pernikahan,  relationship

Mitos Pernikahan Anak Pertama dengan Anak Pertama? Apakah Benar?

Pernah mendengar mengenai mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama? Katanya, sesama anak pertama tidak boleh menikah? Mungkin sebenarnya mitos itu ada benar dan ada kelirunya juga.  

Benar karena memang jika sama-sama anak pertama atau anak sulung menikah, maka tantangannya lumayan besar. Oleh karena itu “mungkin” (ini masih hipotesis sih), banyak sesama anak sulung yang tidak mampu menaklukkan tantangan besar yang mereka hadapi dalam pernikahannya. Akhirnya, mitos pun dipercayai oleh banyak orang secara turun temurun.  

foto pernikahan, gambar pernikahan, wedding, foto wedding, foto pengantin, gambar pengantin

Namun, terlepas dari mitos itu, banyak juga kok sesama anak sulung yang mampu hidup rukun dalam pernikahannya. Meskipun pastinya banyak hal yang harus mereka hadapi.   Memang, apa saja sih tantangan jika anak pertama menikah dengan anak pertama?  

Pertama, Sifat Alfa Suami Istri Bikin Masing-masing Ingin Mendominasi

Tidak dipungkiri lagi bahwa salah satu sifat anak pertama adalah jiwa pemimpinnya. Ia terbiasa menjadi pengasuh dan pemimpin untuk adik-adiknya.  

Alfa bertemu sosok alfa membuat keduanya saling berebut kekuasaan dalam rumah tangga. Ia ingin mendominasi dan ingin diikuti oleh pasangannya.   Hal ini dapat memicu ketegangan jika tidak dipahami sejak awal. Terutama sejak sebelum menikah.  

Oleh karena itu, penting bagi calon pasangan sesama anak sulung untuk memahami hal ini. Lalu, mereka mereka sama-sama memahami sifat masing-masing yang ingin unggul.  

Cara mengatasi sifat alfa masing-masing pasangan anak sulung salah satunya dengan mampu mengalah. Terutama jika keinginan diri sendiri tidak begitu urgen dan prinsip. Namun, jika kehendak itu sifatnya sangat prinsip, maka kamu perlu membicarakan masalah tersebut hingga pasangan mengerti pentingnya keinginanmu.  

Memaksakan keinginan yang sangat penting dalam hidup memang tidak selalu dimengerti oleh pasangan. Apalagi jika pasangan keberatan dan kebetulan dia seorang anak sulung yang maunya dituruti. Jadi, berjuang dengan komunikasi yang baik dan kontinyu adalah jalan terbaik.  

Adapun jika kamu yang ada di posisi pasangan, maka saatnya mengalah demi kebaikan bersama. Pokoknya saling memahami keinginan dan seberapa penting keinginan itu bagi pasangan kamu, maka sesama alfa pasti bisa kok hidup harmonis.  

Yap!  ada poin tertentu dalam pernikahan yang perlu kita paksakan dan ada pula hal yang bisa kita relakan. Jadi, sesama anak sulung, tak ada salahnya ya mengalah dalam beberapa hal. Pokoknya kalian pasti tahu mana yang sangat penting buat kamu, dan mana yang sangat penting juga buat pasangan di lain waktu.  

Kedua, Mertua yang Masih Baru Pertama Punya Menantu dan Cucu

Tantangan kedua adalah mertua. Ayah ibu yang baru pertama punya menantu dan pertama kali pula punya cucu, pasti akan berbeda dengan mereka yang sudah pengalaman.  

Apa saja yang akan kamu hadapi? Pertama, mertua bisa sangat over protektif sama kalian pasangan baru. Mungkin mereka tak tahan ingin tanya urusan rumah tangga kalian. Atau tanya kemajuan usaha kamu atau pekerjaan pasangan kamu setiap hari. Bisa juga mereka terlalu peka hanya karena melihat kamu merengut kepada pasanganmu.   Ketika punya cucu, mertua bisa cerewet hanya karena cucu demam biasa. Batuk sedikit langsung tanya “emang dikasih makan apa sih?” dan lain-lain.  

Kalau kamu tidak bisa maklum, sikap mertua yang seperti ini bisa bikin kamu kesal juga. Beda jika sudah bisa maklum, kamu pastinya akan lebih tenang dan berpikir positif. Santai aja. Wajar, mertua masih newbie. hihi.   Kedua, mertua bisa mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain. Ada keluarga yang bilang kalau nanti pasanganmu akan lebih perhatian sama kamu, mertua mungkin akan sedih. Mereka juga bisa jadi khawatir kehilangan anaknya yang selama ini ia besarkan.  

Dalam kondisi ini, kamu tak perlu malah baper ya. Justru buktikan bahwa keberadaan kamu itu nambah kebahagiaan buat mertua, bukan mengambil anaknya. Kehadiran kamu justru menambah anggota keluarga beserta cucu nantinya.    So, tinggal jaga hati dan sikap saja kepada mertua supaya mereka merasa dihormati, disayangi sebagaimana oleh anaknya sendiri.

Memang tidak selalu berhasil, namun jika kamu bersikap mengarah ke situ, pasti persoalan mertua yang baru pertama punya menantu ini lebih mudah diatasi. Coba saja.  

Ketiga, Adik Ipar yang Belum Tahu Perjuangan di Usia Awal Pernikahan, Mungkin Akan Menjadi Tantangan Juga  

“du du du, du du….”, begitu nada ejekan seorang gadis di rumah kakaknya yang baru berumah tangga. Ia benar-benar sebel mendengar sepasang suami istri muda yang cekcok terus.  

Sikap tersebut bukannya membuat si suami istri sadar bahwa pertengkaran nya tidak pantas ditunjukkan di depan sang adik perempuan, justru pasutri makin kesal. Emosi tersulut. Tadinya hanya marah kepada pasangan, kini hubungan saudara pun ikut terancam.  

Begitulah, sikap yang mungkin akan ditunjukkan seorang adik ipar yang tidak punya pengalaman soal pernikahan. Maklum, namanya juga masih lajang ya. Akan sangat kecil kemungkinan mendapatkan pengertian. Jangankan pengertian, justru mungkin menambah keruh persoalan yang ada.  

Ketidaktahuan para adik soal kehidupan pernikahan juga membuat mereka merasa sang kakak seolah “direbut” oleh orang asing. Tidak jarang adik ipar yang menganggap istri atau suami si kakak adalah ancaman.  

Ya, sebenarnya itu hanya salah satu contoh dan kemungkinan yang bisa terjadi pada seorang adik ipar. Hal ini karena sang adik memang belum paham dengan kehidupan pernikahan secara real itu bagaimana. Wajar jika sikapnya mungkin akan jauh dari kata pengertian.  

Jadi?  Namanya juga sosok adik yang belum paham, maka kalian yang lebih dewasalah yang sebaiknya memahami adik-adik juga adik ipar kalian ya.   Sebagaimana yang seharusnya dilakukan kepada mertua, kepada adik ipar pun sama. Harus bersikap sebagaimana saudara. Menyayangi adik ipar sebagaimana adik kandung. Maka nantinya kamu tidak lagi jadi ancaman, melainkan penambah kehangatan keluarga.  

Mungkin yang tadinya adik ipar hanya punya satu kakak, kini ia punya dua. Bisa tadinya hanya punya kakak laki-laki, misalnya. Sekarang punya kakak perempuan juga.   Bagaimana kalau menjadikan adik ipar selayaknya adik kandung terasa berlebihan? Ya, resikonya tadi, mungkin kamu akan terus jadi ancaman dan adik ipar terus punya potensi jadi tantangan dalam pernikahan kamu. Selamanya. Hihi  

Semua poin tadi sebenarnya tetap kembali kepada karakter dan pribadi masing-masing sih. Kalau menurut pengalaman saya, kuncinya selalu dan selalu tergantung kepada tingkat kebaikan hati masing-masing orang. Kalau mertua, adik ipar, atau kamu dan pasangan adalah orang-orang baik dan dewasa, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.  

Tapi namanya juga manusia yang punya sisi baik dan jahat, semua tantangan itu pasti ada. Tingkatannya juga tergantung seberapa baik diri kamu, pasangan kamu, maupun mertua dan anggota keluarga kalian.   

Nah, itulah tantangan pernikahan anak pertama jika menikah dengan sama-sama anak pertama. Daripada baper duluan oleh mitos, lebih baik kamu berpikir logis saja. Yang penting, kamu siap mengatasi tantangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *