Ibu Rumah Tangga

7 Stereotip Ibu Rumah Tangga dalam Film Pendek “Tilik”

7 Stereotip Ibu Rumah Tangga dalam Film Pendek “Tilik” – Jujur, saya sangat terhibur saat menonton film pendek “Tilik” yang diperankan Bu Tejo dan kawan-kawan. Namun film yang belakangan viral tersebut juga membuat saya cukup menganggapnya serius.

Serius gimana? Saya menafsirkan film Tilik sebagai kritik sosial dengan cara menampilkan stereotip ibu rumah tangga.

Ya, ibu rumah tangga sejak lama memiliki banyak stereotip yang sebenarnya orang jarang sebutkan, namun sudah menjadi anggapan masyarakat umum. Film Tilik saya kira berhasil menggambarkan beberapa poin yang menjadi stereotip kaum ibu-ibu secara apik dan natural. Oh ya, mengapa saya menyebut ibu rumah tangga sebagai subjek? dan apa stereotip yang melekat pada mereka?

Disclaimer : Semua poin stereotip ibu rumah tangga ini tidak saya maksudkan untuk merendahkan ibu rumah tangga apalagi mendiskriminasi. Biasanya ada pembaca yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang langsung naik pitam hihi. Padahal saya juga seorang ibu rumah tangga. Tujuan saya mungkin tidak jauh berbeda dengan pihak yang membuat film Tilik. Ingin melakukan kritik sosial mengenai kekurangan ibu rumah tangga. Kekurangan yang bukan salah subjek (IRT) tapi seringkali penyebabnya adalah kondisi sosial dan peran yang memaksa seorang ibu harus memiliki banyak kekurangan. Padahal, perempuan itu punya hak untuk memilih. Hak berkembang dari segi skill, kepribadian, ilmu, aktualisasi diri, dan lain-lain tanpa halangan dari pihak manapun.

Kurang lebih begitu. Semoga tidak ada salah duga apalagi salah baca.

Alasan Saya Langsung Menganggap Bu Tejo dan Kawan-kawan Adalah Kelompok Ibu Rumah Tangga

“Kenapa sih nggak bilang ‘ibu-ibu’ aja? Kan sama aja dan nggak nyinggung profesi tententu.” Mungkin begitu pikir pembaca. Ada beberapa alasan mengapa subjek khusus kepada ibu rumah tangga.

Jika menelaah adegan dalam film pendek “Tilik”, cukup menjelaskan kepada penonton bahwa para pemain memerankan diri mereka sebagai ibu rumah tangga. Artinya bahwa Bu Tejo dan kawan-kawan di trek yang hendak menjenguk Bu Lurah ini bukanlah kaum perempuan yang bekerja. Ibu rumah tangga yang punya waktu luang untuk pergi ke rumah sakit beramai-ramai di siang hari pastilah merupakan ibu-ibu yang tidak bekerja.

“Ah bisa jadi itu hari minggu kan?” Bisa saja sih. Tapi untuk berkelompok sebanyak itu, ibu-ibu membutuhkan waktu bertemu secara intens. Hal ini agak sulit berlaku bagi wanita karir.

Terlebih lagi, di hari libur, wanita karir justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk keluarga. Mereka biasanya menggunakan weekend untuk quality time bersama anak dan suami. Pengganti hari-hari kerja yang tidak bisa berkumpul bersama keluarga.

Alasan terakhir, obrolan mereka yang masih percaya sepenuhnya kepada internet mentah-mentah, kendaraan menggunakan trek, menggambarkan perempuan desa yang kemungkinan kerja kantoran nya sangat kecil. Intinya, fix lah mereka para ibu rumah tangga. Bagitu ya.

Apa Itu Stereotip?

Menurut Eva Nurkhofifah dalam Kompasiana, stereotip adalah kepercayaan yang positif maupun negatif yang melekat pada seseorang atau kelompok orang.

Lebih lanjut, dalam artikel tersebut, Eva juga mengatakan bahwa stereotip sifatnya berada dalam ranah kognitif. Masih berupa keyakinan. Selanjutnya, keyakinan menjadi prajudice atau prasangka yang ada pada ranah afektif. Sedangkan prasangka bisa menimbulkan diskriminasi. Nah, diskriminasi sudah berupa tindakan.

Misalnya stereotip positif selama ini mengenai perempuan suku Sunda adalah lemah lembut dan cantik. Sedangkan stereotip negatifnya adalah materialistis dan mengutamakan perawatan diri ketimbang tanggung jawab terhadap rumah tangga. Secara tidak langsung, ketika bertemu perempuan Sunda, mungkin akan timbul enggan (bagi laki-laki yang tidak suka pasangan hidup yang matre). Tapi di sisi lain ada pria yang senang karena akan mendapat perempuan cantik sebagai pendamping hidup.

Begitu gambaran tentang stereotip. Walaupun berupa kepercayaan, namun nanti bisa memiliki efek terhadap sikap kita kepada orang atau sekelompok orang.

Inilah 7 Stereotip Ibu Rumah Tangga dalam Film Pendek “Tilik”

bu tejo memarahi polisi
Bu tejo dkk di trek

Stereotip dalam film ini sebenarnya lebih cenderung merupakan stereotip yang negatif. Saya menafsirkannya sebagai sebuah kritik sosial bagi budaya kaum ibu-ibu selama ini ketika mereka berkumpul. Bahkan kegiatan yang dimaksud untuk hal baik seperti menjenguk orang sakit (tilik) tetap diwarnai prilaku kurang baik.

Nah, yang namanya stereotip seperti yang saya sebutkan di awal, adalah anggapan atau kepercayaan mengenai sekelompok orang. Artinya bahwa ada anggapan tertentu mengenai ibu-ibu yang sifatnya sudah laten dan melekat. Meskipun mungkin kenyataannya, stereotip itu tidak berlaku bagi semua ibu rumah tangga.

Berikut ini adalah stereotip ibu rumah tangga dalam film “Tilik” dengan pemeran utama Bu Tejo yang viral belakangan ini.

Ibu Rumah Tangga Itu Suka Bergosip dan Menggunjing

Bergosip adalah prilaku yang melekat kepada kaum ibu-ibu. Umumnya ketika para ibu rumah tangga sedang berkumpul, otomatis tidak lepas dari membicarakan kejelelkan orang lain. Meskipun, kenyataannya tidak jarang juga membicarakan kebaikan orang lain. Namun, membicarakan keburukan sepertinya menjadi stereotip yang melekat kepada mereka.

Adegan ini pula lah yang menghiasi film pendek “Tilik” dari awal hingga akhir. Bu Tejo dengan penuh semangat membicarakan Dian, yang bahkan tidak punya urusan dengannya.

Awalnya membicarakan prilaku Dian, lalu merembet ke mana-mana. Mulai dari orang tua Dian, pendidikan, karir, hingga status Dian yang masih melajang juga menjadi bahan empuk untuk ia bicarakan.

Gosip tentang Dian semakin menarik ketika Bu Tejo menceritakan bahwa dia pernah memergoki Dian muntah-muntah di atas motor. Lalu dibumbui pendapat ibu-ibu lain yang pernah melihat Dian jalan bareng om-om di mall. Lengkap sudah kejelekan moral sosok Dian di mata ibu-ibu ini.

Peran Bu Tejo dkk sukses membuat habit menggunjing makin bikin gemes, sebel, geregetan, dan juga terhibur di waktu bersamaan.

Perilaku yang menggambarkan realita kaum ibu rumah tangga ketika berkumpul memberi stereotip yang perlu dipikir ulang oleh kaum ibu-ibu. Apakah stereotip ini benar dan berlaku bagi semua ibu rumah tangga? Bagaimana menurut Anda pembaca?

Suka Berpendapat Tanpa Bukti Akurat

Perilaku ini bisa dilakukan siapa saja sih sebenernya. Tapi dari film Tilik memberikan gambaran bahwa ibu-ibu seringkali merasa benar walau pendapatnya tidak berdasarkan bukti yang kuat. Hal ini bisa dikarenakan penurunan kualitas diri akibat rutinitas harian yang tidak mengasah perkembangan pola pikir kaum ibu rumah tangga.

Seperti dalam adegan di atas truk itu. Semua isu tentang Dian dibredel sedemikian rupa padahal semuanya berdasarkan perkiraan. Namun mereka yakini kebenarannya.

Semua informasi tentang perilaku Dian berdasarkan apa yang dilihat sekilas dan murni kecurigaan semata. Namun, semua ibu-ibu di atas trek itu mengamini ucapan tokoh utama yang membredel informasi tentang Dian, yaitu Bu Tejo.

Apakah stereotip satu ini benar menurut Anda pembaca? Beritahu pendapat Anda di komentar dan apa alasannya. Boleh sesuai pengalaman Anda.

Ucapan Ibu-ibu Sangat Persuasif

Persuasif menurut KBBI adalah membujuk secara halus supaya orang menjadi yakin, terpengaruh, dan percaya.

Karakter Bu Tejo adalah contoh orang yang mampu mempengaruhi pendapat banyak orang. Dalam hal ini, semua ibu-ibu yang ada di atas trek. Dengan memberikan bukti-bukti (postingan di media social), pendapat yang bertubi-tubi, serta memberikan “kepedulian” kepada orang lain, semua ibu-ibu meyakini dan mengamini semua pendapat Bu Tejo. Kepedulian yang ia tampilkan adalah bahwa membicarakan Dian bukan memfitnah, tapi berjaga-jaga agar keluarga para ibu-ibu di desanya aman dari gangguan Dian.

Keterampilan ini saya kira memang sebuah stereotip yang bisa positif tapi juga negatif. Tergantung apa yang disampaikan. Jika berupa berita benar dan bermanfaat, sifat persuasif ibu-ibu sangat berguna dan bermanfaat. Sebaliknya, jika berisi kabar burung, hoax, bahkan merugikan orang lain, jelas merupakan stereotip yang buruk.

Tidak Taat Hukum

Well, tidak semua ibu-ibu begini kan ya? Tapi istilah “sign ke kiri beloknya ke kanan” adalah sematan yang diberikan kepada kaum emak-emak ketika berkendara di jalanan.

Stereotip ini sudah melekat dan sifatnya cukup buruk. Namun, bagaimana lagi. Mungkin karena cukup banyak ibu-ibu yang melakukannya, maka menjadi cap yang melekat kepada ibu-ibu.

Seperti dalam film Tilik, ibu-ibu dengan ganas membantevaah dan melawan polisi secara keroyokan.

Kalau kata Bu Tejo alias Siti Fauziah dalam acara Okay Boss Trans7 sih, adegan ini dilatarbelakangi adanya ibu-ibu yang pernah menggigit polisi.

Ya, kurang lebih, adegan-adegan dalam film Tilik ini memang seperti kritik sosial bagi prilaku kelompok ibu-ibu. Apalgi menyangkut sikap dalam menaati hukum memang layak dikritik sih.

Tidak Profesional

Stereotip yang satu ini mungkin terlalu umum. Tidak hanya ibu-ibu, tapi bapak-bapak atau anak muda sekalipun bisa memiliki kriteria tidak profesional.

Namun, sebagaimana dalam film Tilik, ada adegan di mana Yu Ning, tokoh yang mengajak semua ibu-ibu untuk menjenguk Bu Lurah (tilik Bu Lurah) ini susah dihubungi. Hasilnya, ketika sudah sampai di rumah sakit, ternyata kondisi Bu Lurah tidak memungkinkan untuk dibesuk. Padahal Dian yang berada di rumah sakit sudah berkali-kali menghubungi Yu Ning. Namun, entah alasan apa, Yu Ning tidak merespon panggilan telepon Dian.

Dalam dunia profesional, mengangkat telepon dan terus terhubung dalam komunikasi itu adalah hal yang sangat urgen. Akan sangat dikatakan tidak bertanggungjawab bila ada kesalahan hanya karena alasan tidak tahu. Atau alasan tidak sempat menjawab telepon. Entah karena sinyal, gagap teknologi (gaptek), apalagi alasan malas menjawab telepon.

Jadi, adegan Yu Ning ini saya tafsirkan sebagai stereotip bahwa ibu-ibu juga punya sifat tidak profesional. Artinya, kurang bisa diandalkan dalam dunia profesi atau kegiatan yang butuh kecakapan dan tanggungjawab. Bisa jadi karena tidak pernah terjun ke dunia professional, latar belakang pengalaman, bahkan rutinitas harian juga membuat ibu-ibu mengabaikan pentingnya komunikasi elektronik.

Kehilangan Aktualisasi Diri, Akhirnya Hanya Membanggakan Orang Lain

Ada pepatah Arab berbunyi, “bukanlah orang hebat yang berkata ‘inilah ayahku’ tapi orang yang hebat adalah yang berkata ‘inilah aku'”.

Artinya bahwa membanggakan orang lain walaupun itu anggota keluarga sendiri, seperti suami, ayah, anak dll tidak membuat seseorang menjadi lebih unggul. Justru membuktikan diri sendiri yang unggul dan punya kelebihan itulah yang dikatakan hebat. Ya, apa hebatnya punya suami Gubernur, jika istri masih saja bekerja di dapur sumur Kasur. Tidak mengubah rutinitas dan kualitas diri.

Begitu pula adegan Bu Tejo yang membanggakan suaminya. Ia mempromosikan suami yang kemungkinan mampu menjadi Kepala Lurah selanjutnya.

Ya, meskipun sudah menjadi teori umum bahwa “di balik pria hebat ada perempuan hebat”, namun tetap saja bagi saya sifat perempuan yang mendukung dari belakang ini mencerminkan ketidakmampuan. Atau lebih tepatnya tidak pernah mendapatkan kesempatan.

Bukan perempuan yang tidak hebat, tapi jika dikaitkan dengan budaya kita, perempuan banyak yang akhirnya terpaksa memilih peran domestik. Sehingga tidak bisa berkembang di ranah sosial. Tidak mudah untuk memiliki peran penting di masyarakat. Tidak juga mudah mencapai puncak karir terutama setelah berumah tangga.

Kondisi ini membuat kaum ibu-ibu terutama yang khusus menjadi ibu rumah tangga, hanya bisa mendukung suami. Ia cukup bangga ikut terangkat status sosial menjadi Bu Lurah, Bu Camat, Ibu Negara, atau istri direktur.

Banyak perempuan memang bangga dengan posisi itu. Tapi, entah kenapa hati saya sih merasa miris. Bagaimana dengan pembaca? Silahkan sampaikan di kolom komentar ya.

Konsumtif dan Materialistis

Kalau poin terakhir ini sih kayaknya sudah tidak diragukan lagi. Perempuan itu identik dengan yang namanya belanja atau “shopping”.

Bahkan kegiatan melihat-lihat barang di pusat perbelanjaan juga sudah dikatakan hiburan bagi kaum perempuan.

Sepertinya stereotip satu ini paling kentara, karena tidak berhubungan dengan cerita tapi pembuat film sengaja menambahkannya di adegan akhir film. Ketika semua rombongan tidak jadi menjenguk Bu Lurah, pelarian dari kekecewaan mereka adalah pergi ke Pasar Gedhe. Shopping dong.

Bahkan Bu Tejo mengatakan ini sebagai ide yang solutif. Seolah shopping atau hanya berkunjung ke tempat belanja adalah solusi yang sempurna untuk persoalan ibu-ibu dalam masalah apapun. Ya, tergambar dari ucapannya, “dadhi wong kue sing solutip ngono loh” (jadi orang itu yang solutif gitu lho) sambil mengangkat dagu seolah membanggakan ide briliannya itu.

bu tejo tilik
Bu Tejo dalam Film Tilik

Ya, ibu-ibu identik dengan belanja. Mencerminkan prilaku konsumtif karena shopping seolah menjadi kegiatan paling mujarab untuk menciptakan kebahagiaan seorang perempuan.

Bagi pembaca, apakah stereotip berupa sifat Konsumtif ini termasuk stereotip yang buruk atau malah positif? Apa alasannya?

Itulah 7 stereotip ibu rumah tangga dalam film pendek Tilik. Kira-kira, apakah semua Itu benar, atau hanya berlaku bagi kelompok ibu-ibu tententu, atau bahkan kamu tidak setuju sama sekali?