Inspirasi, Pelajaran Hidup

Wujudkan Mimpi Menjadi Nyata dengan Cara Paling Logis dan Rencana Matang

Suatu pagi, saya menyeruput secangkir teh hangat sambil membaca tabloid favorit. Sembari duduk dengan anggun di sofa, saya amati fashion terbaru bulan ini untuk menjadi acuan busana harian saya ke kampus.

Indah sekali.

Etapi.. itu tidak nyata. Itu hanya impian. Mimpi saya saat kuliah semester pertama mengenai kehidupan kuliah saya di semester lima ke atas. Saya mendambakan kehidupan yang berkelas, memiliki penghasilan sendiri sebelum lulus kuliah, dan bisa hidup dengan nyaman.

Kalian pasti punya mimpi semacam itu ya? Tapi, ternyata apa yang terjadi berbeda dengan apa yang kalian mimpikan.

Seperti mimpi saya di atas. Awal masuk kuliah mencoba untuk bekerja sambil kuliah dan ingin segera sukses bahkan sebelum jadi sarjana. Namun, ternyata sampai lulus kuliah di tahun 2015 kehidupan saya masih sama. Kesulitan ekonomi. Hihi

Barulah kehidupan ekonomi saya membaik di tahun 2016 akhir. Namun, nyatanya saya tidak duduk dan membaca tabloid seperti dalam khayalan saya. Bisa sih saya lakukan itu. Tapi, media massa sudah bergeser ke era digital.

Saya bukannya membaca majalah atau tabloid, justru membaca berbagai hal via ponsel. Sambil rebahan. Bahkan tahun 2018 saya makin melupakan tabloid, karena segala informasi bisa saya dapatkan melalui channel youtube. Nontonnya pun bisa sambil makan atau mengasuh anak. Tidak sesyahdu khayalan.

Apa yang dibayangkan, ternyata berbeda pada kenyataannya. Entah karena dunia telah berubah, atau memang kita tidak meraih apa yang diharapkan.

Hari Esok Adalah Misteri

esok adalah misteri

Ya, bermimpi adalah hak yang bebas dimiliki setiap orang. Namun, perlu kita ingat bahwa hari esok adalah misteri. Selalu misteri.

Saat SD, membayangkan diri berseragam putih dan merawat orang sakit. Ingin jadi dokter. Namun saat besar, profesi berbelok menjadi seorang pengusaha.

Ketika masuk SMP membayangkan masuk SMA favorit. Ternyata hanya mampu masuk SMA swasta yang baru berdiri. Terjebak oleh iklan, misalnya. Ahihi

Kemudian saat SMA bermimpi kuliah di kampus ternama di dalam negeri. Rupanya, tidak lulus seleksi hingga terdampar di kampus yang tidak diharapkan sama sekali.

Saat kuliah bermimpi bisa bekerja di perusahaan yang memberikan gaji besar. Bisa membahagiakan orang tua dengan materi. Namun, rupanya mencari pekerjaan tidak semudah itu. Setahun dua tahun kesulitan mencari pekerjaan yang cocok, dan tidak kunjung meraih apa yang diharapkan.

Begitulah hidup. Tidak selalu sama persis dengan apa yang diimajinasikan oleh khayalan.

Sebaliknya, bisa juga apa yang kita alami justru melebihi ekspektasi kita. Berniat menikah dengan sederhana lalu membuat rencana untuk ngontrak rumah sebelum usaha maju. Eh, kenyataannya orang tua menyokong pesta meriah untuk pernikahan kita. Lalu, tiba-tiba ada rejeki berupa rumah untuk tinggal bersama suami.

Bedakan Antara Berkhayal dengan Berencana

ada impian, ada action

Jika apa yang kita harapkan ternyata hasilnya mengecewakan, coba cek lagi. Jangan-jangan selama ini kita hanya berkhayal bukan membuat rencana.

Berkhayal biasanya mengandalkan keinginan semata namun tidak mengukur kemampuan. Ingin menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), sampai membayangkan membagi gajinya kepada siapa, beli apa setiap bulannya hingga tepuk tangan para tetangga begitu nyata. Hahahah

Namun, soal ujian PNS pun tidak tahu seperti apa, tantangannya bagaimana serta apa resikonya ketika ternyata lulus dan bekerja sebagai PNS.

Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, tidak lulus seleksi. Tidak jadi PNS. Bubarlah semua mimpi yang dibayangkan. Kedua, mungkin jadi PNS tapi menyesal setelah terjun di lapangan. Entah karena penempatan kerja yang tidak sesuai harapan, atau mungkin gaji nya tidak memuaskan. Ketiga, setelah jadi PNS ternyata tidak ada orang yang memberikan pujian seperti dalam khayalan. Bahkan mungkin tidak ada yang tertarik sama sekali.

Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Semuanya misteri jika belum kita alami. Yang pasti, tidak akan sama persis dengan apa yang kita khayalkan. Ingat, tidak akan sama. (Bisa sama persis atas kuasa Tuhan pastinya.) Tapi, kita tahu kan, Tuhan menggariskan nasib dan takdir secara sunnatullah? Artinya, sunnatullah jika berusaha maka akan mensdapatkan hasil, jika mencuci maka baju akan bersih, dan sebagainya.

Eh ya, ini ada kaitannya dengan konsep “memantaskan diri” di tulisan saya sebelumnya. Setiap Hari Adalah Proses Memantaskan Diri 

Lanjut…
Oleh karena itu, menghayal memang juga merupakan hak setiap orang. Tapi, saya hanya ingin kita menyadari bahwa itu hanya khayalan. Kenyataan nantinya bisa berbeda. Supaya tidak terlena tentunya.

