tokoh Zidane memilih memperjelas semuanya sejak awal. Bukan menipu calon istrinya dengan iming-iming kesetiaan, tapi nantinya memberikan kekecewaan.
      Tokoh ELva juga mungkin tidak mewakili semua wanita. Ini soal batasan dan tolerasi.
      Ada banyak perempuan yang memaklumi bentuk-bentuk kesetiaan selama tidak dilakukan dalam tindakan.

  2. Iid Yanie April 25, 2026 at 5:59 pm

    Dalam perkenalan menuju tahap yang serius, hal-hal seperti ini memang baiknya dijelaskan di awal. Saya menyukai cara Zidane menjelaskan semuanya dengan cara yang sopan seperti interview yang terasa formal. Tidak menjual kelebihan diri dan tidak menyenggol ego perempuan yang diajak bicara.

    1. Iim Rohimah April 25, 2026 at 6:27 pm

      Iya mbak, lebih baik jujur di awal walau pahit didengar. Namun, bisa mencegah konflik yang serius jika dilanjutkan ke pernikahan.

Leave a Reply