Motivasi,  Parenting

Supaya Punya Anak Sukses di Masa Depan, Jangan Miskin Harta dan Miskin Hati Dong…

Konon, orang yang bisa bersyukur dan bahagia akan hidup beruntung. Ya, sebagaimana dalam agama, barangsiapa yang pandai bersyukur, maka nikmat akan bertambah. Syukur mendatangkan kebahagiaan baru, dan bahagia selalu mengundang keberuntungan seperti magnet.

anak-anak bahagia, entah hidup kaya atau miskin

Dalam sebuah forum online ada yang mengajukan pertanyaan, “Pernahkah kamu menyesal terlahir miskin?”

Pertanyaan sederhana namun menarik. Miskin sebenarnya relatif. Namun, jika disederhanakan, miskin mengacu kepada kondisi orang yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan primer. Masih terlalu relatif? Ya, boleh lah kembali ke masing-masing persepsi kita. Pokoknya sulit secara materi.
Jika saya ditanya apakah menyesal terlahir miskin, maka saya berani menjawab bahwa saya tidak menyesal. Mengapa? Kesulitan dalam urusan materi masih bisa diobati dengan sabar. Selain itu, kesulitan membuat kita jadi lebih semangat berjuang, dan akhirnya justru menjadi pengalaman manis tersendiri di saat kehidupan kita lebih baik di kemudian hari.
“Oh, dulu saya pernah makan hanya dengan garam atau dengan kerupuk saja. Sekarang alhamdulillah sudah bisa makan enak, gizinya komplit, empat sehat lima sempurna terpenuhi.” Sambil mengenang masa lalu dengan senyuman. Kira-kira begitu.
Hati yang Miskin Bisa Dimiliki Orang Miskin Maupun Kaya
Hati yang miskin adalah ungkapan bagi mereka yang selalu merasa kurang dan kurang. Kira-kira, setiap apa yang ia alami dan miliki selalu saja diambil sisi pahit dan negatifnya.

selalu punya rasa kurang

Sudah punya rumah sendiri, masih ingin rumah model tertentu dengan desain terbaik. Sudah punya anak sehat dan pintar masih merasa kurang karena anak orang lain lebih menggemaskan. Perasaan yang bukanlah motivasi, melainkan meratapi diri. Mengapa saya begini sedangkan yang lain begitu.

Padahal setiap orang memiliki ujian hidupnya masing-masing. Juga memiliki anugerah hidupnya sendiri-sendiri untuk dinikmati, disyukuri, dan dikembangkan.
Hati yang miskin selalu merasa sengsara sekalipun ada banyak hal yang ia harus syukuri dalam hidupnya. Badan yang sehat, keluarga yang rukun, prestasi anak di sekolah, fisik yang kuat, bisa menikmati hidangan walau hanya nasi dan sayur seadanya, dan sebagainya.
Hati yang miskin juga selalu merasa kekurangan dan sengsara sekalipun sudah bergelimang harta.
Hidup Itu Sekarang, Bukan Esok Maupun Kemarin
Kekurangan harta, status sosial, dan sebagainya memang seringkali memicu untuk berjuang mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Banyak orang tua mendidik anak-anaknya, menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Jika orang tua petani, mereka berharap anak-anak kelak tidak lagi membajak sawah, tetapi insinyur pertanian. Contohnya seperti itu.
Namun, apakah harapan dan perjuangan harus mengorbankan kebahagiaan hari ini? Demi keinginan agar anak disiplin berangkat sekolah lebih pagi, harus mengeluarkan bentakan-bentakan. Sehingga anak berangkat dengan suasana hati yang buruk dan penuh amarah. Hari itu dilalui dengan kemarahan dan hubungan tidak harmonis di sekolah, belajar mungkin tidak begitu konsentrasi.
Buat Anda para orang tua muda, yang mungkin tidak begitu memiliki gelimang materi, lalu menginginkan anak-anaknya hidup lebih baik di masa depan. Berjuang mendidik anak tentu adalah hal mulia. Namun, jangan sampai perjuangan itu justru merusak proses perkembangan buah hati kita.
Kalau Sudah Miskin Harta, Apakah Mau Ditambah Miskin Hati?
Terlahir miskin, hidup kekurangan, adalah hal yang tidak bisa dihindari bagi banyak orang. Ingat, kemiskinan tidak hanya dialami anda atau saya. Orang miskin itu banyak. Bahkan banyak orang lebih kekurangan daripada kita.

ilustrasi kekurangan harta alias missqueen

Yang kemudian menjadi persoalan ialah apabila kekurangan harta ditambah dengan sengsara perasaan.

Banyak orang yang ditakdirkan hidup kekurangan, namun lupa untuk mensyukuri segala hal yang sebenarnya cukup untuk membuatnya bahagia. Bahkan kadang lebih dari cukup.
Seringkali karena memiliki target tertentu, ingin hidup lebih baik esok hari, emosi menjadi tegang. Akhirnya timbul kemarahan, kecemasan, bahkan menjadi penyakit yang bersemayam di hati. Fisik yang tadinya sehat pun jadi terganggu.
Hari-hari yang seharusnya membahagiakan, tertawa bersama saat sarapan harus lenyap hanya karena sang anak yang masih sekolah dasar makan dengan lambat.
Siang hari diisi dengan kemurungan gara-gara ada pekerjaan yang terlewatkan atau mungkin tidak cukup waktu untuk mengerjakannya. Ini terjadi kepada orang-orang yang begitu mengejar hari esok dan melupakan hari ini.
Bukan hanya itu, miskin hati juga terjadi apabila orang yang sudah kekurangan secara materi, ditambah dengan penyakit hati. Terlalu banyak meratapi kekurangan dan lupa mensyukuri kelebihan. Tidak memanfaatkan segala kesempatan yang ada.
Meratapi kenapa anakku tidak menjadi seorang pebisnis sukses. Padahal anak lebih cenderung memiliki keterampilan lain.
Meratapi kenapa keluargaku tidak memiliki kedudukan di masyarakat. Padahal potensi keluarga adalah membuat usaha.
Meratapi kenapa keluargaku tidak memiliki cukup kekayaan, padahal memiliki manfaat di masyarakat. Mungkin dipercaya untuk menyimpan uang iuran RT, dipercaya untuk mengisi ceramah mingguan, atau sekedar dapat diandalkan untuk mengurus sebuah kegiatan di masyarakat.
Kalaupun bukan dua hal itu yaitu harta dan kedudukan, bisa juga berupa hubungan yang baik dengan tetangga. Punya tetangga yang baik juga adalah hal yang perlu untuk disyukuri. Selalu mudah mendapatkan bantuan dalam setiap kesulitan atau keperluan apapun. misal karena punya banyak keluarga tinggal berdekatan.
Apapun yang kita miliki, sangat indah bila pandai bersyukur. Bukan meratapi hal-hal buruk, kekurangan, yang bahkan mungkin hanya sementara atau tidak sebanding dengan banyaknya kenikmatan hidup yang kita punya.
Sikap tidak bersyukur membuat lupa akan potensi yang bisa saja terbuka lebar. Misal rumah berada di pertigaan jalan raya. Yang harusnya dimanfaatkan untuk menambah untung penjualan, malah sibuk mengejar kedudukan di masyarakat. Sibuk mencari nama hanya karena melihat orang lain berhasil menjadi staf ini atau itu. Sementara keluarganya tidak memiliki kedudukan penting.
Perilaku Miskin Hati Merusak Perkembangan dan Masa depan Anak Juga Lho..
Jangan dikira konsep ini hanya berlaku untuk para orang tua saja. Ingat, karakter orang tua sangat menular kepada anak. Bahkan bisa mempengaruhi masa depan anak juga.
Sikap miskin hati terlihat dari sikap tidak cukup dengan kemampuan anak. Juga bisa ditiru oleh anak kita. Kebiasaan mengeluhkan keadaan juga dapat diduplikasi oleh buah hati. Ini bisa menjadi sifat anak di sekolah, saat memperjuangkan sebuah cita-cita, atau dalam urusan sederhana seperti menyelesaikan kegiatan sehari-hari. Juga dalam bergaul dengan orang-orang yang ia temui sehari-hari.
Jelas kemiskinan hati ini akan turun temurun pada akhirnya. Lalu tidak menutup kemungkinan, kemiskinan berupa materi pun akan sama-sama diwariskan.
Secara logika, orang sukses tidak tumbuh dari mereka yang suka mengeluh dan tidak pandai mengasah potensi yang ada.
Nah, ayah bunda tidak mau kan kemiskinan turun temurun dari nenek moyang hingga menjalar ke anak cucu? Kalau bisa sih stop di generasi kita aja ya ayah bunda? Bahkan kita sebagai orang tuapun ingin bangkit dari kekurangan materi dan lebih bahagia secara psikis dari hari ke hari tentunya.
Jadi, stop karakter hati yang miskin. Cukup harta yang kekurangan. Hati jangan. Malah, semoga saja kebahagiaan hati dan sikap syukur lah yang mengantarkan kita kepada kehidupan yang lebih baik. Secara psikis dan materi sekaligus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *