Sajian Terakhir

1 September.

Tanggal itu tidak istimewa bagi siapa pun selain aku.

Ia datang ketika restoran belum benar-benar ramai. Pintu terbuka, udara panas dari luar ikut masuk, dan untuk sesaat aku merasa hari itu berhenti bergerak. Ia berdiri sebentar, seolah menimbang apakah akan masuk atau pergi, lalu memilih duduk di meja dekat jendela.

Aku melihatnya sebelum ia melihatku.

Tubuhnya tinggi, rapi, dan terlalu tenang untuk seseorang yang tampak begitu lelah. Wajahnya bukan wajah yang meminta perhatian, tapi wajah yang membuat orang lain diam lebih lama. Tatapan matanya teduh, tapi ada sesuatu di baliknya—seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan diri agar tetap tampak wajar.

Aku tahu, bahkan sebelum ia memesan, bahwa ia tidak datang untuk makan.

Ia datang untuk beristirahat dari dirinya sendiri.

Aku menghampirinya. Ia tersenyum singkat. Senyum orang yang tidak ingin merepotkan siapa pun.

Ia memesan menu biasa. Aku mencatat, lalu kembali ke dapur. Tanganku bergerak seperti biasa, tapi pikiranku tidak. Ada perasaan asing—bukan ketertarikan, bukan harapan—lebih seperti pengakuan diam-diam bahwa seseorang telah masuk ke ruang batin yang tidak pernah kubuka untuk siapa pun.

Ia tidak menghabiskan makanannya.

Saat ia pergi, piringnya masih menyisakan hampir setengah. Entah kenapa, itu terasa seperti kegagalan pribadiku.

Menu yang Tidak Pernah Diminta

Aku sudah menikah bertahun-tahun, tapi lama sebelum bertemu laki-laki itu, aku sudah berhenti merasa dicintai. Suamiku ada di rumah, tapi kehadirannya tidak pernah benar-benar tinggal. Ia pulang dengan bau asing, dengan nada suara yang tidak lagi menatapku, dan dengan tubuh yang selalu lebih memilih dunia lain.

Aku bekerja untuk bertahan. Untuk anakku. Untuk diriku sendiri.

Laki-laki itu kembali. Lalu kembali lagi. Kadang sendiri. Kadang bersama istri dan anaknya. Jika bersama mereka, suasananya selalu sama: rapi, tertib, dan kosong. Mereka makan seperti kewajiban, bukan pertemuan.

Aku mulai menunggunya.

Bukan secara sadar. Bukan dengan doa atau harapan. Tapi tubuhku tahu lebih dulu: hari terasa lebih lengkap jika ia datang.

Aku memperhatikan caranya makan. Cara ia memegang sendok. Cara ia selalu berhenti sebelum kenyang. Cara ia menatap keluar jendela seolah ada sesuatu di luar sana yang selalu luput ia capai.

Suatu hari, aku memasakkan sesuatu yang tidak ada di menu.

Bukan karena iba. Bukan karena ingin mencoba. Tapi karena ada bagian dalam diriku yang berkata:
Jika aku tidak boleh menyentuh hidupnya, biarlah aku menyentuhnya lewat makanan.

Aku mengubah cara memasak. Api lebih kecil. Rasa lebih dalam. Tidak mencolok. Tidak menuntut. Makanan yang tidak mengajak bicara, hanya menemani.

Ketika ia memakannya, wajahnya berubah sedikit. Hampir tidak terlihat, tapi aku melihatnya. Ia menghabiskan semuanya.

Sejak hari itu, menu itu ada—hanya untuknya.

Ia tidak pernah memintanya. Tapi setiap kali datang sendirian, aku tahu ia menunggu.

Dan aku selalu menyediakannya.

Enam Bulan yang Tidak Pernah Bernama

Waktu berjalan dengan cara yang kejam: ia membuat kebiasaan terasa seperti takdir.

Aku mulai menata jam kerjaku agar bisa melihatnya. Aku kecewa jika ia datang bersama keluarganya. Aku marah pada diriku sendiri karena berharap. Aku mencintainya tanpa hak, tanpa klaim, tanpa masa depan.

Dunia batinku menyempit. Semua berpusat padanya.

Aku memasak sambil memikirkan bagaimana hari ini ia akan makan. Apakah wajahnya lebih pucat. Apakah bahunya lebih turun. Aku belajar mengenalnya tanpa satu pun pertanyaan.

Cinta, ternyata, tidak selalu ingin dimiliki. Kadang ia hanya ingin melayani sampai habis.

Ia mulai tampak lebih hidup. Ia duduk lebih lama. Ia berkata suatu hari, pelan,
“Setelah makan ini, aku bisa tidur.”

Kalimat itu menghancurkanku lebih dari pengakuan cinta mana pun.

Aku tahu saat itu: aku telah memberi terlalu banyak.

Sajian Terakhir

Keputusanku untuk pergi tidak lahir dari keberanian, tapi dari ketakutan. Aku takut jika tinggal lebih lama, aku akan meminta sesuatu yang tidak pantas.

Aku bercerai. Aku memutuskan pindah ke Bandung. Aku tidak memberitahunya.

Malam terakhirku bekerja, ia datang seperti biasa. Sendirian.

Aku memasak menu itu untuk terakhir kalinya. Tanganku gemetar, tapi api tetap kecil. Aku ingin rasanya sempurna. Aku ingin ia mengingatnya seumur hidup.

Ia menghabiskannya.

“Entah kenapa,” katanya pelan, “ini selalu terasa seperti… pulang.”

Aku tidak menjawab.

Ia pergi tanpa tahu bahwa ia baru saja ditinggalkan.

Aku membayangkannya kembali ke restoran itu. Duduk di meja dekat jendela. Menunggu sesuatu yang tidak pernah datang lagi.

Dan aku tahu:
kehilangan itu akan tumbuh perlahan, dan tidak ada siapa pun yang bisa ia salahkan.

Seperti cintaku.

You May Also Like

Leave a Reply