Curhat, Inspirasi, Perempuan, Tips and Trik

Buat yang Sengaja Telat Membayar Hutang, Sepertinya Harus Membaca Ini

Berhutang, kadangkala tidak bisa dihindari. Terutama ketika tiba-tiba ada kebutuhan mendesak, namun dana kita tidak mencukupi. Apalah daya, kita sebagai manusia biasa seringkali mengalami hal-hal di luar kemampuan. Kita membutuhkan pertolongan orang lain yang sedang punya rejeki lebih. 
Sebenarnya, berhutang dan memberikan pinjaman uang merupakan proses tolong-menolong. Saling membantu membuat hubungan antara sesama merasa saling membutuhkan satu sama lain.
Selain itu, berhutang tidak menjadi soal selama kondisi kita benar-benar membutuhkan. Terlebih lagi, jika mampu dan berusaha mengembalikannya tepat waktu. Sikap menepati janji dapat menjaga kepercayaan orang yang memberikan pinjaman serta menjaga hubungan baik dengan sesama.
Sekalipun kita tidak mampu mengembalikan pinjaman pada waktunya, bagi orang yang benar-benar menjaga amanah, maka akan berusaha bagaimana pun caranya. Meski caranya harus  gali lobang tutup lobang. Meminjam lagi dari orang lain demi membayarkan hutang pada waktunya. Bisa juga segera mendatangi orang yang dipinjami uang, untuk meminta maaf dan memohon tambahan waktu. Langkah demikian saya kira masih termasuk dalam kategori menghutang yang beretika. 
Beda halnya jika yang berhutang tidak memiliki niat melunasi hutangnya pada tempo yang telah disepakati, atau bahkan tidak ada niat mengembalikan uang sama sekali. Nah, sikap seperti inilah yang dapat merusak hubungan. Hubungan mencakup keluarga, pertemanan, dan termasuk hubungan profesional.
Bagi mereka yang sengaja tidak ingin membayar hutangnya, atau memang tidak memiliki niat yang kuat untuk mengembalikan pinjaman pada waktunya, sebaiknya mencermati poin berikut ini:

1. Uang yang Anda Pinjam Itu Punya Orang Lain


Seringkali, menghutang dan mendapatkan sejumlah uang sesuai yang diminta membuat orang merasa bahwa itu miliknya. Padahal, bagaimanapun uang itu adalah pinjaman dan sepenuhnya hak milik orang lain.
Ingat, akad Anda dengan pemberi pinjaman adalah meminjam uang, bukan meminta uang. Meminjam berarti harus mengembalikannya. Status uang pinjaman ini membuat orang yang dipinjami menunggu kapan uangnya akan kembali.
Apa jadinya jika sebagai peminjam kita tidak berniat mengembalikan atau tidak menepati waktu. Tentu membuat kesal dan merusak kepercayaan orang lain. 
2. Pemberi Hutang Malu Menagih

malu menagih utang by Mojok.co

Seringkali, karena orang yang memberikan pinjaman tidak menagih, maka orang yang berhutang mengira bahwa pemberi hutang tidak butuh uang. Padahal, sebenarnya seringkali mereka malu menagih hutang. Terlebih lagi jika Anda adalah temannya.

Orang yang memberi hutang sebenarnya berharap Anda memiliki kesadaran sendiri. Tidak jarang kita melihat orang yang memberi pinjaman itu menggunakan kata-kata super halus untuk menagih. Padahal mereka meminta uang mereka sendiri. Tapi pada prakteknya justru seolah mereka yang mengemis.

Di sini, pengertian penghutang sangat diperlukan. Jadi, jangan terlambat membayar hutang. Terutama jika Anda sudah punya uang untuk membayarnya.
3. Orang yang Dihutangi Belum Tentu Punya Banyak Uang


Hanya karena mereka punya uang lebih untuk memberikan pinjaman, bukan berarti orang lain punya uang banyak lho. Keberadaan uang juga tidak selalu stabil. Jika hari ini punya uang lebih, besok bisa butuh.
Sekalipun orang yang meminjamkan uang memang tergolong berlebih dari segi harta, siapa tahu nilai uang yang kita pinjam sebenarnya bernilai untuknya.
Apalagi jika kita meminjam uang dari orang yang sama-sama membutuhkan. Bisa jadi dia seolah memiliki uang lebih demi persahabatan, demi keluarga, atau niat menolong sekalipun dia sama-sama butuh uang. So, sangat tega jika kita melukai niat mulia orang lain seperti ini.
4. Ingat, Uang Itu Hasil Kerja Keras

rejeki hasil kerja keras by insuara

Orang lain tampak punya banyak uang, bukan berarti kita berhak meminjam uang seenak hati. Banyak orang mendapatkan uang dengan pengorbanan lho. Mulai dari kurang tidur, banyak menolak hangout bareng teman-teman, kurang istirahat, kurang hiburan, bahkan sampai mengorbankan kebersamaan dengan anak dan keluarga.

Tidak masalah jika peminjam uang sama-sama pekerja keras yang memang terdesak. Namun, biasanya orang jenis pekerja keras akan memiliki empati dan kemungkinan mengembalikan pinjaman dengan amanah saat mereka berhutang.
Kebanyakan orang meminjam uang menganggap uang yang dimiliki orang lain hasil keberuntungan semata. Padahal semua itu hasil usaha yang besar. Mungkin dengan etos kerja yang di atas rata-rata. Jam kerja yang panjang dan tenaga yang dimaksimalkan.

Orang punya uang lebih karena merelakan diri tidak membeli barang-barang yang ia inginkan. Mereka mengalihkannya untuk menambah modal dan bukan mebeli barang konsumtif.
Akan sangat tidak etis bagi peminjam uang yang etos kerjanya rendah, konsumtif, senang memanjakan diri, dan berleha-leha. Saat berhutang ia merasa tidak perlu tepat waktu atau tidak berniat mengembalikan hutangnya. Hanya karena melihat si pemberi hutang punya uang lebih banyak. Entah apa yang merasukimu? Hai hai…
5. Hutang Merusak Hubungan dan Kehormatan


Hutang yang dibayar dengan amanah mungkin tidak masuk poin ini. Tapi, bagi para penghutang yang tidak profesional seperti saya sebutkan sebelumnya, tentu merusak hubungan pertemanan dan kehormatan dirinya.
Ilustrasinya begini. Awalnya orang meminjamkan uang dengan sejumlah kepercayaan. Ada rasa kasih sayang di dalamnya kepada orang yang meminjam uang. Apalagi jika si peminjam tampak sangat membutuhkan.
Apa yang terjadi saat Anda tidak membayar hutang pada waktunya tanpa ada pemberitahuan? Mungkin pemberi pinjaman awalnya menganggap Anda masih tidak punya uang untuk membayarnya. Tapi, jika Anda sama sekali tidak memberi kabar, tidak melakukan konfirmasi, orang akan mulai bertanya-tanya mengenai profesionalitas Anda. Ya, profesionalitas sebagai teman, rekan kerja, atau keluarga. 
Hal ini akan diperparah jika Anda nampak punya uang untuk bersenang-senang. Mungkin tampak punya baju baru, makan di restoran mahal, dan sebagainya. Di sini orang akan mulai berprasangka buruk pada Anda.
Jangan-jangan Anda biasa meminjam uang dan tidak pernah mengembalikan. Rasa tidak nyaman menagih uang juga membuat hubungan jadi canggung.
Jika itu menjadi kebiasaan, tidak menutup kemungkinan Anda menjadi bahan pembicaraan di antara teman-teman Anda. Apalagi jika Anda berhutang lebih dari satu kali kepada lebih dari satu orang.
Ingat, imej peminjam uang tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang kekurangan secara ekonomi lho. Bahkan punya poin tambahan, yaitu jika sering tidak profesional dalam berhutang, Anda punya kesan sebagai orang yang boros, ingkar janji, dan hal tercela lainnya lho. Jadi, masih mau sengaja menerlambatkan hutang?