Curhat, Ibu Rumah Tangga, Perempuan

Alasan Perempuan Bahagia Menjadi Ibu Rumah Tangga Tulen

Hai Bunda-bunda pejuang keluarga. Apapun peran Bunda, selama itu terbaik untuk keluarga, tetap mulia tentunya.
Nah, kali ini saya ingin menulis dari sudut pandang Ibu Rumah Tangga (IRT) lagi. Khususnya mengenai alasan mengapa sih pilihan menjadi IRT menjadi hal yang membahagiakan bagi seorang perempuan yang telah menikah?

happy woman by Pixabay

Dan… buat para ayah, mungkin topik kali ini bisa menjadi acuan supaya sang istri sekaligus ibu dari anak-anak bisa betah menjalani perannya di rumah. Apa sajakah itu?

Kebutuhan Hidup Terpenuhi
Ada seorang penceramah berkata, “istri itu.. yang penting lemarinya isinya komplit dan kulkas penuh. Sudah. Mereka pasti betah di rumah.”

kulkas penuh by beres.id

Sepertinya hal itu betul juga ya Bun. Kalau dapur dijamin selalu ngebul, mau makan apa, kebanyakan hampir selalu terpenuhi, mau tampil menarik dengan busana terpenuhi, auto istri tidak ragu memutuskan untuk menjalani peran di rumah sepenuh hati.

Jangan sampai dong, para ayah membatasi gerak para Bunda, misal melarang bekerja namun tidak punya jaminan kecukupan materi di rumah.
Hubungan yang Harmonis
Hubungan harmonis di keluarga mencakup relasi dengan suami, mertua, dan anggota keluarga besar secara keseluruhan.

hubungan harmonis dengan suami by Pixabay

Jika hubungan dengan pasangan menyenangkan, rukun dengan mertua, atau orang-orang yang tinggal serumah, tentu istri jadi betah di rumah.

Secara, beban para bunda di rumah itu banyak lho. Jika ditambah konflik dengan suami atau anggota keluarga lainnya, tentu menjalani peran sebagai istri dan ibu menjadi terganggu. Bahkan seringkali memicu stres hingga gangguan mental.
Kenyang Pengalaman Doubel Peran, Pernah Bekerja Sekaligus Jadi IRT
Poin ini juga bisa menjadi latar belakang mengapa seorang perempuan senang menjalani peran sebagai IRT.
Adanya pengalaman doubel peran sebagai ibu pekerja sekaligus IRT membuatnya merasa lebih lega dengan resign dari kantor. Khususnya para wanita yang dengan menjalani dua peran itu merasa sangat kelelahan hingga frustasi.
Pengalaman rasa capek dan mungkin kesulitan mengatur peran, akhirnya membuat mereka yang memilih hanya menjadi IRT saja merasa lebih fokus dalam perannya.
Nah, beban yang ia rasakan lebih ringan dan lebih fokus ini membuatnya merasa lebih bahagia dan mensyukuri kondisinya saat ini.
Tentu bukan berarti yang tetap bersikeras menjalani doubel peran tidak bahagia ya Bun.. kita ambil sudut pandang mereka yang secara sukarela memilih resign tanpa paksaan ya. Semoga para bunda tidak salah memahami.
Memiliki Ilmu Agama yang Baik
Ilmu agama memiliki peran penting bagi kemantapan hati para wanita dalam menjalani peran sebagai IRT. Jika dengan menjadi IRT dapat menambah keharmonisan dengan pasangan, dapat menjadi ibu yang baik, tentu dalam agama, memiliki pahala yang luar biasa besar.
Kebanyakan, yang saya tahu, suami atau kaum pria lebih senang jika istrinya hanya menjalani peran sebagai istri dan ibu saja. Jika suami bunda termasuk yang demikian, otomatis peran sebagai IRT menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi bunda.
Ingat pula, bukan berarti kaum perempuan yang berkarir tidak lebih mulia dari para IRT dong. Semuanya kembali kepada niat, kondisi, dan perjuangan masing-masing perempuan. Dan lagi, poin ini semoga tidak menjadi salah paham ya Bunda..
Mendapat Dukungan dari Lingkungan
Tidak diragukan lagi, banyak orang atau lingkungan yang memberikan statemen negatif bagi para IRT. Entah dianggap kurang pinter, kurang wawasan, atau mungkin dianggap malas. Padahal, tugas IRT kita tahu tidak ada habisnya lho. Selain itu, sebagai IRT bahkan banyak perempuan yang justru lebih sukses entah dari segi kemandirian secara finansial, atau peran sosial.
Jika lingkungan mendukung dan memiliki toleransi bahkan dukungan yang baik bagi perempuan yang menjadi IRT, tentu para bunda yang menjalaninya merasa nyaman. Tidak terganggu oleh lingkungan yang sedikit banyak mengusik pendirian untuk menjadi IRT tulen.
Dukungan dari lingkungan juga bisa kita usahakan lho… Salah satunya dengan banyak bergaul dengan sesama IRT. Sehingga topik pembicaraan pun akan nyambung. Bunda tidak akan terusik dengan cerita semisal karyawan perempuan yang mendapatkan penghargaan sebagai karyawan terbaik, prestasi kerja, karya sesama perempuan lain dalam karirnya, atau cerita-cerita menarik dan asik di lingkungan kerja.
Dukungan dari lingkungan juga didapat dari keluarga. Semisal tidak menuntut pendapatan mandiri dari istri, tidak menuntut harus bekerja, dan apresiasi terhadap peran perempuan sebagai IRT. Intinya, peran sebagai IRT tidak dipandang sebelah mata oleh lingkungan sosial maupun keluarga.
Percaya Akan Kesetiaan Suami
Tidak dipungkiri, poin ini juga sangat penting. Jika kesetiaan suami membuat istri ragu, maka istri pun tidak ingin mengambil resiko untuk total mengurus keluarga.
Bagaimana akan tenang menjalani peran sebagai istri yang kemungkinan besar non-income jika khawatir esok atau lusa suami akan menduakan cinta. Ahay… ngeri.
Sikap dan perilaku suami yang setia dapat menjadi poin yang melengkapi kemantapan hati para istri untuk menjadi IRT tulen. Selain mentap menjalani peran, rasa tenang dan percaya juga menambah rasa bahagia dalam kesehariannya.

setia kaya kumbang ini..

Bahagia dengan perkembangan anak dari hari ke hari, dapat menikmati memeluk buah hati setiap saat, dapat bersama dengan suami dalam kondisi yang prima dan memberikan pelayanan optimal, menjadi hal-hal membahagiakan bagi IRT tulen jika memiliki poin-poin di atas.

So, Bunda yang memilih menjadi IRT tulen, apakah poin-poin di atas sudah bunda miliki dan dapatkan?