Percaya atau tidak, kondisi tententu bisa menjadi alasan perempuan harus mempertahankan pekerjaannya setelah menikah. Eh, atau justru ini lumrah ya? Wkwk…

Gini, teman-teman. Biar tidak miskomunikasi, saya sedikit jelaskan latar belakang mengapa saya menulis ini. Sebenarnya, bagi sebagian orang, perempuan mempertahankan pekerjaan setelah menikah adalah hal yang wajar. Wong, itu kan hak dia. Hak setiap orang tanpa mengenal gender.

Namun, bagi saya yang sejak kecil tinggal di lingkungan cukup bias gender, perempuan menikah pasti merasa tidak nyaman jika tetap keukeuh bekerja. Saya yakin sih, tidak hanya saya yang punya anggapan demikian.

Masih banyak perempuan merasa bersalah jika harus terus meniti karir setelah menikah. Entah merasa bersalah kepada anak, kepada suami, bahkan tidak enak kepada mertua, takut dianggap bukan menantu ideal. Ya, kita tahu, di lingkungan masyarakat kita masih saja ada anggapan istri ideal itu yang ngurus rumah secara total.

Nah, bagi saya yang punya lingkungan belum 100% pro perempuan, termasuk pembaca yang mungkin merasakan hal yang sama, rasanya perlu sekali mengetahui dan mengkaji bahwa ada alasan bagi perempuan untuk mempertahankan pekerjaan meski telah berumah tangga.

Alasan kuat ini harus kita pahami dan menjadi penguat keputusan kita. Ingat, bahwa setiap orang dalam berumah tangga berhak merasa bahagia, merasa nyaman, tenang dan aman. Betul apa betul?

Siapa Menguasai Ekonomi, Dialah yang Berkuasa

Berbicara soal karir setelah berumah tangga, identik dengan ekonomi keluarga. Teori sosial pada umumnya menyebutkan bahwa ekonomi selalu berkaitan dengan kekuasaan. Artinya, siapa yang memegang kendali dalam ekonomi atau harta, pasti dapat menguasai sesama manusia lainnya.

Kasus sempitnya terjadi dalam rumah tangga. Siapa yang merupakan tulang punggung keluarga atau pihak yang menghasilkan uang, maka dialah yang berkuasa.

Tidak heran apabila sejak lama dan sudah menjadi rahasia umum “istri selalu di bawah” dalam segi kekuasaan. Itu sebenarnya kasus umum dan lebih banyak terjadi.

Suami yang notabene merupakan pihak yang biasanya bekerja menghasilkan income untuk keluarga, seolah menjadi penguasa di rumah. Titel sebagai pencari nafkah seolah menjadi “tiket” untuk mendapatkan pelayanan total dari istri.

Tidak jarang saya mendengar laki-laki mengancam ini itu jika istri tidak menuruti perkataannya. Seenaknya menyuruh ini itu dengan perasaan berkuasa karena telah bekerja mendapatkan penghasilan.

Saya kita teori sosial ekonomi ini sudah bisa dirasakan secara kongkrit oleh siapapun. Dalam rumah tangga juga sudah menjadi hal lumrah. Bukan soal agama yang menyematkan suami sebagai pemimpin, namun kekuasaan harta seringkali berpengaruh terhadap ego, sehingga penobatan suami sebagai pemimpin justru menjadi jalan kekerasan fisik maupun psikis terhadap perempuan.

Jika sudah demikian, perempuan seharusnya tidak lagi berdiam diri, kan? Sebenarnya, dalam literatur agama pun kita tidak akan menemukan ketentuan perempuan harus mengerjakan ini atau itu. Kita bebas memilih, hanya kepentingan dan ego lah yang membatasinya.

5 Alasan Penting Perempuan Harus Mempertahankan Pekerjaan Setelah Menikah

Nah, berikut ini beberapa kasus yang saya anggap darurat bagi perempuan menikah untuk memiliki pekerjaan atau mempertahankannya, jika sejak masih single sudah bekerja.

1. Lingkungan yang Tidak Kondusif untuk Mental Istri

Perempuan yang sebelumnya sudah bekerja sejak sebelum menikah, sebaiknya menimbang-nimbang keputusan untuk berhenti bekerja. Dan, untuk mereka yang belum bekerja, mungkin ini juga bisa jadi dorongan untuk mulai memikirkan alternatif pekerjaan maupun memiliki income dari hasil usaha sendiri.

Pasalnya, situasi rumah tangga harus kita kenali terlebih dahulu apakah lingkungannya baik atau justru bisa mengancam kesehatan mental.

Ada perempuan menikah kemudian menjelang hari pernikahan ia memutuskan resign dari kantor. Alasannya karena suami sudah memiliki rumah dan pekerjaan tetap. Ia merasa sangat siap untuk hidup sebagai ibu rumah tangga murni. Namun, ternyata ia harus tinggal bersama mertua sementara setiap hari suami pergi ke kantor.

Awalnya ketidakcocokan dengan mertua dia anggap sebagai awal yang wajar dalam setiap hubungan. Namun setelah bertahun-tahun ia tidak menemukan kecocokan dengan ibu mertua. Hubungan dengan suami pun terancam retak karena kondisi mental istri yang kurang baik. Ya, saya memaklumi sulitnya menjadi orang yang sehat secara mental ketika hidup dalam konflik berkepanjangan.

Kadangkala kita dengan mudah menyimpulkan bahwa “mungkin orangnya memang bermasalah kali.. entah si istri atau mertua”. Apapun itu, saya yakin bahwa solusinya adalah ada pergantian aktivitas dan memiliki lingkungan harian di luar rumah. Adanya lingkungan lain selain rumah, setidaknya dapat mengurangi konflik berkepanjangan. Seringkali kita bisa merasa lebih baik dengan memiliki teman curhat, melihat sesama yang juga punya problem, atau bisa jadi memperoleh solusi dari kenalan kita yang lebih dewasa.

Selain itu, pergantian rutinitas dapat membuat kita tidak hanya fokus di satu persoalan saja. Apalgi jika ditambah dengan memiliki penghasilan pribadi, tentunya lebih memiliki rasa percaya diri serta waktu untuk memanjakan diri.

Selain mengurangi kesuntukan dari problem rumah, siapa tahu lambat laun persoalan ikut menguap seiring waktu. Saya termasuk orang yang percaya bahwa jika hati bahagia serta memiliki rasa berharga, maka problem sosial dapat teratasi.

2. Tidak Mendapatkan Nafkah yang Layak

Suami dibebani kewajiban mencari nafkah. Namun, apakah semua menjalaninya dengan baik? Saya ataupun bunda pasti sering menyaksikan beberapa istri yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan dalam hal nafkah.

Ada lho mereka yang tidak diberikan nafkah oleh suami. Bukan karena suami tidak mampu, tetapi karena memang sang suami tidak memiliki kesadaran akan kewajibannya. Istri yang mengabdikan seluruh waktu untuk anak dan suami justru tidak dianggap dan dihargai.

Salah satunya terjadi kepada tetangga saya. Jangankan suami mau memberikan kebutuhan hiburan untuk istrinya, bahkan untuk belanja sehari-hari pun tidak. Sampai-sampai untuk bumbu dapur saja harus meminta kepada ibu. Padahal bisnis suami termasuk maju dan memiliki penghasilan cukup banyak.

Ada pula suami yang memang memberikan uang nafkah, namun setiap rupiah yang diberikan kepada istri dihitung sebagai nilai yang harus ditebus. Suaminya tidak menyadari pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan istri di rumah sebenarnya sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk mendapatkan bagian dari penghasilan suami.

Jadi, setiap kali memberikan nafkah, suami langsung minta diganti dengan sebuah jasa. Semisal setelah memberikan uang, langsung minta dipijit, tiba-tiba menyuruh melakukan ini itu semaunya.

Jika mengalami hal seperti ini, atau kurang lebih mirip, sebagai manusia biasa tentu tidak akan nyaman dan bahagia. Kalau sudah begini, maka tidak salah jika istri sebaiknya mempertimbangkan untuk memiliki penghasilan sendiri.

Ingat bahwa manusia itu setara, dan tidak bisa dibedakan derajatnya hanya karena salah satu pihak memiliki kendali dan kekuasaan ekonomi dalam keluarga. Budaya dan agama pun tidak membenarkan kondisi semacam itu, kan Bun.

3. Mengalami Kekerasan Fisik Maupun Psikis

Nah, ini malah lebih urgen. Banyak lho kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami kaum perempuan. Baik itu berupa fisik maupun psikis.

Memang dalam setiap hubungan pasti ada saja konflik. Namun apabila laki-laki mudah melayangkan tangan kepada istri, melakukan kekerasan fisik, sudah selayaknya istri memiliki dunia lain di luar rumah.

Setidaknya dia tidak terkurung dalam lingkungan yang memberikan luka, ada tempat untuk mengalihkan perhatian dan pikiran. Selain itu, kondisinya akan lebih terbuka ke dunia luar yang secara langsung bisa memperoleh perlindungan dari lingkungan sosial.

Bukan hanya fisik, kekerasan psikis pun kerap dialami oleh perempuan. Alasan terbesarnya karena kurangnya pemahaman suami tentang hak perempuan dalam rumah tangga, memiliki ego yang tinggi, hingga kurangnya pemahaman agama, dan lain-lain.

Tanpa bekal agama yang baik, orang dapat membeli segala hal termasuk kemerdekaan dan harga diri orang lain. Begitu pula suami yang merasa berkuasa karena ia yang mencari nafkah dapat memperlakukan istri dengan sekehendak hati.

Saya malah pernah mendengar seorang suami menasehati adik perempuannya agar tidak bekerja. Alsannya, dengan bekerja, perempuan tidak mampu melayani suaminya dengan baik. Katanya, ini menjadi sebab suami berpindah ke lain hati.

Sedemikian menyulitkannya bagi perempuan. Sebagai pemilik kuasa ekonomi, tentu bukan sikap bijaksana jika tugas pelayanan selalu dibebankan kepada perempuan. Rumah tangga tidak akan bahagia jika berat sebelah. Yang satu raja, yang satunya pelayan karena tidak memiliki kemampuan menghasilkan uang.

4. Penghasilan Suami Tidak Mencukupi Kebutuhan Keluarga

Alasan yang satu ini sudah tidak asing lagi. Mungkin alasan ini tidak sedrama alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya. Setidaknya, tidak terlalu menindas harga diri dan emosi.

Mengapa? Jika suami memang tidak mampu secara ekonomi, istri punya alasan kuat dan jelas untuk bekerja. Suami dan lingkungan mungkin mendukung secara terbuka.

Jika tenaga dan kreativitas suami sudah dicurahkan namun ternyata masih tidak memenuhi kebutuhan hidup keluarga, biasanya istri ikut membantu dengan bekerja. Pekerjaan tersebut apakah dengan ngantor atau memang mencoba membuka usaha.

Meskipun saya mengakui juga banyak perempuan merasa sedih dan tidak bahagia jika suami kurang pandai mencari nafkah. Mana istri harus mengurus anak dan rumah tangga pula. Yang sabar ya, Bun…

Namun, kabar baiknya itu tadi, alasan untuk bekerja lebih jelas. Bunda tidak perlu lagi mencari cara untuk bisa “lari” dari kondisi rumah tangga. Alasaanya jelas, karena memang keluarga butuh sokongan keuangan.

5. Perempuan yang Punya Passion dalam Karirnya

Alasan terakhir, mengapa perempuan harus mempertahankan pekerjaan setelah berumah tangga adalah jika pekerjaan merupakan sebuah passion.

Ini banyak terjadi dan saya juga merasakannya. Misalnya saya sangat mencintai blog. Jika tidak ngeblog, maka saya merasa tidak bahagia da nada yang hampa. Kondisi rumah tangga pun kena imbasnya.

Apakah Bunda termasuk yang ini? Kalau ya, berarti memang harus mempertahankan pekerjaan yang Bunda miliki. Tentunya dengan catatan hal ini dapat berdamai dengan pasangan dan keluarga.

Saat ini, tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa jika istri bekerja maka pengasuhan anak jadi terganggu atau rumah tangga jadi berantakan. Jika memang ada keinginan pasti ada solusinya.

Sebagai contoh kongkrit, saya mau sedikit bercerita lagi. Saya punya dosen perempuan yang memang secara pribadi sangat mencintai profesinya. Ia senang dengan ilmu pengetahuan dan pokoknya mencintai bidang pekerjaannya.

Suatu hari, ia mendapatkan kesempatan langka melakukan riset di Australia selama 2 bulan. Tetapi saat itu, ia memiliki bayi. Ia pun seperti biasa menaruh surat tawaran riset tersebut di meja suaminya. Niatnya hanya memberitahukan saja, tanpa berharap suaminya memberikan izin. Meskipun demikian, jiwanya yang menyukai profesi itu, dalam hati kecil tetap terselip harapan. Ternyata tanpa ia duga, suami mengizinkan.

Mungkin kita berkomentar, “Kok bisa diizinkan?” Hal ini karena suami yang sama-sama berpendidikan tinggi baik dalam agama maupun mapan dalam persoalan isu gender, memahami betul bahwa kewajiban menjaga anak-anak dan rumah tangga bukanlah kewajiban istri semata. Suami pun punya tugas yang sama.

Suami Bu Dosen itu mengatakan alasan mengizinkan karena kesempatan riset itu sangat jarang dan ini rejeki langka untuk istrinya. Akan sangat dzolim jika ia menghalangi istri dari hal yang disukainya. Wah so sweet deh…

Dari Bu Dosen dan suaminya ini saya menyadari bahwa setiap orang punya solusi untuk pola rumah tangga seperti apapun. Selama kedua belah pihak saling mengerti dan memahami, pasti selalu ada jalan keluar.

Sebaliknya, jika tidak ada keinginan untuk mendukung istri, suami cenderung membebani istri dengan mengancam hal buruk jika terus bekerja. Sebaliknya, jika kedua belah pihak suami istri saling mendukung, pasti ada jalan keluar untuk kebaikan bersama. Tidak ada pihak mana yang berkuasa mana yang lemah kekuasaannya.

Penutup

Sejatinya, perempuan yang sudah menikah layak mempertahankan pekerjaannya, atau untuk yang tidak bekerja berhak memperjuangkan keinginan untuk bekerja.

Terlebih lagi, jika dalam pernikahan terdapat kondisi-kondisi seperti di atas. Itu sangat lebih dari cukup untuk menjadi alasan perempuan harus mempertahankan pekerjaan setelah menikah.

Berita sebelumyaKeren Itu, Menjadi Ibu Rumah Tangga Tanpa Paksaan
Berita berikutnyaPeran Karir Bagi Perempuan Menikah, Bukan Hanya Soal Ekonomi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here