Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menikah
pernikahan,  Tips

5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menikah, Jangan Sepelekan!

5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menikah – Kata orang tua di kampung saya, pernikahan itu “sari gunung”. Maksudnya, terlihat indah dan mulus. Namun, saat didekati, kenyataannya begitu terjal.

Sebagaimana kita melihat gunung dari kejauhan, nampak mulus berwarna biru. Indah dipandang. Tapi, saat kita mendaki, semua berbeda rasanya. Harus melewati medan terjal, rintangan, atau ancaman hewan buas. Belum lagi rasa lelah saat mendaki membuat orang yang ingin naik gunung harus menyiapkan diri semaksimal mungkin.

Begitu pula dengan pernikahan. Tanpa persiapan yang matang, tanpa paham medan perjalanan, maka akan sangat rentan kegagalan. Kalaupun berhasil sampai ke puncak, mungkin akan cedera dahulu atau hal-hal lain yang sebenarnya bisa dihindari.

So, agar tujuan pernikahan yang bahagia bisa kamu dapatkan, yuk pelajari 5 hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah .

1. Restu Orang Tua

Hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah nomer satu adalah restu orang tua. Jangan anggap sepele restu orang tua ya Sobat Muda. Sekalipun kamu saat ini merasa tidak membutuhkan izin mereka untuk menikah, sebenarnya hal ini penting.

Seperti yang saya sebutkan di atas, pernikahan itu sari gunung. Kamu mungkin mengira semua akan lancar saja. Tapi banyak sekali hal bisa terjadi.

Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), padahal awalnya pasangan saling mencintai, bertengkar karena ekonomi, kesulitan menjaga anak-anak, atau kesedihan tersendiri jika hal-hal penting tidak didampingi atau dikunjungi oleh orang tua. Misal saat baru melahirkan, saat tujuh hari lahiran, saat hari raya, dan lain-lain. Kebayang kan, jika orang tua sejak awal tidak merestui.

Jangan terpengaruh film yang mendukung kawin lari lho… hehe Kenyataannya, kita selalu butuh orang tua sekalipun hanya doa mereka. Atau senyum mereka saat menimang cucu, atau juga keramahan dan kasih sayang mereka kepada pasangan kita. Akan sangat dilema jika sebaliknya kan?

Jadi, sebelum memutuskan menikah, mengantongi restu orang tua sangat penting. Pastikan mereka setuju dengan calon pasangan, sudah mantap hati menikahkan kamu.

Eh ya, bukan berarti kamu juga harus pasif ketika orang tua tidak merestui. Jika orang tua kamu tidak setuju dengan pasangan kamu misalnya, kamu bisa lakukan komunikasi. Cari tahu alasan mereka. Jika pendapat mereka keliru, kamu tentu perlu menjelaskan siapa calon pasangan kamu yang sebenarnya. Supaya tidak ada ganjalan lagi di hati ortu. Fighting!

2. Pekerjaan yang Jelas

Nomer dua, hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah adalah pekerjaan yang jelas.

“Belum kerja nggak apa-apa, nikah kan bisa mancing rejeki.” Itu tidak salah. Tapi kayaknya bagi yang belum mengalami sendiri, prinsip itu terlalu disederhanakan deh.

Memang, menikah itu memancing rejeki. Tapi menurut saya, yang sebenarnya terjadi adalah “the power of kepepet”. Orang kalau kepepet butuh uang, pasti tiba-tiba jadi berani, jadi nggak gengsian, jadi timbul ide dan mau kerja keras. Akhirnya, rejeki pun lebih maju ketimbang teman seumuran yang belum berumah tangga. Teman-teman yang lajang masih main ke sana kemari, kamu sudah punya usaha yang berkembang.

Coba pikirkan juga dari sisi lain, selain keberhasilannya ya Sobat Muda. Bagaimana jika orang yang kepepet itu adalah orang yang tidak tahan stres, tidak mampu berjuang, dan juga tidak bisa mengembangkan kreativitas? Skill pun tidak punya. Atau bisa juga memang tipe orang yang tidak bisa fokus sehingga segala hal yang ia jalani selalu tidak selesai atau gagal di tengah jalan. Bagaimana jika kamu atau pasangan kamu tipe demikian?

Daripada ngetes hal yang belum nampak, lebih baik soal pekerjaan dan penghasilan kalian (kamu dan calon pasangan) perjelas dulu sebelum melangkah ke pelaminan.

Mungkin ketika belum ada pekerjaan yang jelas, kamu siap bekerja keras. Tapi, kamu sendiri pasti tidak seratus persen yakin menjamin akan berhasil.

So, jika mau bisnis, maka jalani dulu bisnis kamu. Kalau sudah berkembang atau paling tidak sudah ada penghasilannya, kamu sudah bisa dikatakan siap untuk menghidupi diri dan calon keluarga kecil kamu nantinya. Kalau bukan tipe pengusaha, mungkin kamu sudah bekerja di bidang tertentu, atau di instansi tertentu.

Pekerjaan itu penting untuk kamu miliki untuk menjamin kenyamanan berkeluarga, menjamin gizi diri dan pasangan juga calon buah hati kamu, serta fasilitas hidup. Pasti kamu ingin hidup minim ribet dan berdarah-darah bukan? Ahihi.

3. Sudah Tahu Kriteria Calon Pasangan

Apapun cara kamu dan pasangan bertemu, entah melalui pacaran atau perjodohan, pastikan kamu sudah mengenali kriterianya. Apa yang ingin kamu tahu harus jelas sejak awal.

