Datang Saat Habis – Part 2

Rumah yang Terlalu Hangat

Kami mendapat libur dua minggu setelah enam bulan magang di Jepang.
Perusahaannya bergerak di bidang desain sistem manufaktur—pekerjaan yang membuat Halim sering pulang dengan mata lelah tapi wajah tetap tenang. Aku magang di bagian administrasi riset, lebih banyak bergulat dengan dokumen, data, dan jam kerja yang terasa panjang tapi sunyi.

Libur itu seharusnya sederhana. Pulang ke Indonesia, mengunjungi keluarga masing-masing, lalu kembali lagi ke ritme hidup di negeri orang. Tapi Halim membuat pilihan yang berbeda.

“Aku mau ke rumahmu,” katanya suatu malam lewat telepon.
Bukan bertanya. Lebih seperti keputusan yang sudah matang.

Aku berhenti mencuci piring bekas makan malamku di apartemen kecil di Saitama. “Ke rumahku?”
“Iya. Aku pengin kenal ayah ibumu.”

Nada suaranya datar, seperti membicarakan sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi. Di situlah aku tahu—Halim tidak sedang bermain-main. Dari awal kuliah, dari caranya menjagaku, dari caranya selalu bicara tentang masa depan tanpa janji muluk, aku sudah tahu. Tapi kalimat itu tetap membuat dadaku mengeras sebentar.

Rumahku bukan rumah yang biasa ia kunjungi.
Bukan rumah dengan ruang tamu luas, bukan kota, bukan tempat yang pernah ia lihat di video liburan.

Aku mengangguk. Karena bagaimana caranya menolak laki-laki yang sejak usia sembilan belas tahun sudah memperlakukanku seperti calon istri?

Jalan Panjang Menuju Rumah

Kami turun di bandara Surabaya pagi-pagi. Dari sana perjalanan berlanjut berjam-jam ke arah selatan, melewati jalanan yang semakin menyempit. Sawah mulai muncul di kanan-kiri. Hijau yang tidak rapi, tidak disusun untuk dilihat, tapi tumbuh karena memang hidup di sana.

Desaku bernama Desa Sumberwangi, di kaki perbukitan kecil. Rumah-rumahnya berjauhan, di antaranya kebun singkong, pohon kelapa, dan suara ayam yang terdengar seperti penanda waktu.

Aku memperhatikan Halim sepanjang perjalanan. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya bergerak pelan, mengamati. Tidak ada ekspresi kaget, tidak ada tawa yang dibuat-buat. Hanya diam yang sopan.

Saat mobil berhenti di depan rumahku, ibuku sudah berdiri di teras. Seolah tahu persis jam kedatangan kami. Ayah berdiri di belakangnya, rapi dengan kemeja lengan panjang meski cuaca panas.

“Itu Halim?”
Belum turun dari mobil, ibuku sudah bertanya sambil tersenyum lebar.

Begitu Halim keluar, semuanya terjadi terlalu cepat.
Salaman. Pelukan ringan. Pujian.

“Masya Allah, ganteng ya.”
“Kok sopan banget.”
“Makasih ya, Nak, sudah jagain Vera di Jepang.”

Aku berdiri di samping mereka, mendadak menjadi latar.

Adik laki-lakiku yang SMA langsung menyalami Halim dengan wajah kagum. Adik perempuanku yang masih SMP tersenyum malu-malu, lalu berlari ke dapur membantu ibu. Ayah menepuk bahu Halim, mengajaknya masuk seolah sudah lama mengenal.

Aku mengikuti dari belakang.

Tamu yang Dimuliakan

Rumah kami sederhana. Tembok polos, lantai keramik lama, perabot yang fungsional. Tapi sore itu rumah terasa penuh—oleh suara, oleh perhatian, oleh sesuatu yang hangat dan bergerak cepat.

“Halim mau minum apa?”
“Sudah makan belum?”
“Capek ya dari Jepang?”

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Ibuku bahkan lupa menanyakan kabarku. Aku duduk di kursi kayu dekat jendela, memperhatikan Halim yang dijamu seperti tamu paling penting yang pernah masuk ke rumah ini.

Malamnya, aku baru tahu kamar utama dikosongkan.

“Bapak sama Ibu tidur di ruang tengah saja,” kata ibuku ringan, seolah itu keputusan kecil. “Biar Halim nyaman.”

Aku tercekat.
“Bu, nggak perlu—”

Ibuku tersenyum. “Nggak apa-apa. Ini tamu istimewa.”

Tamu istimewa.
Kata itu bergema di kepalaku lebih lama dari seharusnya.

Keesokan paginya, adikku memanjat pohon kelapa di belakang rumah. Katanya Halim belum pernah minum kelapa muda langsung dari pohonnya. Aku melihat dari dapur—gerakan tubuh adikku lincah, penuh semangat. Ia tertawa saat kelapa jatuh ke tanah.

Halim berterima kasih berkali-kali.
Aku duduk, memegang gelas, dan tiba-tiba teringat seragam biru di Raja Ampat. Meja makan panjang. Lobster. Orang-orang yang baik tapi sibuk dengan lingkarannya sendiri. Aku yang hadir, tapi tak pernah benar-benar diajak masuk.

Perbandingan itu datang tanpa izin.

Di rumahku, Halim dirangkul sebelum ia meminta.
Di keluarganya, aku hadir tanpa pernah benar-benar disapa.

Pertanyaan yang Tidak Pernah Diucapkan

Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena suara desa—aku tumbuh dengan suara ini. Tapi karena ada sesuatu yang pelan-pelan bergeser di dadaku.

Aku bahagia melihat orang tuaku menyayangi Halim.
Aku bersyukur adik-adikku menghormatinya.

Tapi di balik itu, ada pertanyaan yang tidak berani keluar:

Kalau aku sebegitu mudah menyerahkan duniaku padanya,
mengapa aku harus belajar menahan diri di dunianya?

Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Keluarga Halim bukan keluarga jahat. Mereka baik, rapi, tidak kasar. Mungkin hanya belum terbiasa membuka ruang. Atau mungkin aku yang terlalu berharap.

Halim tetap Halim yang sama.
Laki-laki yang datang ke desa terpencil tanpa ragu.
Laki-laki yang tidur di kamar orang tuaku dengan sikap hormat.
Laki-laki yang sejak awal memperlakukanku seperti masa depan, bukan singgahan.

Tapi keluarga bukan hanya tentang dua orang.

Di kamar kecilku, aku duduk di tepi ranjang dan menyadari satu hal:
Perjalanan ini tidak akan pernah sederhana.

Dan seperti warna biru yang dulu kupakai untuk menandai jarak,
kehangatan rumah ini justru membuat jarak itu terasa lebih nyata.

Aku mencintainya.
Aku masih mencintainya.

Tapi untuk pertama kalinya, aku bertanya dalam hati:
apakah cinta cukup untuk menyeberangi dua dunia yang menyambut dengan cara berbeda?

You May Also Like

Leave a Reply