pernikahan, rumah tangga, Tips

Punya Kriteria Ini, Mungkin Tandanya Anda Belum Siap Menikah

“Ngapain repot-repot ngajarin anak nyuci baju, momong bayi, dan masak? Nanti juga dia mikir sendiri.”
“Kalau udah nemu calon suami/istri, ngapain banyak mikir lagi. Nanti keburu direbut orang.”
Kita mungkin menjumpai perkataan sejenis di kehidupan sehari-hari. Ungkapan bahwa menikah itu tidak perlu disiapkan jauh-jauh. Seperti “nanti juga ada rejekinya”, “nanti juga bakal mikir sendiri”, “nanti juga dewasa sendiri”.
Ungkapan itu memang tidak keliru kok. Banyak orang jadi lebih dewasa setelah menikah. Banyak orang akhirnya punya sikap tanggung jawab setelah berumah tangga.
Namun, pertanyaannya, “butuh waktu berapa lama?” Pertanyaan itu berlaku bagi setiap poin berikut ini
Jika punya salah satu poin ini, yakin sudah siap berumah tangga?
Belum Punya Pekerjaan Tetap
Banyak lho orang yang punya prinsip bahwa menikah itu memancing rejeki. Bahkan saya juga percaya itu.
Sayangnya, karena prinsip demikian sudah mendarah daging, banyak orang memaknai dengan keliru. Menikah tanpa punya pekerjaan yang jelas.
Oke lah, jika kita termasuk orang yang sangat-sangat kuat menahan beban hidup. Taruhlah siap malu jika kehabisan uang kemudian meminta kepada orang tua. Padahal sudah menikah. Siap makan nasi sama kerupuk thok karena belum punya penghasilan yang mencukupi. 
Lagipula sudah banyak kisah orang yang di awal menikah sangat kekurangan, lalu akhirnya jadi orang kaya. Jadi keluarga mapan.
Namun, “berapa lama?” Bagaimana jika orang tua istri tidak tahan melihat kondisi anaknya dan akhirnya ikut campur. Rumah tangga menjadi taruhannya. Suami yang terlalu capek dengan situasi dan tekanan mungkin malah kehilangan kebaikan diri. Tidak jarang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi karena kondisi rumah tangga yang terlalu sulit.
Jika kemudian punya anak sebelum mapan atau minimal berkecukupan, yakin kita siap dengan kondisi anak kurang gizi dan kurang fasilitas untuk perkembangannya? Pastinya tidak ada orang yang mau anak-anak terkena imbasnya kan?
Menikah sebelum punya pekerjaan yang jelas, memang bukan masalah jika sudah siap dengan segala resikonya. Kalau belum siap gimana?
Belum Punya Kepekaan
Kepekaan sangat penting untuk hidup bersama. Khususnya dalam pernikahan. Jelas, karena kita tidak lagi hidup sendiri dan tidak lagi bergantung kepada orang tua yang mungkin biasa memanjakan kita.
Setelah menikah, hidup bukan sekedar romantis-romantisan dengan pasangan. Akan memicu pertengkaran bila tidak punya kepekaan terhadap situasi yang ada.
Masa sih istri yang sudah menikah, lihat suami lelah masih asik duduk depan TV atau handphone sambil nonton drama korea. Juga bila istri hanya asik asik sendiri dan santai sementara rumah kotor atau bayi diurus orang tua.
Pun, suami akan membuat istri kesal bila ia malah ngafe bareng teman-temannya saat istri harus begadang menjaga bayi yang masih kecil. Atau suami dengan acuh nya makan minum main handphone saat istri bahkan tidak sempat mencicipi hidangan di pernikahan teman. Biasanya ibu muda sibuk menggendong bayi sehingga makan di tempat kondangan itu susah.
Memang tidak ada orang yang sempurna. Namun, sifat tidak peka bisa mengganggu keharmonisan pernikahan. Bahkan bisa memicu rasa jengkel hingga pertengkaran bila perilaku tidak peka belum juga membaik dan sering dilakukan.
Ketidak pekaan seperti di atas biasanya dimiliki oleh laki-laki atau perempuan yang memang belum dewasa. Hal ini bisa karena usia yang belum matang atau orang tua di rumah tidak pernah melatih anak untuk peka sejak awal. Meskipun usia sudah matang.
Ego yang Masih Tinggi
Menikah itu menyatukan dua orang yang berbeda. Beda jenis kelamin, beda asal keluarga, beda lingkungan, beda latar belakang, beda budaya.
Perbedaan pendapat, pemikiran, cara, tidak akan begitu memicu terjadinya pertentangan bila masing-masing pasangan mampu mengendalikan ego.
Bukan hanya antara pasangan suami dengan istri, tapi juga istri atau suami dengan mertua, dan anggota keluarga lainnya.
Perbedaan pendapat pasti ada saja. Rasa dongkol pasti ada. Namun, jika kemampuan mengendalikan ego pribadi sudah baik, konflik tidak akan terlalu sering dan besar.
Banyak orang bisa bermusuhan hanya karena dibilang kurang telaten oleh mertua. Banyak orang bercerai dengan pasangan karena berselisih soal pekerjaan. Ada juga yang harus dendam bertahun-tahun karena masalah kecil. Semuanya karena ego semata.
Masalah berlarut-larut karena istri tidak terima dibilang boros. Padahal mungkin benar. Suami bersikukuh untuk terus hangout dengan teman wanita padahal sudah sering istri merasa cemburu. Dan banyak sikap “bersikukuh” lainnya yang sebenarnya jika mengalah tidak akan rugi sama sekali.
Sebenarnya, di usia awal pernikahan bagi pria dan wanita (sekitar 25 tahunan) cenderung masih punya ego tinggi. Namun, ada batas di mana egoisme masih bisa ditolelir dalam hubungan pernikahan.
Yang jelas, itu bisa diukur oleh masing-masing orang. Jika ego itu termasuk “kelewatan” dan sangat merugikan, maka orang demikian saya kira belum dikatakan siap berumah tangga. Artinya sulit mendapatkan kondisi pernikahan yang harmonis dan sehat. Menikah bukannya mendapatkan kebahagiaan, justru malah dapat masalah. 
Belum Punya Keterampilan Berumah Tangga
Poin ini sebenarnya paling relatif. Pasalnya, tidak berlaku bagi semua orang. Misalnya bagi Nia Ramadhani (wkwk.. contohnya artis aja). Ya, sepertinya tidak masalah jika saat menikah Nia tidak bisa nyuci piring, tidak bisa momong anak, dll. Anda pasti sudah tau alasannya ya.
Beda jika orang biasa seperti saya misalnya. Menikah tapi belum bisa masak dan tidak biasa ngasuh bayi, tidak biasa bersih-bersih rumah, nyuci baju, dan sebagainya, pasti akan mendapat banyak kesulitan. Dan.. masalah batin tentunya, hehe.
Mungkin dengan gaji pas-pasan, suami harus menyantap makanan ala kadarnya atau mungkin tidak enak. Gara-gara istri tidak bisa masak.
Ketidakcakapan dalam pekerjaan rumah tangga juga membuat beban lebih banyak kepada salah satu pihak (istri atau suami saja). Istri tidak bisa masak dan suami bisa, maka bisa jadi suami selain kerja juga double kerja harus masak, jaga anak juga, plus mungkin nyuci baju sendiri dan bahkan bisa jadi mencucikan baju istri dan anak.
Begitu pula sebaliknya, suami yang terlalu banyak tidak bisa akan merepotkan istri.
Jaman sudah berubah di mana setiap pekerjaan rumah tangga bisa dikerjakan oleh semua pihak. Suami maupun istri.
Ketika punya bayi, sudah lumrah jika suami ikut menjaga bayi untuk meringankan beban istri. Jika tidak cakap karena tidak biasa, maka otomatis istri kerepotan sendiri.
Kalau beban rumah tangga terlalu berat sebelah ke istri atau ke suami saja, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi ketidak harmonisan.
Rasa keberatan, rasa dibebani, tidak selalu selesai dengan komunikasi (seperti dalam teori). Butuh rasa sabar  yang tinggi. Ketidakcakapan memang kadang bukan soal bagi orang yang mampu menolelir. 
Namun, coba saja kita bayangkan, butuh berapa kali memasak bagi istri yang tidak biasa sama sekali memasak untuk akhirnya menghasilkan makanan yang enak? Butuh berapa lama supaya suami yang tidak tahu soal mengasuh bayi baru lahir, untuk dapat meringankan beban istri. 
Intinya, ketidakcakapan membuat beban rumah tangga berat di satu pihak. Entah itu istri maupun suami.
Kalau sudah begitu, pertengkaran bisa terjadi. Rasa keberatan yang menumpuk bisa menjadi bom waktu. Terlebih jika kita atau pasangan butuh waktu lama untuk mengerti dan cakap dalam urusan rumah tangga. Kalau tidak bisa di satu bidang mungkin tidak apa-apa. Mungkin hanya tidak bisa masak saja, hanya tidak mampu ganti popok saja, hanya tidak biasa benerin genteng. Namun, bila tidak bisa semua? Alamak.
Jadi, rasanya akan sangat baik jika menikah itu memiliki persiapan yang mantang. Khususnya dalam poin-poin tadi. Apakah Anda sudah siap berumah tangga?