Sekarang, Mulailah Bermimpi dengan Rencana Matang
Jika kamu seorang pemimpi atau (tidak masalah) seorang pengkhayal yang ingin mewujudkan itu, maka yang harus kamu lakukan adalah membuat rencana yang matang.

Mari kita buat contohnya. Misal, saya ingin, dua tahun yang akan datang sudah menjadi seorang dosen PNS di perguruan tinggi di kota saya.

Apa yang harus saya lakukan?
Pertama, tahan diri untuk tidak berkhayal. Itu kunci pertama. Seperti yang saya bahas sebelumnya. Berkhayal nanti saya berangkat ke kampus setiap pagi, mengajar mahasiswa yang antusias dengan materi kuliah saya, memakai pakaian modis dan sopan ala bu dosen, dan bla bla bla. Itu adalah khayalan ketika tidak punya rencana matang. Tidak akan terjadi sama persis seperti itu. Boleh membayangkan, tapi jangan jadikan patokan persis.

Kedua, gunakan analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, treath). Ini adalah cara yang biasa dipakai dalam perencanaan yang baik.

analisis SWOT

Analisis empat faktor ini dulu untuk menggapai mimpi. Strenght atau kekuatan yang saya miliki saat ini adalah kemampuan mengajar dan sedang menyelesaikan kuliah magister. Weakness atau kelemahannya sekolah pascasarjana saya masih tahap berkembang sehingga mungkin kualitas saya tidak menjamin akan diterima sebagai dosen di kampus yang saya inginkan. Opportunity atau kesempatannya adalah bahwa saat ini lulusan S2 masih belum banyak, sehingga memiliki peluang besar untuk mengajar sebagai dosen. Treath atau ancamannya kampus saya masih tahap akreditasi yang bisa saja tidak memenuhi standar untuk bisa dipakai mendaftar sebagai dosen nantinya.

Nah, setelah memahami analisis SWOT, maka kamu akan lebih paham apa yang sedang kamu tuju. Tidak terlena begitu saja oleh impian. Kamu akan tahu kemungkinan pahit yang mungkin terjadi. Kamu pun tidak akan terlalu kecewa nantinya.

Siapkan Rencana Cadangan untuk Menjaga Harapan Positif

miliki rencana cadangan

Rencana cadangan? Lalu apa artinya berjuang meraih mimpi jika harus pindah tujuan begini? Ingat ya kawan, bahwa apa yang kita peroleh selalu sesuai dengan kepantasannya. Kamu mencapai apa di hari ini, itulah yang memang pantas kamu terima. Semua berkat usaha kamu ke belakang. Usaha kamu di hari-hari sebelum hari ini.

Kamu boleh punya keinginan mewujudkan sebuah impian. Namun, jangan lupa bahwa selalu ada kemungkinan gagal. Kenapa? Ya, karena kita manusia. Manusia punya banyak potensi untuk gagal, karena manusia bisa lelah, bisa bosan, bisa lupa, bahkan keinginannya juga bisa berubah.

Oleh karena itu, jangan pernah menyadarkan harapan kepada satu tujuan saja. Sediakan satu dua atau lebih untuk alternatif.

Jika kembali ke contoh tadi, mimpi menjadi dosen PNS misalnya. Sediakan cadangan lain. Mungkin kamu punya hobi travelling yang bisa kamu kembangkan menjadi sebuah usaha. Atau orang tua punya usaha yang sebenarnya menginginkan kamu untuk jadi penerus.

Bisa juga kamu tetap keukeuh pada rencana semula, namun kamu bisa mengubah cara dan jalannya. Kalau misal ijazah kamu di kampus yang masih berkembang dan belum terakreditasi itu benar-benar gagal mengantarkan kamu menjadi dosen, kamu bisa mengulangi sekolah pascasarjana di kampus lain. Bisa juga memakai ijazah kamu bukan untuk mendaftar dosen, tapi melanjutkan sekolah lagi. Buat daftar caleg juga bisa. hihi

Yah, jadi lama dong. Itu resiko. Ada harga yang memang perlu kita bayar. Waktu jadi lebih lama. Tapi jangan lupa, sisi positifnya mungkin kamu akan lebih banyak pengalaman belajar serta jaringan sosial lebih luas dan berkualitas. Wajar, sekolah pascasarjana itu mahasiswanya bisa saja kalangan profesional yang pasti menambah kualitas pergaulan kamu. Ini Dia, 5 Keutamaan Kuliah Pascasarjana yang Perlu Kamu Ketahui

Jangan lupa, sebelum menaruh cara alternatif pun, gunakan lagi analisis SWOT seperti pada rencana pertama. Apa kekuatan yang kamu miliki, kelemahan, peluang, dan ancaman yang mungkin terjadi.

Dan… tetaplah punya impian cadangan serta rencana cadangan ya. Banyak hal yang mungkin di luar dugaan bisa terjadi. Tetap berpikir logis dan terus jaga impian supaya terwujud.

Bermimpilah dengan rencana yang matang. Siapkan sumber daya yang lengkap. Mulai dari biaya, tenaga, waktu dan lain-lain. Dan.. jangan lupa selalu ada kemungkinan gagal di balik besarnya kemungkinan berhasil. Impian cadangan dan cara cadangan juga perlu kamu siapkan.

Bermimpi maupun berkhayal adalah hak setiap orang. Namun, impian yang jadi kenyataan hanya hak mereka yang mewujudkannya dengan tindakan nyata dan rencana matang. Ingat, pantaskan diri kamu untuk mendapatkan mimpi kamu.