Datang Saat Habis – Part 1
Seragam Biru
Aku ikut.
Kalimat itu kuucapkan sambil tersenyum, meski di dalam dada ada sesuatu yang menahan napasku setengah detik lebih lama dari seharusnya.
“Serius?” Halim menoleh cepat. Matanya selalu begitu setiap kali ia merasa bahagia—jujur, tanpa lapisan, seperti seseorang yang tak pernah belajar menyembunyikan niat baiknya.
“Iya,” jawabku lagi.
Aku mengatakannya pada Halim, tapi sejujurnya kalimat itu lebih seperti aku ucapkan pada diriku sendiri.
Aku dan Halim bertemu empat tahun lalu, di Jepang. Kami sama-sama mahasiswa Indonesia di sebuah universitas swasta di pinggiran Tokyo—Universitas Kiyomori, namanya. Tidak terkenal, tidak glamor, tapi cukup hangat untuk jadi tempat pulang bagi perantau.
Kami bukan pasangan yang dramatis. Tidak ada kisah cinta penuh gejolak. Hubungan kami tumbuh seperti kebiasaan minum teh hangat di musim dingin—pelan, konsisten, menenangkan. Halim adalah tipe laki-laki yang aman secara emosional. Sopan, pintar, tahu kapan harus mendengar dan kapan harus diam.
Di Jepang, hidup terasa sederhana bersamanya. Kami belajar, bekerja paruh waktu, saling menunggu di stasiun, berbagi bento murah. Tidak ada pergaulan bebas, tidak ada janji berlebihan. Tapi entah bagaimana, dari cara kami berbicara tentang masa depan, aku tahu: dia tidak main-main.
Halim terasa seperti rumah.
Itulah sebabnya ketika ia berkata, “Kita liburan ke Raja Ampat bareng keluargaku,” aku tidak langsung menolak. Aku hanya diam sebentar.
“Kamu yakin?” tanyaku. “Maksudku… keluargamu?”
“Tenang aja,” katanya ringan. “Mereka asyik kok.”
Asyik, menurut Halim, mungkin berarti aman.
Tapi bagiku, asyik belum tentu berarti menerima.
Lingkaran yang Sudah Utuh
Bandara pagi itu terlalu terang. Terlalu ramai. Keluarga Halim sudah berkumpul: orang tuanya, dua adiknya, beberapa om dan tante, sepupu-sepupu yang saling bercanda dengan bahasa mereka sendiri—bahasa yang sudah mereka pakai seumur hidup.
Aku berdiri di samping Halim, memegang tas kecilku.
“Ini Vera,” kata Halim, memperkenalkanku.
Aku menyalami satu per satu. Cipika-cipiki. Senyum. Anggukan.
“Ah, iya,” kata Tante Rina singkat, lalu kembali berbicara dengan Tante Sari.
Om Agus mengangguk tanpa benar-benar menatap wajahku.
Dimas, adik Halim, tersenyum cepat sebelum kembali menunduk ke ponselnya.
Tidak ada yang menolak kehadiranku.
Tidak ada juga yang menyambutnya.
Aku mencoba mengatakan pada diriku sendiri: Mungkin mereka memang seperti ini.
Mungkin ini hanya caraku yang terlalu sensitif.
Di pesawat, aku duduk di sebelah Halim. Percakapan keluarga itu mengalir di depan dan belakang kami—tentang jadwal, tentang laut, tentang liburan mereka bertahun-tahun lalu. Aku tertawa kecil di waktu yang tepat, meski sering kali aku tidak tahu siapa yang sedang mereka bicarakan.
Aku ada di sana.
Tapi rasanya seperti menonton dari balik kaca.
Sesampainya di Raja Ampat, keindahan alam seperti terlalu berlebihan untuk diproses. Laut biru kehijauan, angin asin, cahaya matahari yang jatuh sempurna di permukaan air. Keluarga Halim bergerak sebagai satu kesatuan—saling memanggil, saling menunggu, saling tahu posisi masing-masing.
Aku mengikuti. Selalu mengikuti.
Ternyata Semuanya Berseragam Biru
Malam itu kami makan di restoran seafood. Meja panjang. Lampu kuning temaram. Lobster besar tersaji di tengah.
Aku baru sadar setelah duduk: mereka semua mengenakan baju biru muda. Seragam tak tertulis. Entah kebetulan atau memang direncanakan.
Aku menunduk menatap kaos oranye yang kupakai—baju pantai yang kubeli sore tadi. Terlihat cerah di cermin toko. Terlihat salah sekarang.
“Sebelas porsi ya,” kata Om Agus pada pelayan.
Sebelas. Termasuk aku.
Tidak ada yang lupa menghitungku.
Hanya saja, tidak ada yang mengajakku duduk di sampingnya.
“Kamu mau lobster yang mana?” tanya Halim pelan.
“Yang sama aja,” jawabku.
Ia mengambilkan. Ia selalu begitu. Pelindung kecilku di ruang besar yang asing.
Percakapan berlangsung di seberang meja. Tentang cuaca. Tentang kapal besok. Tentang kenangan yang tidak kumiliki. Aku mengunyah pelan, mendengarkan tawa yang terdengar akrab—bukan untukku, tapi juga bukan menolakku.
Aku tidak lapar. Tapi makanan itu terasa hambar.
Keesokan paginya kami naik boat kecil. Semua sibuk. Saling memegang tangan. Saling membantu naik.
Aku berdiri di belakang. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang berkata, “Sini, pegang aku.”
Aku naik sendiri.
Di dalam boat, kursi penuh. Aku duduk di ujung. Angin laut menyibakkan rambutku. Di depanku, seragam biru itu kembali terlihat—tertawa, menunjuk laut, berbagi momen.
Aku menatap punggung mereka dan tiba-tiba sadar:
aku tidak sedang ditolak.
Aku hanya tidak sedang diundang masuk.
Di pantai, mereka berjalan berkelompok. Tidak ada yang menggandengku. Tidak ada yang berjalan di sampingku kecuali Halim.
“Kamu kenapa?” tanyanya sore itu.
Aku menatap wajahnya. Wajah laki-laki yang kucintai. Yang kupercaya. Yang terasa seperti takdirku.
“Enggak apa-apa,” kataku.
Dan mungkin itu benar.
Atau mungkin aku hanya belum berani jujur.
Karena untuk pertama kalinya sejak Jepang, sejak empat tahun kebersamaan yang tenang itu, aku bertanya dalam hati:
Kalau aku harus sekesepian ini hanya untuk menjadi bagian dari hidupnya, apakah ini harga yang sanggup kubayar?
Aku mencintai Halim.
Tapi mencintai seseorang tidak otomatis membuat kita siap masuk ke dunia yang membesarkannya.
Dan mungkin, keberanian terbesar seorang perempuan bukan bertahan,
melainkan berani bertanya—sebelum terlambat—
Apakah aku benar-benar diinginkan di sini, atau hanya diizinkan?
Aku menatap laut yang luas dan indah itu.
Tidak semua keindahan adalah tempat pulang.

Sedih ya
Tetap semangat Ver… Coba tanya kembali hatimu. Kami siap jika melangkah lebih jauh dengan Halim dan mendapatkan perlakuan seperti itu?
Jika tidak, cari Halim lain yang keluarganya lebih bisa menjadi bagian dari kebahagiaan kamu.
Aku pernah berada di posisi itu. Ada tapi diabaikan. Sampai cucu dan keponakan diperkenalkan, sementara aku menantu sama sekali tidak disinggung keberadaannya. Padahal justru aku orang baru, menantu yg baru masuk keluarga, yang seharusnya diperkenalkan bukan?
Tapi aku diam saja. Hanya ingin melihat sampai kapan sikap mereka seperti itu. Ternyata tidak lama setelah meninggal dunia suaminya, dia tokoh utama yang dulu tidak melirik sebelah mata padaku itu mulai mendekati suamiku. Apa apa larinya ke kami. Saya biasa saja. Dulu dan sekarang tetap sama. Terlihat benar keangkuhannya luntur setelah pegangannya hilang
Terimakasih teh Okti. Ini adalah hal paling sering dialami seorang menantu perempuan, terutama di budaya patriarkhi. Di mana perempuan selalu dianggap sebelah mata ketika masuk dalam keluarga besar.
Alhamdulillah suamiku yang kaku kak, tapi keluarganya hangat. Saya merasa nyaman saat ada masalah semua ikut mendukung. Tak merasa jadi orang asing di tengah mereka.
Alhamdulillah ya kak Icha, itu rezeki non materi yang jarang kita syukuri.