Hari Itu Tania Jadi Ibu yang Salah
Enam bulan lalu, saat libur panjang Idul Adha, Tania masih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
Ia ikut sibuk di dapur rumah mertuanya—memotong daging kurban, menyiapkan bumbu, membakar sate, sambil sesekali menyeka keringat dan memanggil anaknya yang berlarian ke sana kemari. Hampir sepanjang hari, tangannya tidak pernah benar-benar berhenti.
Tapi di sela-sela kesibukan itu, ada kalimat-kalimat yang terus ia ingat sampai sekarang.
“Perempuan itu harus punya penghasilan sendiri,” kata ibu mertuanya waktu itu, sambil tetap mengaduk sesuatu di wajan. “Aku dari dulu kerja. Bikin opak, punya pegawai. Jadi nggak numpang hidup ke suami.”
Tania tidak menjawab. Hanya tersenyum tipis, sambil kembali memotong daging.
Hari itu, ia merasa sudah melakukan banyak hal. Tapi entah kenapa, tetap terasa kurang.
Dan sekarang, di libur sekolah anaknya yang berikutnya, Tania kembali datang ke rumah yang sama—di sebuah desa di Jawa Barat, yang tidak terlalu jauh dari kota kabupaten.
Bedanya, kali ini Tania tidak lagi hanya di dapur.
Ia membawa pekerjaannya sendiri.
Daftar Isi
1. Pagi yang Sudah Ramai
Sejak pagi, halaman rumah itu sudah hidup.
Tiga orang ibu-ibu tetangga duduk di atas tikar, menghadap tampah besar berisi nasi ketan. Di tangan mereka, kayu panjang bergerak naik turun, menghantam perlahan tapi pasti. Suaranya berirama, seperti sudah menjadi bagian dari hari-hari mereka.
Mertua Tania duduk tidak jauh dari mereka. Sesekali memberi arahan, sesekali ikut berbincang.
Tania mengamati dari balik pintu kamar.
Ia tidak langsung keluar.
Di belakangnya, laptop sudah menyala. Ponsel dengan paket data tergeletak di sampingnya.
Hari itu, ia harus online cukup lama.
“Nanti main sama teman-teman ya, Nak” katanya pada anaknya.
Anaknya mengangguk, lalu tak lama kemudian sudah berlari keluar, menyatu dengan suara halaman.
Lalu, sesekali terdengar suara khas anak-anak. Sahut menyahut saling mengajak penuh keceriaan.
Tania menutup pintu pelan.
Ia duduk di lantai, membuka email, dan mulai bekerja.
2. Kerja yang Tidak Terlihat
Email masuk satu per satu.
Nama-nama asing, jam yang berbeda, permintaan yang tidak bisa ditunda. Tania membalas dengan cepat, memastikan semua rapi.
Di luar, suara hentakan kayu masih terdengar.
“Dari pagi sudah di kamar terus,” terdengar samar.
Tania berhenti sejenak.
Lalu lanjut mengetik.
Sesekali ia mengintip dari jendela.
Jendela yang menghadap langsung ke halaman rumah tetangga.
Anaknya sedang bermain kelereng di tanah bersama tiga anak sumurannya. Tertawa, berlari kecil, lalu duduk lagi. Wajahnya cerah, penuh semangat.
Tania tersenyum.
Ia kembali ke layar.
Menjelang siang, perutnya mulai kosong. Ia tahu di dapur ada makanan. Tapi ia tetap di tempatnya.
Rasanya tidak enak keluar hanya untuk makan, lalu kembali masuk, sementara yang lain sibuk bekerja dengan tangan mereka.
Padahal ia juga bekerja.
Hanya saja, pekerjaannya tidak terlihat.
3. Panggilan yang Berulang
“Tania!”
Suara suaminya terdengar dari luar kamar.
“Iya?” jawabnya.
“Rio dari tadi di luar terus.”
“Iya, biarin aja,” jawab Tania singkat.
Beberapa detik hening.
“Tania!”
Suara itu kembali.
Tania tetap menatap layar.
“Apa?”
“Panggil Rio dulu. Kayaknya dia capek.”
Tania melirik jam.
Masih terlalu siang.
“Sebentar, aku lagi kerja.”
Langkah kaki menjauh.
Beberapa menit kemudian—
“Tania!”
Ketiga kalinya.
Kali ini lebih mendesak.
“Cepatan. Suruh Rio pulang.”
Tania menutup mata sejenak.
Ia menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Lalu menutup laptop.
4. Hal Kecil yang Jadi Besar
Tania berjalan ke halaman.
Anaknya ada di sana. Masih bermain kelereng bersama teman-temannya. Tidak ada yang terlihat salah.
“Capek?” tanya Tania.
“Enggak.”
“Kepanasan?”
“Enggak.”
Tania mengangguk.
“Ayo pulang dulu.”
Anaknya berdiri tanpa protes.
Di perjalanan, salah satu ibu-ibu menghampiri.
“Tadi dia kepeleset, loh,” katanya.
Tania menoleh.
“Oh ya?”
“Iya. Di situ tadi,” katanya. “Untung nggak kenapa-napa.”
Tania menatap anaknya.
Tidak ada luka. Tidak ada bekas apa pun.
“Habis jatuh?” tanya Tania.
Rio menggeleng. “Cuma kepleset dikit.”
Tania mengangguk.
Begitu masuk ke rumah, suara dari dapur terdengar lagi.
“Dari tadi main terus. Panas-panasan.”
Tidak ada yang menatap langsung.
Tapi kalimat itu terasa jelas.
Tania berhenti sebentar.
Lalu berjalan ke teras.
Duduk.
Anaknya ikut duduk di sampingnya.
5. Yang Sebenarnya Terjadi
Angin siang bergerak pelan.
Dari tempat duduknya, Tania melihat halaman yang tadi pagi ramai. Sekarang hanya tersisa tampah-tampah opak yang dijemur.
Ia mengingat semuanya.
Anaknya yang baik-baik saja.
Pekerjaannya yang ia tinggalkan.
Suaminya yang memanggil berkali-kali, lebih terdengar panik daripada yakin denga napa yang dilakukannya.
Dan kalimat-kalimat kecil yang tidak pernah benar-benar ditujukan, tapi selalu terasa sampai.
“Kenapa dipanggil, Bu?” tanya anaknya.
Tania mengusap kepalanya pelan.
“Enggak apa-apa.”
Rio mengangguk.
Tania menatap ke depan.
Tidak ada yang memarahinya hari itu.
Tidak ada yang bilang ia salah.
Tapi semua orang seperti tahu bagaimana seharusnya ia menjadi ibu.
Dan hari itu, Tania tidak termasuk di dalamnya.

Benar atau salah Tania tetap dipandang salah. Apalagi jika pekerjaannya tidak terlihat seperti “bekerja”..dianggapnya rebahan di kamar, buka laptop macam perempuan tak berguna
Hm…betapa banyak Tania-Tania di luar sana yang mendapatkan ketidakadilan yang serupa
Ada banyak kak, ga cuma mertua sebenarnya, tapi orang tua kandung juga gitu. Misalnya saya pernah diceritain temen blogger yang ibunya umuran 60+ sering banget dikomen, dianggap malas, gak ikut bantu2 acara keluarga, dll
Mh,, narik nafas berat kak. Kadang gak terjadi woman support woman. Jadinya malah sebaliknya. Seakan membuli, padahal tadinya minta berkerja biar gak numpang hidup. Setelah bekerja dikira gak ngapa-ngapain.
Padahal gak ada perempuan yang nganggur. Ibu berkerja bahkan kadang gak terlihat karena mungkin gak menghasilkan uang.
Iya kak, di sini saya mengangkat isu yg sering terjadi ketika kalangan mertua banyak yg sekedar menghakimi saja. Bukan soal menantunya jadi IRT atau kerja. Intinya hanya ingin nge-judge aja. Sikap yang timbul dari pribadi generasi 60/70-an yang kebanyakan membawa masa lalu pahit turun temurun dari mertuanya juga.
Potongan ini menggambarkan perasaan yang halus tapi terasa berat, terutama saat seseorang merasa tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada di sekitarnya. Tanpa perlu konflik besar, suasana yang dibangun sudah cukup menunjukkan tekanan batin yang dialami.
Beginilah realita jadi ibu di Indonesia ya, Mba. Saya meski working mom sedih banget kalau nemu tulisan yang isinya memotret kekurangberuntungan kita seperti Tania ini. Padahal udah berstatus ibu itu pasti capek, dari mengandung sampai mengajari PR anak. Subhanallah. Semoga insyaallah kl kita someday jadi mertua atau tetangganya mertua, berani memutus pemikiran yang memosisikan ibu pada tempat yang serbasalah.
Ini realita yang masih ada sampai sekarang. Terutama mereka yang belum familiar dengan pekerjaan era digital, atau lebih jauh, kaum prempuan yang menganggap ibu ya harusnya full tanpa absen.