Fakta di Balik Mitos Pernikahan Anak Pertama dengan Anak Pertama

0
18
fakta di balik mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama
mitos pernikahan dan faktanya

Sebenarnya, tidak ada yang perlu kita takutkan mengenai mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama yang katanya banyak tidak cocoknya. Bahkan, dalam mitos pernikahan Jawa, pernikahan sesama anak sulung bisa mendatangkan sial dan malapetaka.

Namun, bagi saya mitos itu mungkin bisa benar tapi juga bisa saja tidak berlaku bagi pasangan suami istri yang sama-sama anak pertama. Mengapa saya berkata demikian? Karena saya sendiri dan suami sama-sama anak pertama mampu melewati berbagai tantangan dalam pernikahan dan hidup rukun harmonis.

Pernikahan kami mungkin tidaklah sempurna, namun saya yakin setiap tantangannya yang ada bukan disebabkan karena kami sama-sama anak sulung semata. Saya yakin semua pernikahan punya tantangan dan ujiannya masing-masing. Termasuk pernikahan anak pertama dengan anak terakhir yang katanya paling serasi. Latarbelakang status kami yang anak sulung ini saya rasa tidak begitu punya pengaruh besar bagi ketidaknyamanan yang biasa terjadi dalam pernikahan.

Meskipun begitu, apakah saya tidak mempercayai mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama yang katanya kurang baik? Tidak juga. Terus gimana, dong?

Jadi, sebenarnya ada beberapa alasan mengapa mitos itu “mungkin” menjadi kepercayaan dalam budaya Jawa. Saya pernah menuliskan tentang mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama di postingan sebelumnya. Di situ saya lebih menjelaskan alasan yang mungkin melatarbelakangi mitos tersebut. Kenyataannya, itu tidak selalu terjadi pada pasangan anak sulung. Meski demikian, pembaca boleh percaya atau tidak mengenai mitos tersebut.

Menilik Fakta di Balik Mitos Pernikahan Anak Pertama dengan Anak Pertama

Kali ini saya ingin lebih memberikan gambaran lebih realistis dari pengalaman saya sendiri. Sebenarnya, apa yang terjadi jika anak sulung dan anak sulung menjadi sepasang suami istri? Apa kekurangan dan kelebihannya?

Dengan gambaran ini, saya berharap setiap calon pasangan anak sulung yang mau menikah lebih bisa berpikir realistis. Selain itu, bisa menjadi pertimbangan apakah mau lanjut atau mundur.

Lho kok mundur? Ya, siapa tahu kan ada hal tertentu yang menurut pembaca “nggak benget” buat lanjut. Atau justru malah dianggap bukan rintangan sama sekali. Daripada berlama-lama, yuk kita coba bedah satu persatu ya.

Kekurangan dan Tantangan Pasangan Sulung dari Pengalaman Pribadi

Sebagai pasangan suami istri yang sama-sama anak pertama, saya dan suami memiliki beberapa kekurangan yang saya rasa merupakan tantangan tersendiri sebagai anak pertama. Antara lain:

1. Sama-sama Masih Punya Tanggungan Keluarga

anak pertama punya tanggungan adik adik
anak sulung masih punya adik untuk ia tanggung

Tantangan pertama adalah masih punya tanggungan. Saya punya 3 adik yang masih dalam masa sekolah. Suami juga punya satu adik yang perlu dibantu biaya kuliahnya, meski tidak sepenuhnya.

Tanggung jawab anak pertama ketika menikah tidak hanya keluarga kecilnya. Mereka punya adik atau keluarga yang harus mereka perhatikan.

Dalam hal keuangan, kaum sulung ini perlu benar-benar punya sifat dermawan dan rela berkorban. Bukan hanya memikirkan tanggungan sekolah adik sendiri, namun rela berbagi penghasilan dengan adik ipar.

Minimal mau membantu biaya SPP dan berbagi makanan sehari-hari dengan adik sendiri maupun adik ipar jika mereka ikut tinggal bersama. Selamat buat kamu yang sudah punya sifat dermawan sejak awal dan punya mindset berbagi, ya.

2. Masih Punya Idealisme yang Kuat

mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama masih punya cita cita seteleh menikah
masih ingin mengejar cita-cita

Apa maksudnya? Ini berkaitan dengan harapan keluarga terhadap anak sulung. Anak sulung harus sukses, harus menjadi contoh bagi adiknya, harus menjadi ini menjadi itu, dan sebagainya.