Biasanya, di antata hal yang sangat penting tentang calon pasangan adalah persoalan moral si calon. Pastikan ia punya track record akhlak maupun prilaku yang mencerminkan moral yang baik. Jangan sampai ada sesuatu hal yang nantinya bikin kamu kecewa berat.

Jangan karena alim atau pendidikan tinggi ya Sobat Muda, lantas nggak perlu paham lebih jauh. Banyak kok, yang pendidikannya tinggi atau ilmu agamanya selangit, tapi tetap melakukan KDRT. Kalau yang telah dekat sejak lama, harus bisa bisa kamu bedakan prilaku dia, apakah pencitraan saja atau memang itu sifat dia yang sesungguhnya.

Selebihnya, mungkin kamu punya kriteria agama, karakteristik dan watak keluarganya, pekerjaannya apa, hingga kematangan dirinya.

4. Kepribadian Sudah Matang

Nah, ini juga penting lho Sobat Muda.. Artinya kita harus pastikan calon suami atau istri yang memang sudah dewasa sifatnya. Teliti sebelum eksekusi. Jangan menyadari bahwa kamu atau pasangan ternyata belum siap menikah ketika sudah melewati pelaminan.

Dewasa di sini bukan berarti harus ideal seperti orang tua kita yang telah berpengalaman. Dewasa punya batasan tersendiri untuk usia laki-laki dan perempuan di usia awal pernikahan.

Minimal sudah siap menghadapi hal-hal yang akan dilalui dalam pernikahan. Bagi perempuan, di antaranya sudah siap mengandung, melahirkan, hingga menjaga dan merawat anak nantinya. Beberapa skill juga perlu disiapkan seperti memasak, terbiasa bersih-bersih dan tertib di rumah, mencuci pakaian, piring, dan sebagainya.

Eits, jangan salah paham dulu ya Sobat Muda. . Bukan berarti saya bias gender kepada perempuan. Hanya saja, kesiapan dan skill tersebut juga dibutuhkan barangkali untuk berjaga-jaga kondisi rumah tangga yang tidak bisa kita prediksi. Soal kamu nantinya nggak akan mengurus itu semua, tidak masalah. Hanya saja, tanpa skill berumah tangga di atas, biasanya lebih rentan konflik dan bahan julid. Hihi

So, lebih baik sedia payung sebelum hujan deh. Lagipula, lebih enak kalau sudah punya keterampilan tersebut kan?

Begitu juga dengan calon suami. Skill berumah tangga juga harus Sobat miliki. Jadi, tidak ada lagi istri mengeluhkan suami yang pergi mancing di hari libur. Sedangkan istri tetap sibuk mengurus rumah dan anak-anak. No no no. Saling pengertian juga tanda kematangan diri calon pasangan ya.

Matang dari segi kepribadian juga bukan hanya soal itu, namun sudah siap dengan berbagai konflik yang mungkin akan muncul. Misalnya kemampuan menahan amarah, mengelola mood, mampu mengalah, mampu berkomunikasi dengan baik dalam berbagai situasi. Sifat tersebut bisa kamu teliti dengan bertanya kepada orang-orang terdekat calon pasangan. Mungkin keluarganya, teman-teman dekatnya, dan sebagainya.

5. Penuhi Harapan Kamu

Ekspektasi setiap orang pasti tidak sama. Begitu juga dengan pernikahan. Mungkin kamu ingin menikah dengan adat daerah kamu, ingin pasangan satu suku, ingin pasangan berhijab, ingin suami penyabar, dan lain-lain.

Pastikan kamu sudah siap dan telah menemukan apa yang jadi ekspektasi kamu supaya tidak menyesal. Namun, ekspektasi yang kamu miliki harus dalam koridor wajar pastinya. Entah sesuai dengan kemampuan kamu, sesuai dengan diri kamu, atau dengan keadaan.

Ingin punya suami penyabar, carilah yang penyabar. Ingin yang telah memiliki rumah sendiri, ya cari yang seperti itu. Ingin istri yang bisa memasak, cari kriteria demikian.

Jangan sampai keinginan kamu baru kamu utarakan saat sesudah menjadi suami istri. Jika istri sama sekali tidak bisa dan bahkan tidak punya keinginan untuk memasak, nantinya kamu kecewa. Ada lho, kisah nyata istri yang jika memijat suami, tangannya jadi sakit semua. Kalau suami tidak pengertian, atau mendambakan istri yang pandai memijat, itu mungkin akan menjadi masalah. Untungnya suaminya pengertian sih.. hiy

Penuhi segala harapan soal pernikahan kamu semaksimal mungkin. Mengapa? Ya, menikah itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Penuh tantangan yang beragam. Jika kamu terjun begitu saja tanpa persiapan, kemungkinan besar akan lebih banyak konflik. Dan, kamu pasti tahu bahwa banyak kasus perceraian terjadi akibat adanya konflik yang terlalu besar. Pasangan suami istri tidak mampu melewati konflik tersebut, akhirnya memilih berpisah. Sekalipun tidak berpisah, pasti pernikahan tersebut tidak bahagia dong.

Supaya minim masalah dan lebih banyak kebahagiaan, persiapkan sebaik mungkin ya Sobat Muda..

Itulah dia 5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menikah. Pernikahan adalah ibadah paling lama, jadi jangan kikis keikhlasan beribadah dengan konflik yang berat. Semoga menjadi keluarga yang bahagia ya.

Satu Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *