Datang Saat Habis – Part 3
PART 3 — Karena Halim
Enam bulan setelah kunjungan Halim ke rumah orang tuaku, hidupku kembali berjalan seperti biasa. Atau setidaknya, terlihat begitu.
Aku kembali ke Jepang, kembali pada rutinitas yang rapi. Bangun pagi, kereta yang sama, wajah-wajah yang sama di peron. Aku sudah bekerja—menjalani masa magang di sebuah perusahaan dengan ritme yang stabil dan nyaris tanpa kejutan. Tidak ada lagi kelas, tidak ada lagi jadwal kafe, tidak ada lagi jeda-jeda panjang untuk berpikir. Hidupku kini diisi laporan, rapat singkat, dan target mingguan.
Semuanya tampak lurus. Seolah tidak ada yang menggantung.
Padahal di kepalaku, selalu ada satu pertanyaan yang muncul pelan-pelan, lalu mengendap.
Aku akan menikah dengan siapa?
Jawabannya selalu sama. Dengan Halim.
Ibu dan Naya
Telepon dari ibuku datang suatu malam, ketika hujan turun tipis di luar jendela apartemen. Suaranya terdengar pelan, seperti biasa, dengan kehati-hatian yang tidak pernah hilang.
“Keluarganya Halim… mereka baik-baik saja kan?” tanyanya.
Aku terdiam sebentar. “Baik, Bu. Maksudnya… ya biasa saja.”
Ibuku menghela napas kecil, seperti seseorang yang sudah lebih dulu memahami sesuatu.
“Dari awal memang begitu, Nak. Jarang sekali keluarga laki-laki menyambut perempuan dengan hangat.”
Aku memejamkan mata.
“Ibu juga begitu dulu,” lanjutnya. “Waktu pertama masuk keluarga bapakmu, ibu bukan siapa-siapa. Bukan karena ibu jahat, tapi karena memang perempuan itu… harus membuktikan dirinya pelan-pelan.”
“Jadi itu normal, Bu?” tanyaku lirih.
“Bukan normal,” jawabnya. “Tapi sering terjadi.”
Ia tidak terdengar marah. Tidak juga membela keluarga Halim. Ia hanya berbicara dari pengalaman—dari hidup yang sudah dijalani tanpa banyak pilihan.
“Kamu itu perempuan baik,” katanya kemudian. “Sopan. Tidak macam-macam. Orang akan melihat itu… nanti. Kalau sudah kenal.”
Setelah telepon ditutup, aku duduk lama di tepi ranjang. Kata nanti terasa panjang. Terlalu panjang untuk dipastikan.
Di ruang tengah, Naya sedang menyeduh teh. Kami sudah lama tinggal bersama, terlalu lama untuk berpura-pura baik-baik saja.
“Kamu habis nelpon ibu?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Bahas keluarganya Halim lagi?”
“Iya.”
Naya duduk di seberangku. “Aku masih mikir itu aneh.”
“Aneh yang gimana?”
“Ya… masa iya keluarganya sama sekali nggak penasaran sama kamu.” Ia mengernyit. “Anaknya mau nikah, tapi nggak ada satu pun yang pengin kenal kamu lebih jauh.”
Aku tersenyum tipis. “Ibuku bilang, itu sering terjadi.”
“Aku ngerti,” katanya. “Dan jujur aja, Halim itu… aman. Banget.”
Ia berhenti sebentar, seolah menimbang kata-katanya sendiri.
“Terlalu aman, malah.”
Aku menunduk. “Itu juga yang aku rasain.”
“Tapi di sisi lain,” lanjutnya, “aku juga nggak bisa nyalahin kamu kalau milih dia. Halim itu nyata. Nggak cuma omong.”
Naya menghela napas. “Aku bingung juga, Ra. Kalau aku di posisi kamu, mungkin aku sama bingungnya.”
Kami terdiam. Tidak ada nasihat. Tidak ada kesimpulan. Hanya kejujuran yang dibiarkan menggantung.
Malam itu, setelah Naya masuk ke kamarnya, aku duduk sendirian. Kuberi pikiranku izin untuk berjalan ke belakang.
Flashback
Aku mengingat Halim sejak awal. Cara ia selalu menempatkanku di posisi yang jelas. Tidak pernah menyembunyikan. Tidak pernah membuatku menebak-nebak. Ia memperkenalkanku pada teman-temannya, pada lingkaran hidupnya, tanpa ragu.
Aku mengingat Halim sebagai mahasiswa—rajin, sungguh-sungguh, bertanggung jawab. Tidak hanya mengerjakan bagiannya sendiri, tapi sering mengambil beban lebih. Orang-orang mengandalkannya, dan Halim tidak mengelak.
Aku mengingat bagaimana ia hadir bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Saat aku harus diawat di rumah sakit, ia mengurus administrasi, mencari obat, memastikan semuanya berjalan. Saat aku pulang larut, ia menawarkan mengantar. Bantuan yang konkret, bukan romantis kosong.
Aku membandingkannya dengan laki-laki lain yang pernah mendekat.
Ada yang hadir waktu kuliah di awal semester—laki-laki yang terlalu cepat tergila-gila. Membawa masakan ibunya, mengirim pesan tanpa jeda, tapi cara bicaranya cepat berubah arah. Kekagumannya mengarah kepada sensualitas yang instan. Itu membuatku tidak nyaman. Sejak awal, aku tahu itu bukan arah yang aman.
Lalu laki-laki yang jauh lebih tua, saat aku masih bekerja paruh waktu di kafe. Datang membawa orang tuanya. Orang tua Jepang yang begitu antusias, begitu ingin mengenal. Aku justru merasa semakin canggung. Aku pulang dengan perasaan bahwa hidup kami tidak berada di garis yang sama.
Bahkan, ketika mengingat kisah orang lain yang sama-sama punya pacar di kampus, ada yang pacarnya sama sekali tidak mengenalkannya ke lingkaran pertemanannya. Ada juga yang ketika diminta melamar, justru banyak sekali alasannya. Ada juga yang hanya ingin menjalin pergaulan bebas, lalu pergi tanpa ada ikatan yang jelas.
Dari semua itu, Halim tetap berdiri sebagai pilihan yang paling masuk akal.
Ia bekerja di Jepang, sesuai bidangnya. Penghasilannya stabil. Bahkan jika kelak pulang ke Indonesia, ada bisnis keluarga yang sudah mapan menunggunya. Ia tidak berbicara tentang masa depan dengan mimpi kosong, tapi dengan rencana yang konkret.
Aman dan Rasa Takut
“Aku bisa nanggung semuanya,” katanya suatu kali. “Kamu. Keluargamu.”
Kalimat itu membuatku merasa aman. Sekaligus takut.
Aman, karena akhirnya ada seseorang yang berdiri kokoh di hadapanku.
Takut, karena aku tidak ingin menjadi seseorang yang seluruh hidupnya ditopang orang lain.
Aku takut suatu hari terlalu bersandar. Takut kehilangan ruang untuk bergerak. Takut tidak lagi punya pilihan selain menerima.
Namun aku juga tahu satu hal: tidak ada laki-laki lain yang sejelas Halim. Tidak ada yang seserius itu menatap masa depan bersamaku.
Dan aku mencintainya. Mungkin ini alasan tepatnya.
Aku mencintai dengan cara yang utuh, tanpa cadangan. Sekali memilih, aku akan bertahan lama. Terlalu lama, mungkin.
Malam itu, di apartemen yang sunyi, aku menyadari bahwa keputusanku bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang keberanian berjalan di jalur yang panjang, dengan segala risiko yang belum sepenuhnya kupahami.
Karena Halim, aku memilih percaya.
Dan karena Halim pula, aku menyimpan keraguan itu dalam-dalam—rapi, diam, menunggu.