Saya sendiri adalah anak sulung dari keluarga yang tinggal di desa. Keluarga besar dan orang tua begitu mengharapkan saya (meskipun perempuan dan sudah menikah) harus punya karir yang bisa dibanggakan. Padahal, ketika sudah berkeluarga, sudah punya tanggungjawab banyak, untuk meraih kesuksesan karir rasanya sangat besar rintangan dan tantangannya.

Meskipun demikian, saya bersyukur karena suami mendukung pencapaian karir saya (walau belum sampai goal, sih). Suami rela perhatian dan waktu saya terbagi dengan sekolah pascasarjana dan mendengarkan betapa pentingnya cita-cita saya ini bagi kebanggaan dan kebahagiaan keluarga besar saya. Meskipun keikhlasannya saya kira masih kurang, sih hehe… Terbukti ketika suami memang tetap tidak senang jika saya absen dari pekerjaan rumah tangga. Ya, lumayan dilemma bagi posisi seorang perempuan yang sudah menikah.

Bagaimana dengan idelaisme suami? Beruntung juga suami sejak awal memang sudah menemukan idealismenya sebagai pengusaha. Meskipun orang tuanya punya harapan suami saya bekerja di sebuah perusahaan atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun harapan itu tidak terlalu menuntut.

Suami saya telah menemukan passion sebagai pengusaha. Sudah sepaket antara hobi dan aktivitas mencari nafkah. Jadi, persoalan Idealisme suami sudah tidak begitu ada masalah.

Tinggal Idealisme saya sebagai istri yang begitu banyak lika likunya. Tugas mengurus rumah tangga, mengasuh anak, dan melayani suami hanya menyisakan waktu untuk berkembang tersisa sedikit.

Sedikit Catatan untuk Perempuan yang Punya Cita-cita Sebelum Memutuskan untuk Berumah Tangga

Pelajaran untuk kaum perempuan yang merupakan anak pertama, sebaiknya capailah idealisme atau cita-cita kalian sebelum menikah. Akan merepotkan jika kalian berpikir, “Ah, nanti pas sudah nikah juga bisa kok.” Tapi, semua tergantung mindset masing-masing, sih. Karena memang ada pasangan yang sejak awal sudah sepakat bahwa setelah menikah istri akan bekerja atau mengurus rumah tangga.

Jadi, ketika istri hendak melamar kerja misalnya, suami turut mensupport sepenuhnya. Tidak mengeluh atau tetap membebankan tanggungjawab rumah kepada istri, sehingga segala jalan meraih kesuksesan karir makin terhambat. Ini banyak terjadi lho.

Katanya membolehkan kerja kepada istri, tapi ketika mencoba meminta saran anak dengan pengasuh tidak setuju. Ketika ingin membayar asisten rumah tangga keberatan. Atau saat membeli masakan jadi, tidak masak sendiri, suami tidak senang. Ya, sama saja dengan memperkecil peluang perempuan untuk meraih tujuannya dalam karirnya.

Namanya memberi izin, otomatis memberikan jalan yang lancar juga. Bukan membolehkan maju, tapi jalannya dipersempit atau dihalangi. Hmmm…. Jadi, pikir-pikir dulu ya buat perempuan yang masih punya cita-cita sebelum menikah. Perlu pasti bahwa calon kalian adalah orang yang koperatif dan fleksibel terkait peran istri dalam rumah tangga. Jangan sampai mendapat suami yang masih memiliki pemahaman bias gender yang menganggap kodrat perempuan harus mengurus urusan domestik melulu.

3. Keluarga Suami dan Istri yang Belum Berpengalaman

mitos pernikahan anak pertama deengan anak pertama kurang harmonis karena orang tua belum berpengalaman
kedua orang tua belum berpengalaman

Poin ini pernah saya share di postingan sebelumnya tentang mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama. Namun, rasanya perlu saya buat lebih realistis di sini.

Begini ya sobat muda…

Orang tua yang belum berpengalaman memiliki menantu, atau menyaksikan anaknya berkeluarga, pasti akan sedikit banyak melakukan kesalahan atau perilaku yang kadang malah memperkeruh keadaan. Kemungkinan sih ini. Namanya juga belum pernah mengalami punya menantu.

Misalnya apa? Mertua hanya melihat anak dan menantunya dari luar. Melihat cucu kurus, langsung menasehati agar lebih rajin memberikan cucunya makan makanan bergizi. Mulai menceramahi jika saya sebagai istri absen memasak, kurang telaten dalam menyuapi anak. Padahal sebenarnya, di balik anak kami yang kurus, ada banyak problem yang sulit kita jelaskan kepada orang tua atau mertua yang niatnya peduli.

Sebab anak kita kurus bisa jadi karena memang kurang stok menu bahan makanan sehingga anak bosan dan menolak makan terus. Di balik kurangnya stok makanan ada penghasilan yang belum mapan. Kalau mau memperpanjang masalah, seorang istri bisa menyalahkan suami yang belum sukses usahanya. Tapi, tentu saja berdebat tidak mungkin kita lakukan. Akhirnya, konflik dengan keluarga menjadi runcing, begitu pula respek terhadap pasangan.

Kurangnya pengalaman memiliki menantu dan melihat anaknya berkeluarga, orang tua atau mertua bisa seringkali melakukan tindakan yang malah manambah konflik. Tidak sedikit pasangan yang kandas pernikahannya akibat orang tua yang ikut campur rumah tangga anaknya.

4. Orang Tua Mudah Terpengaruh Ucapan Orang Lain

orang tua pasangan anak sulung masih terpengaruh ucapan orang lain
orang tua pasangan anak sulung rentan terpengaruh (lustrasi)

Belum punya pengalaman melihat anak berumah tangga juga bisa menimbulkan perasaan sensitif terhadap ucapan orang lain.

Saya pernah mendengar bapak-bapak di desa saya membanggakan menantu laki-lakinya yang tidak jaim. Mau makan banyak di depan si bapak itu tanpa malu-malu. Bapak itupun begitu senang karena hidangannya diterima dengan lahap oleh menantunya.

Ayah saya yang mendengar itu pun jadi sensitif, takut jika setiap apa yang dihidangkan di rumah kami tidak disukai suami saya. Apalagi ketika di rumah kami, suami saya nampak kurang banyak makannya. Malah mencari-cari jajanan sebagai makanan pengganjal lapar. Padahal, ini hanya persoalan gaya hidup dan selera makan.

Suami saya memang tidak suka banyak makan. Ya, kurangnya pengalaman orang tua soal per-menantuan bisa juga membuat konflik hanya karena omongan orang. Mungkin orang lain punya menantu doyan makan, siapa tahu kan.

Kelebihan Pernikahan Anak Pertama dengan Anak Pertama

Selain memiliki kekurangan tadi, sebenarnya jika anak pertama menikahi anak pertama punya keunggulan tersendiri. Apa saja?

1. Sama-sama Mandiri

perempuan multitasking
ketika perempuan harus multitasking

Anak sulung terkenal punya sifat mandiri. Sejak kecil orang tua sudah membagi perhatian dengan adik. Bahkan mungkin lebih dari satu adik.

Seringkali anak sulung harus mulai belajar makan sendiri, mandi sendiri, memakai pakaian dan memilihnya sendiri karena orang tua sibuk dengan adik. Apalagi jika adik masih bayi. Anak sulung benar-benar harus terbiasa melakukan kebutuhan pribadinya sendiri.

Selain itu, bagi saya sebagai anak sulung, sejak kecil sudah harus membantu orang tua melakukan pekerjaan rumah tangga hingga mengasuh adik-adik saya.

Lebih dari itu, sebagai anak sulung, sejak sekolah dasar, orang tua sudah mengharapkan saya menjadi orang yang bisa diandalkan kelak ketika dewasa. Mengantisipasi kemungkinan terburuk misal orang tua sakit atau tidak mampu membiayai sekolah adik-adik saya.

Saat masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), saya sudah sering mendengar orang tua dan saudara mengatakan saya mungkin akan membantu orang tua menyekolahkan adik-adik saya. Itu terus terjadi hingga masuk perguruan tinggi.

Kondisi ini, di satu sisi ada baiknya. Saya jadi lebih bertanggungjawab dan mandiri. Di sisi lain, tuntutan yang berat tidak jarang menimbulkan tekanan batin dan menimbulkan tekanan psikis. Maka, selain punya kelebihan, anak pertama juga katanya rentan depresi dan menyimpan kerapuhan dalam jiwanya. Dan, bagi saya itu benar adanya. Ya, mandiri tapi punya sisi rapuh yang tersembunyi.

Menurut situs Orami, anak pertama perempuan misalnya cenderung punya sifat melankolis. Sedangkan anak pertama laki-laki lebih mudah stres. Ini karena tuntutan anak sulung supaya bertanggungjawab kepada keluarganya.

2. Kuat Menjalani Suka Duka Pernikahan

pasangan pernikahan anak sulung mampu mengatasi masalah suka duka pernikahan
ketika banyak tekanan, pasangan anak sulung bisa melewatinya

Benarkah ini? Bagi saya, ini benar. Walau memiliki hati yang rapuh, namun sebenarnya saya dan suami termasuk orang yang tabah menjalani pernikahan. Sekian banyak tantangan dalam pernikahan anak pertama dengan anak pertama seperti kami alami di atas bisa kami lalui dengan tegar.

