Curhat,  Perempuan,  rumah tangga

Menyiapkan Anak Gadis Siap Berumah Tangga, Seberapa Pentingkah Menurut Anda?

Rumah tangga ibarat final dalam fase kehidupan seseorang. Jika menikah di usia 25 tahun, dan perkiraan umur rata-rata orang 60 tahun, maka separuh lebih kita habiskan usia bersama pasangan.
Mengingat hal ini, tidak jarang orang tua menyuruh anak perempuannya membersihkan rumah, memasak, dan sebagainya dengan alasan untuk mendidiknya agar siap berumah tangga. Namun, tidak jarang juga orang tua yang memanjakan anak perempuannya. Baju dicuci ibu, makan dimasakin, hingga berbagai urusan pribadi masih dilakukan sang ibu. Misal membereskan kamar pribadi si gadis. 

by Pixabay

Kedua pola asuh tersebut tentu saja didasarkan atas kasih sayang orang tua kepada anak perempuannya. Namun, sebenarnya mana sih tindakan yang paling baik untuk anak perempuan?

Sebenarnya semua kembali kepada persepsi sang ibu mengenai rumah tangga itu sendiri. Kita tahu, jaman sekarang tidak ada lagi istilah perempuan harus di rumah dan suami yang bekerja. Lho, apa hubungannya? Pasalnya, ada beberapa prinsip keluarga yang berbeda satu dengan lainnya. Di antaranya: 
Prinsip Rumah Tangga Klasik dan Siaga
Apa nih maksudnya? Prinsip ini biasanya dimiliki orang tua yang masih memegang erat tradisi jaman dulu. Namun, bukan berarti prinsip ini ketinggalan jaman ya. Prinsip istri mengurus rumah tangga juga masih dipegang erat oleh perempuan perkotaan jaman sekarang hingga para istri berpendidikan tinggi kok.
Prinsip orang tua jenis ini menganggap bahwa bagaimanapun anak perempuan setelah menikah harus bisa  dan terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Meskipun nantinya sang anak bekerja, namun ia dapat berperan dengan baik di rumahnya.

ilustrasi anak gadis feminin

Saya sebut siaga juga karena biasanya prinsip ini diiringi dengan keyakinan bahwa hidup kadang tidak sesuai rencana. Bisa saja punya planning membuat anak perempuan nantinya bisa bekerja, namun tidak menutup kemungkinan keadaan akan menuntutnya untuk mengurus rumah.

Selain itu, para orang tua yang mendidik anak perempuan mengerjakan pekerjaan rumah juga beranggapan bahwa nantinya mertua akan lebih repek dan sayang pada menantu yang pandai mengurus rumah tangga. Tidak perlu dibilangin lagi, istilahnya. Masak sudah biasa, bersih-bersih sudah biasa, nyuci baju dan piring sudah tidak asing, ngurus anak sudah biasa.
Siaga lainnya juga dikarenakan orang tua tidak menjamin dapat sehat dan bugar saat sang anak berumah tangga sehingga mungkin tidak dapat membantu mengurus cucu, turut membantu mengurus pekerjaan rumah tangga sang anak. Anak perempuannya diharapkan dapat mandiri mengatasi masalah itu.
Selain itu, seringkali rumah tangga mendorong anak untuk mandiri dan tidak lagi harus membutuhkan bantuan orang tua. Bahkan beberapa orang merasa bahwa melibatkan orang tua dalam aktivitas rumah tangga dianggap menambah beban orang tua. Masa tua yang seharusnya istirahat dari aktivitas berat. 
Sebagaimana kita tau, mengasuh bayi dan mengerjakan pekerjaan rumah itu nampak sepele namun sebenarnya sangat menguras tenaga, emosi dan waktu. Apa jadinya jika orang tua yang dulu mengasuh kita di saat kecil, harus kembali melakukannya di usia tuanya? Tentu baik anak perempuan maupun orang tua tidak merencanakan itu. Meskipun mungkin ada orang tua yang tidak keberatan menjalani itu. Semua kembali kepada kita.
Prinsip Istri Mandiri dan Ala Urban
Alasan orang tua yang ini tidak terlalu menekankan anak perempuan dalam membiasakan pekerjaan rumah tangga. Salah satunya karena hanya merencanakan anak menjadi wanita karir di kemudian hari. Bisa juga memang tidak ada kebiasaan di keluarga yang menekankan perempuan harus mengerjakan tugas rumah tangga.

