Curhat, Parenting, Perempuan

Bijak Menyikapi Komentar Orang Selama Pengasuhan Bayi

“Lho, Bu.. kok anaknya nggak dipakein topi. Nanti masuk angin”
“Dedeknya digendong terus bu.. Nanti capek lho.”
“Kok pake popok diapers terus. Apa nggak boros?”
“Anaknya dititipkan ke daycare, apa nggak kasihan Bu?”
dan lain sebagainya. 
Bunda pasti sudah hafal betul ya, dengan berbagai situasi lingkungan saat punya bayi baru lahir. Bahkan hingga anak tumbuh besar. Bagi bunda yang belum mengalami, mungkin coretan ini sedikit banyak bisa menjadi gambaran supaya tidak kaget.
minimalisir komentar ya.. (by Liputan6.com
Tidak sampai di situ, berbagai komentar orang sebenarnya akan terus berlanjut hingga bayi kita beranjak besar dan menjadi anak-anak. Bahkan mungkin hingga mereka remaja dan dewasa. Selalu ada saja bahan komentar buat orang-orang sekitar kita.
Namun, pertanyaannya, apakah kita akan selalu terganggu dengan sikap orang-orang? Tentu saja kita ingin menjalani pengasuhan anak kita dengan tenang ya.
Membuat orang diam tentu rasanya tidak mungkin. Kalaupun kita memilih membalas komentar orang dengan tajam supaya mereka kapok berkomentar, nanti malah yang tadinya berani komenntar jadinya malah bicara di belakang.
Idih, dibilangin baik-baik malah nyolot. Emang ya, ibunya songong banget” Hehe yang tadinya hanya anak yang dikomentari, sekarang merembet ke ibunya. Kalau si komentator menggunjing si ibu ke orang banyak, tambah repot jadinya. Paham kan ya Bun .. kebanyakan kaum hawa tuh suka nggak tahan kalau ga curcol. Ada yang dirasa dikit maunya ngasih tau tau ke orang-orang.
Selain itu, kalau satu orang berhenti komentar, nanti juga ada orang lainnya. Mati satu tumbuh seribu deh.
Pastinya kita tidak ingin komentar-komentar orang mengusik proses kita dalam mengasuh anak-anak kita.
Tidak Semua Komentator Berniat Usil, Ada Banyak yang Didasari Rasa Peduli
komentar bisa atas dasar peduli
Seperti ucapan tetangga saya saat melihat saya menggendong bayi tanpa dipakaikan kethu atau topi bayi. Saya kebetulan dalam kondisi happy sih. Saya melihat betul bahwa tetangga saya itu bertujuan perhatian dan peduli.
Komentarnya pun terasa hangat walau sebenarnya ada sedikit. Ya sedikit mengganggu karena saya dikomentari di depan banyak orang.
Banyak komentar yang dilontarkan tetangga, teman, anggota keluarga, yang sebenarnya berniat peduli. Namun mungkin disampaikan dengan cara yang kurang tepat atau di saat yang tidak tepat.
Kita tidak bisa memaksa orang untuk mengetahui persis apa yang kita inginkan. Mereka pun tidak tahu apa yang sedang kita rasakan, baik oleh tubuh yang pegal-pegal, kondisi fisik yang mungkin belum pulih pasca melahirkan, kondisi mental dan sebagainya.
Dengan melihat orang lain sebagai sosok yang “tidak tahu” dan berprasangka baik pada mereka, maka kita tidak akan mudah emosi dan terganggu oleh komentar mereka. Jika tidak sepenuhnya mengobati, ya setidaknya bisa mengurangi gangguan mereka.
Jika potensi komentar mereka membuat kita sedih dan uring-uringan sepanjang hari, ya setidaknya diperpendek jadi uring-uringan satu atau dua jam lah. Kira-kira begitu. Karena manusiawi sekali jika kita terusik oleh komentar yang tidak sreg dengan situasi kita. Walaupun niat orang lain adalah bentuk perhatian dan kepedulian.
Menghadapi Orang yang Usil dan Tidak Sopan
Tidak dipungkiri, orang yang tidak punya etika itu ada. Bukan hanya etika, tapi sepertinya niatnya pun tidak baik.
Pernah memang, ada tetangga yang entah dapat ilham dari mana, bertanya gimana rasanya melahirkan tanpa didampingi orang tua. Tentu dengan nada intogasi dan sangat tidak pas. Persis saat baru pulang dari Rumah Sakit. Padahal misalnya, kita benar-benar dalam kondisi sedih karena ingin sekali ada orang tua kandung khususnya ibu menemani saat melahirkan atau baru saja melahirkan bayi kita. Kondisi fisik juga masih lemah dan sakit.
Tentu jenis komentar dan jenis orang demikian sangat mengganggu. Tapi, kita perlu menyadari bahwa keberadaan mereka memang tidak bisa dihindari. Mereka memang ada.
Orang-orang yang kurang empati dan memiliki niat kurang baik juga ada. Tapi, perlu disadari bahwa setiap apa yang dilakukan manusia selalu berlaku hukum alam menyertainya.
Artinya, apa yang menjadi niat dan perbuatan setiap orang itu ada balasannya sendiri. Bukan saya mengajak untuk dendam, namun sangat logis dan jadi hal lumrah bahwa itu benar adanya.
Orang yang mengomentari kita dengan cara mengganggu, tidak menutup kemungkinan dia adalah orang yang tidak disukai banyak orang. Karena itu, dia pun memperoleh komentar pahit pula dari orang lain, dalam persoalan yang sama atau beda situasi. 
Intinya, orang yang tidak beretika dan jahat, ya memang orangnya begitu. Ada sebab akibat yang mengelilingi dirinya. Malah biasanya orang-orang sudah banyak yang memaklumi. “Sudahlah, dia orangnya memang begitu. Nggak usah didengerin.” Ada dukungan sosial dari sekeliling kita. Cukup melegakan, bukan?
Belajar Menyaring yang Bermanfaat dan Merelakan yang Tidak Berfaedah
Komentar orang banyak jenisnya. Ada yang memang kebetulan ucapan mereka benar dan memang bisa kita jadikan bahan perbaikan. Baik tentang cara mengasuh, merawat dan menjaga anak kita. Ada juga yang hanya mengganggu dan tidak ada faedahnya. Bahkan ada pula yang menjatuhkan mental kita.
Selama komenntar orang itu benar, maka anggap saja sebagai masukan gratis yang akan menambah ilmu kita dalam menjaga dan merawat anak.
Jika terus menerus memakaikan diapers memang dirasa menyita biaya, anggap saja komentar orang sebagai masukan bagi kita untuk lebih hemat. Jika memang orang berkomentar bahwa tidak baik membawa anak naik motor tanpa memakaikan masker dirasa benar, maka buang ego dan lakukan demi kebaikan anak kita juga.
Beda halnya jika orang mengomentari kenapa anaknya dititipkan ke daycare sementara Bunda memang ibu pekerja. Tidak ada orang yang mengasuh di rumah. Itu berbeda. Jelas komentar seperti ini layak diabaikan.
Ada pilihan cara pengasuhan yang hanya kita yang tahu latar belakangnya. Pilihan terbaik yang sudah kita sepakati dengan pasangan atau keluarga. Maka, komentar orang bisa kita anggap angin lalu saja.
Komentar demikian banyak latarbelakang nya juga. Bisa karena orang yang bersangkutan tidak mengetahui kondisi kita. Bisa juga orang tersebut memang beda mindset saja.
Selama orang-orang tipe tersebut kita sikapi dengan baik dan sopan, mereka pun akan mengerti dengan sendirinya.
Ya, bisa jadi komentar tidak berfaedah memang tidak selalu muncul dari mereka yang bermaksud nyinyir. Tapi karena tidak tahu, kesalahan bicara, khilaf atau apapun itu. Jadi, sangat tepat jika sikap yang kita pilih adalah memaklumi, memaafkan, dan merelakan yang telah terucap dari lisan mereka.
Begitu pula terhadap orang yang memang secara gamblang menjatuhkan. Secara ya, jelas sangat merusak kondisi kita. Semisal menghakimi bahwa kita tidak mampu menjaga anak. Tentu itu komentar yang sangat tajam dan menyakitkan ya Bun.
Namun, walau sakit, jika kita sadari bahwa itu benar, setidaknya bisa menjadi cambuk dan pil pahit supaya kita lebih baik lagi. Jika mereka tidak benar dan kita sudah melakukan yang terbaik, maka jangan lupa ya Bun.. Setiap ucapan, sikap semua selalu ada timbal baliknya.
Setiap kesalahan, kalau kata seorang guru agama, selalu ada pembersihannya. Menyakiti, pasti akan disakiti. Menggunjing pasti akan digunjing lagi. Mencaci maki maka tak heran akan dicaci maki pula.
Mempercayai bahwa setiap apa yang kita alami adalah ladang pahala untuk bersabar, merupakan obat penenang yang sangat ampuh. Allah selalu mengawasi, maha teliti perhitungannya. Jadi, masih tidak terima dengan komentar orang lain yang menyakitkan?
Jangan Salah, Mereka yang Menggurui Belum Tentu Lebih Baik
Jangan heran, kalau ada yang mencibir orang lain bahwa orang tidak mampu mengasuh anak, biasanya ia pun kurang lebih sama atau malah lebih buruk.
Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak. Begitu istilahnya.
Kekurangan yang dijadikan bahan cercaan mungkin tidak selalu sama dengan kekurangan yang ia miliki. Jika ia mencerca bahwa kita tidak pandai menyuapi makanan kepada anak, bisa jadi ia pandai dalam hal itu. Tapi dia mungkin malah tak mampu menjaga kesehatan anaknya sendiri. Malah lebih berbahaya dong. 
Nah, dengan coretan kali ini semoga bisa jadi bahan sharing kita supaya lebih lapang dada dalam menampung semua sikap orang lain. Semoga bermanfaat.