Saya dan suami sudah terbiasa dengan tekanan dari sana sini. Sudah terbiasa mendapatkan omelan dari orang tua. Maksudnya? Memang anak kedua dan ketiga dan seterusnya tidak?

Jadi begini.. Anak pertama sepengalaman saya pasti lebih sering disuruh ini itu oleh orang tua sejak kecil hingga saat dewasa (semasa lajang). Apakah memasak, membantu menjemur padi, membantu pekerjaan orang tua. Kalau suami saya sering diminta mencuci motor, membenarkan genteng bocor, memperbaiki listrik yang konslet, dan sebagainya. Nah, selama aktivitas ini pasti sering salah dan dimarahi. Hehe….

Selain itu, bagi saya, menjadi anak pertama punya pengalaman hidup yang lebih banyak karena serba mencoba sendiri, eksplorasi sendiri, dan belum ada panutan yang bisa saya jadikan role model. Segala yang dilakukan sendiri, otodidak, pasti menghasilkan pengalaman yang lebih matang.

Jadi, ketika menikah, kami lebih tahan banting jika harus kesulitan. Harus mulai mengurus anak dan segudang tanggungjawab rumah tangga. Kami juga pantang mengeluhkan kesusahan kepada orang tua. Meskipun tentu saja kami juga tetap meminta bantuan ketika memang kami membutuhkan pertolongan orang tua.

3. Sudah Terbiasa Mengasuh Anak-anak

mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama sudah terbiasa mengasuh anak
ayah sudah pandai mengasuh anak-anak

Menjadi anak sulung berarti pernah diminta menjaga dan mengasuh adik. Sejak bayi, anak-anak, hingga menjaganya saat remaja. Saat adik saya bayi, saya selalu menemani adik saya ketika ibu mencuci baju, memasak, dan bekerja membantu ayah.

Meskipun tidak pandai, namun setidaknya pengalaman mengasuh adik ketika bayi hinggan anak-anak membuat saya tidak kaget ketika memiliki anak. Saya mampu membuat anak saya menurut, terawat, dan nyaman bersama saya.

Walaupun punya banyak kekurangan dalam menjaga buah hati, setidaknya sudah mampu menjaganya dalam hal-hal mendasar seperti membersihkan popok, memandikan, mengasuhnya supaya tidak rewel, membuat anak bahagia, dan sebisa mungkin anak selalu sehat dan jarang sakit.

Selain pengalaman, tentu saja ilmu tentang mengasuh anak juga diperlukan ya. Pengalaman mengasuh adik tentu belum cukup tanpa tambahan ilmu parenting, ilmu kesehatan anak, gizi, nutrisi, dan sebagainya. Pengalaman mengasuh, minimal membuat kita terbiasa dan tidak kaget saja. Kan tidak jarang orang tua yang banyak membaca teori namun ketika mengasuh anak hanya membuat anak tidak nyaman dan rewel. Uhuk.

Misalnya mengamalkan ilmu parenting bahwa anak harus dibacakan dongeng sebelum tidur, padahal anak dalam keadaan hanya ingin hening dan segera tidur. Membacakan dongeng ketika anak dalam keadaan tersebut justru membuat anak tidak senang dan akhirnya rewel. Tentu saja membaca situasi dan kondisi anak butuh pengalaman, bukan sekedar teori belaka.

Pengalaman adalah dasar dalam memberikan pengasuhan kepada anak, sedangkan ilmu prenting, ilmu gizi, dan nutrisi adalah hal-hal yang melengkapi pengasuhan supaya optimal. Itu pendapat dan pengalaman saya dari pengalaman pribadi dan mengamati orang sekitar.

4. Mampu Hidup Sederhana

Biasanya, anak pertama mengalami kehidupan keluarga yang masih sederhana. Bisnis orang tua yang belum berkembang, ayah ibunya masih tahap meniti karir, dan belum memiliki banyak fasilitas memadai. Ini seperti pernah saya posting tentang Anak Sulung dan Orang Tua yang Masih Belajar.

Memang tidak semua anak pertama begitu. Saya mungkin merupakan sebagian dari anak pertama yang orang tuanya masih berkembang secara ekonomi. Ada memang anak sulung yang sejak awal hidupnya sejahtera dan serba ada. Namun, umumnya orang tuanya belum sukses seperti ketika memiliki anak kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kondisi ini juga dialami anak pertama saya. Ia tumbuh ketika kami belum begitu berembang, bahkan masih serba kekurangan. Maka dari itu, anak pertama seringkali terbiasa hidup sederhana sejak kecil. Saya dan suami juga begitu.

Suami pernah merasakan ikut memanen padi dan katanya jari manisnya pernah teriris sabit. Saya juga pernah mengalami itu. Bedanya, saya teriris di jari kelingking. Hidup di desa dan terbiasa sederhana, membuat kami tidak begitu kaget ketika berumah tangga dengan modal seadanya.

Ya, tidak semua anak pertama seperti itu, sih. Ini hanya cerita fakta pengalaman pribadi. Mungkin anak kedua, ketiga, dan seterusnya juga banyak yang terbiasa hidup sederhana, pastinya.

5. Saling Mengalah Ketika Pasangan Ingin Dimengerti

Benarkah? Bukannya anak pertama cenderung keras kepala? Memang betul, anak pertama memiliki karakteristik keras kepala. Nanti boleh kita bahas mengenai karakter anak pertama ya.

Namun, kenyataannya, pengalaman saya sedikit berbeda. Kami memang keras kepala terhadap segala yang kami kehendaki. Pokoknya jika menginginkan itu,maka harus dilakukan. Misalnya, suami ingin saya selalu pulang lebih cepat ketika pergi ke luar rumah, ya harus. Jika tidak, akan menjadi bahan perselisihan. Begitu juga saya. Saya mau menjalani kegiatan blogging setiap hari karena itu hiburan saya. Jika tidak, maka suami kena getahnya. Harus. Titik.

Begitulah memang. Hanya saja, kami sangat jarang sama-sama keras kepala di waktu yang bersamaan. Ketika saya memang bersikukuh ingin mengikuti kegiatan online misalnya, sementara suami ingin saya menjaga anak, maka entah bagaimana salah satu dari kami akan otomatis luluh.

Mungkin ini kepekaan sesama anak pertama kali ya. Paham bagaimana rasanya jika keinginan tidak didukung, maka akan sangat mengusik dan emosi. Saya pernah ingin sekali ikut kelas online karena itu penting untuk saya. Kalau nggak ikut, saya merasa akan sangat kecewa. Suami yang masih sibuk dengan pekerjaan, tahu itu dan dengan sendirinya mengizinkan saya.

Begitu pula sebaliknya. Ada kalanya suami menginginkan sesuatu, misal ingin saya pijat padahal saya dalam kondisi cepek dan memiliki pekerjaan lain, saya bisa luluh dan mengalah.

Hal ini sering terjadi di antara saya dan suami. Otomatis begitu saja mengalah padahal kami sama-sama keras kepala. Ya itu dia, karena kami sama-sama tahu betapa emosinya ketika keinginan tidak terkabul.

Kesimpulan Tentang Fakta di Balik Mitos Pernikahan Anak Pertama dengan Anak Pertama

Itulah fakta di balik mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama yang menurut primbon Jawa kurang baik. Bahkan disinyalir bisa mendatangkan sial dan malapetaka.

Sejauh ini, saya tidak begitu terpengaruh oleh mitos tersebut, sih. Selain karena bertemu pasangan memang merasa cocok satu sama lain, kami juga memang ahirnya harmonis dalam berumah tangga.

Adapun faktor lain yang sesekali mengganggu keharmonisan rumah tangga, saya yakin itu bukan sepenuhnya karena kami anak pertama. Saling beradu pendapat dan cekcok, itu bisa terjadi pada pasangan manapun, ya kayaknya.

Begitu pula keharmonisan karena beberapa karakter yang serasi antara anak sulung dalam pernikahan. Sifat mandiri, menjadi pendengar yang baik, mau hidup sederhana, dan sebagainya bisa juga dimiliki orang yang merupakan anak kedua, ketiga, atau mungkin anak bungsu.

Poin di atas adalah fakta tentang pernikahan anak pertama dengan anak pertama yang saya alami bersama pasangan. Meskipun mitos dalam adat jawa, mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama menurut primbon Jawa misalnya tidak cocok, namun kenyataannya tidak demikian kok. Banyak contoh pasangan anak sulung menjadi pasnagan harmonis dan langgeng.

Jadi, bagaimana dengan sobat muda yang merupakan calon pasangan anak sulung? Sudah siap melangkah ke pelaminan? Fakta di balik mitos pernikahan anak pertama dengan anak pertama ini bisa menjadi bahan pertimbangan ya. Semoga langgeng dan harmonis, Sobat..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here