anak perempuan dan ibu bekerja

Setiap keluarga pasti punya budaya sendiri tentunya. Termasuk apakah biasanya yang harus mengurus rumah itu selalu kaum perempuan atau setiap orang? Baik laki-laki maupun perempuan melakukannya bersama-sama.

Budaya di keluarga sangat mempengaruhi persepsi orang tua dan anak mengenai rumah tangga di kemudian hari.
Tidak heran jika orang tua lebih cenderung banyak membicarakan karir atau kuliah sang anak ketimbang membicarakan pernikahan. Atau lebih memilih menyuruh anak perempuannya mengantarkan pesanan kepada pelanggan ketimbang menyuruhnya mencuci piring. Meminta tolong menjemput saudara di stasiun kereta ketimbang menyiapkan teh.
Contoh tersebut bukan berarti membedakan antara keluarga yang jadul atau kekinian, bias gender atau kesetaraan gender. Saya hanya menggambarkan sikap-sikap para orang tua sesuai persepsi masing-masing mengenai rumah tangga. Hal ini karena keluarga “kekinian” pun banyak kok yang menekankan anak gadis rajin memasak, bersih-bersih, mengasuh anak kecil, dan sebagainya.
Hanya saja, pada keluarga dengan prinsip seperti ini, mengajarkan anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak dini seperti tidak ada dalam kamus mereka. Tapi bukan berarti anti terhadap pekerjaan rumah tangga. Yah, mungkin sederhananya, “hanya tidak kepikiran saja”. Asalkan nanti kalau sudah menikah jangan sampai bilang “oh iya, kok saya tidak kepikiran ya?” (hehe ala Kang Tisna di Sinetron Tukang Ojek Pengkolan) 
Bagaimana Jika Orang Tua Tanpa Prinsip?
Jenis keluarga sebenarnya bermacam-macam tipe nya dan juga prinsipnya. Dua poin di atas, hanya contoh jenis keluarga yang saya temui. Itu adalah tipe keluarga saya dan tipe keluarga suami saya. Mungkin masih banyak keluarga dengan prinsip lainnya.
Nah, apapun prinsip keluarga Anda, yang penting itu baik untuk masa depan buah hati saat dewasa nantinya.
Bagaimana jika kita atau keluarga kita termasuk yang tidak memiliki tujuan ke arah rumah tangga? Artinya, semua mengalir saja. Tidak ada prinsip tertentu yang membawa anak perempuan mempersiapkan diri untuk berumah tangga nantinya.
Saya menyinggung hal ini, karena beberapa hari ini cukup terheran-heran dengan orang tua yang mengatakan bahwa anak perempuannya tak perlu diajarkan ini itu. “Nanti juga, kalau sudah menikah mikir sendiri.” katanya.
“Mikir” di sini berarti dapat menjalani peran dalam rumah tangga sepantasnya, sebaik mungkin, dan sebisa mungkin minim konflik. Baik dengan pasangan, keluarga besar, maupun hal-hal bersifat teknis seperti karir, pekerjaan rumah tangga, dan lainnya.
Sikap mengalir sebenarnya juga bukan masalah. Artinya, tidak ada tujuan spesifik orang tua untuk mempersiapkan anak perempuan menghadapi rumah tangga bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Terlebih jika kegiatan sehari-hari secara otomatis sudah mengarahkan anak perempuan terus semakin dewasa baik dalam bentuk kepribadian maupun skill untuk rumah tangga.
Namun, bagaimana jadinya jika mengalir namun tidak diiringi kebiasaan yang baik bagi kematangan anak gadis? Sudah tidak biasa mengurus rumah tangga,  tidak ada keinginan, juga tidak ada kedewasaan yang dipupuk sejak dini. Tidak pula disiplin dalam meniti karirnya.
Tidak jarang anak gadis yang dididik tanpa perencanaan seperti di atas, belum terlihat pantas berumah tangga bahkan hingga mereka lulus kuliah. Sepertinya secara naluri, keluarga masih ragu apakah anak gadis mereka mampu berumah tangga? Sementara secara biologis sudah matang. Namun, secara mental dan skill belum siap.
Tidak heran jika akhirnya orang tua ikut serta dalam mengurusi kebutuhan sang anak bahkan setelah menikah. Entah mengurus cucu, pekerjaan rumah, hingga hal lainnya. Bisa juga jika hidup bersama keluarga suami, mungkin bila keluarga tersebut termasuk toleran tidak menjadi masalah. Namun bila sebaliknya, tentu akan menjadi masalah tersendiri untuk anak gadis kita. Pun, bila hidup mandiri bersama suami. Tentu sebagai orang tua, kita bisa merasakan bagaimana perasaan orang tua laki-laki yang menikahi anak gadis kita yang belum dewasa. 
Warning Anak Gadis di Usia Matang Menikah
Sepertinya sudah saatnya orang tua mulai memperhatikan kesiapan anaknya menghadapi rumah tangga ketika anak mulai dewasa dan memiliki teman pria. Biasanya usia ini saat menginjak masa kuliah dan anak perempuan sudah punya pacar. Terlebih lagi, apabila hubungan sang anak dengan pacarnya nampak menunjukkan keseriusan.
Di sini saatnya memperhatikan apakah anak sudah mampu layak menikah atau belum.
Tidak jarang lho, anak gadis usia kuliah maupun menjelang lulus kuliah dan punya pacar serius, namun sikapnya masih membuat orang tua ragu. 
Artinya anak gadis tidak hanya belum siap mengurusi pekerjaan rumah tangga, tetapi kalaupun harus memilih karir, sepertinya ia juga tidak siap. Jika sudah demikian, mau di bawa ke mana masa depan anak gadis kita?
Ingat, Terlalu Banyak Kekurangan, Terlalu Rawan Konflik
Mengapa saya mempertanyakan seberapa pentingnya mempersiapkan anak perempuan siap berumah tangga?  Karena ketidaksiapan saya anggap sangat berkaitan dengan frekuensi konflik dalam rumah tangga.
Setiap orang memang punya kekurangan. Begitu pula pasangan kita dan diri kita. Namun, saya akui bahwa kekurangan yang terlalu banyak bisa memicu konflik yang lebih banyak pula.
Jika berbicara mengenai perempuan, apa jadinya jika di awal usia pernikahan sebagai istri, menantu, dan sebagai ibu muda terlalu banyak “ngga tau” dan “ngga bisa“. Mungkin masih bisa dimaklumi jika tidak biasa memasak, namun soal mengurus bayi sudah bisa.
Ya, prinsip “nanti bisa sendiri” atau “nanti mikir sendiri” itu tidak keliru. Namun pertanyaannya berapa lama? Tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang menikah dengan sikap yang belum dewasa butuh waktu lebih dari setahun bahkan bertahun-tahun untuk bisa menjadi orang yang bijaksana dalam berumah tangga. Tidak jarang pula orang butuh waktu tidak sebentar untuk menghasilkan masakan yang enak. Bahkan memasak dengan cekatan pun butuh kebiasaan yang bukan hanya sehari dua hari. Begitu pula skill lainnya. Selalu butuh waktu untuk bisa cakap dan terbiasa.
Jadi, saya rasa seorang anak gadis bisa siap berumah tangga memerlukan didikan dari keluarga. Dan tentunya semua berawal dari pembiasaan. 
Memang tidak mudah menjadi perempuan mampu segalanya. tapi setidaknya jangan sampai menikah dengan membawa terlalu banyak “tidak bisa” dan “tidak biasa”. Hal ini supaya konflik pun tidak terlampau besar. Setuju?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *